Posted in College Life, Experience

[Hampir] Satu Tahun di Taiwan

Sudah hampir satu tahun sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Taiwan. Sudah dua semester pula saya lalui di kampus ini. Apa saja yang sudah saya lakukan di Taiwan selama ini?

Jalan-jalan

Rasanya selama di Indonesia, saya tidak sesering ini jalan-jalan. Selama di Indonesia, kota yang sudah pernah saya kunjungi bisa dihitung dengan satu tangan (Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar). Bukan berarti saya sudah mengelilingi Taiwan, tapi setidaknya saya sudah pergi ke tempat-tempat yang cukup jauh, bahkan yang membutuhkan kurang lebih 8 jam perjalanan dengan menggunakan kereta api. Masih banyak tempat yang belum sempat saya datangi dan penyebab utamanya adalah kuliah yang nyaris setiap hari dan jumlah presentasi yang harus disiapkan cukup membuat mata capek memandangi layar laptop. Mungkin salah satu faktor pendorong jalan-jalan di Taiwan adalah Taiwan memiliki banyak event yang patut didatangi dan transportasi yang mudah.

Wisata Kuliner

Saya bukan tergolong orang yang senang menjadwalkan kapan akan mencoba makanan baru. Saya tergolong orang yang impulsif dan moody. Kalau saat itu juga saya ingin mencoba makanan baru, maka saya akan pergi mencari makanan baru (tentunya kalau tidak merasa malas untuk bepergian). Selama di Taiwan, seringkali saya sedang lewat di depan rumah makan sesuatu dan akhirnya memutuskan untuk mencoba makanan tersebut walaupun sebagian besar menunya tidak saya mengerti karena biasanya mereka hanya menyediakan menu dalam bahasa mandarin.

Continue reading “[Hampir] Satu Tahun di Taiwan”

Posted in Spill Out

Envy

Envy. Kagum. Iri.

Itulah yang saya rasakan terhadap orang-orang yang sudah memiliki tujuan hidup. Bukan tujuan hidup muluk-muluk seperti nikah di usia 30, kemudian punya anak di usia 50, punya mobil 10 biji, dan seterusnya. Tapi setidaknya memiliki gambaran yang jelas mengenai apa yang akan dilakukan ketika sudah lulus kuliah. Seringkali saya bertemu orang-orang yang tetap setia pada jurusannya dan benar-benar mendalami bidang ilmu tersebut. Misalnya sewaktu S1 mengambil jurusan Teknik Kimia, selanjutnya pada saat S2 kembali lagi mengambil jurusan Teknik Kimia dan benar-benar memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai bidang ilmu tersebut. Saya sendiri kagum pada orang yang bisa bertahan dengan sebuah jurusan dari jenjang S1 hingga ke jenjang S3. Di mata saya, itu berarti mereka benar-benar menyukai jurusan tersebut dan ingin berkontribusi di bidang itu.

Kak aku penasaran deh, kakak kalo selesai MBA nya bakal kemana

Pertanyaan ini cukup membuat saya termenung. Walaupun jari-jemari saya sudah berada di atas keyboard dan siap mengetik, tapi saat membaca pertanyaan tersebut saya tidak bisa memikirkan jawaban yang tepat. Akhirnya saya pun membalas dengan jawaban sejuta umat: “nyari kerja mungkin” sambil memberikan emot tertawa. Well, saya tergolong orang yang susah berpikiran jangka panjang. Saya kurang suka merencanakan segala sesuatu yang masih lama terjadi. Sampai saat ini saya selalu berpegang pada kalimat: “Semua akan selesai pada waktunya”. Dulu ketika saya dihadapkan pada Tugas Akhir, saya tidak punya topik yang spesifik. Semuanya mengawang-awang. Ketika jadwal seminar dan jadwal sidang sudah keluar, barulah saya bersusah-susah ria mengerjakan Tugas Akhir tersebut dan berusaha lulus tepat waktu. Sama halnya ketika mengerjakan Tesis. Lagi-lagi topik yang saya bayangkan agak absurd. Untungnya setelah berkonsultasi dengan pembimbing, topik absurd saya bisa dibuat sedikit nyata dan jadilah saya berkutat dengan Tesis tersebut.

Continue reading “Envy”

Posted in Experience

Seberapa sering kamu jadi bendahara?

Kalau ditanya pertanyaan seperti itu, saya akan menjawab banyak. Sepertinya saya memiliki tampang rentenir atau penagih hutang atau mungkin juga mukanya sangat mencerminkan uang sampai-sampai saya seringkali ditunjuk sebagai bendahara baik secara resmi maupun tidak resmi. Segala sesuatu yang berhubungan dengan uang seringkali diserahkan ke saya.

Semua berawal ketika saya masuk kelas K-06 jaman TPB di ITB. Bisa dibilang kelas ini kelas yang paling kompak di antara semua kelas STEI pada jaman TPB 😛 Saya lupa waktu itu sedang ada acara apa dan butuh mengumpulkan uang dari anak-anak sekelas. Ketua angkatan STEI yang kebetulan juga sekelas dengan saya di K-06 memberikan amanah menunjuk saya untuk mengumpulkan uang tersebut. Berawal dari sana, semua kegiatan yang berhubungan dengan uang di kelas K-06 dialihkan ke saya. Satu-satunya yang saya ingat adalah saya menagih iuran untuk acara perpisahan K-06 di akhir semester 2. Kesannya kalau anak-anak sekelas melihat saya menghampiri mereka atau mulai memanggil mereka, tandanya saya pasti akan menagih 😛

Berlanjut pada tingkat 2. Lagi-lagi saya ditunjuk sebagai bendahara angkatan dengan alasan tidak ada yang bisa mengalahkan saya dalam menagih dan mengurus uang 😐 Jadilah saya bendahara IF+STI angkatan 2007. Saya ingat gara-gara menjadi bendahara angkatan, saya lebih cepat mengenal seluruh nama anak-anak seangkatan. Kewajiban menagih biaya pembuatan jaket angkatan dan jaket himpunan pun membuat saya mau tidak mau harus mengenal seluruh teman seangkatan dan berlanjut dengan SKSD memanggil mereka dan menagih uang 😛

Continue reading “Seberapa sering kamu jadi bendahara?”

Posted in Experience, Happy Writing, Point of View, Spill Out

Nilai Bukan Segalanya

If you get an A- then you should proud. Because in my class, only one person will get A

Awal mendengar kalimat itu, gw pikir gw salah dengar. Tapi ternyata tidak. Ternyata masih ada juga dosen yang tetap menggunakan prinsip distribusi normal untuk pemberian nilai. Prinsip distribusi normal dalam pemberian nilai pernah gw alami di S1 dulu. Mungkin karena pengaruh usia, maka dosen mata kuliah di S1 tersebut tetap berpegang teguh pada prinsip distribusi normal. Masih teringat jelas, pertama kali dosen tersebut masuk dan menjelaskan cara penilaian kuliah tersebut beliau dengan tegas mengatakan pasti selalu ada mahasiswa/i yang tidak lulus di kelasnya dan itu merupakan hal yang wajar jika menggunakan distribusi normal. Gara-gara hal itu makanya gw kurang suka dengan distribusi normal 😦 dan benar saja, ketika nilai akhir keluar, sekitar hmm..mungkin 9-10 orang teman sekelas gw tidak lulus mata kuliah tersebut. Dosen tersebut benar-benar memperhatikan tata cara penulisan jawaban ujian. Harus baku dan sesuai EYD. Tidak boleh menggunakan tip-ex. Bahkan tugasnya pun harus ditulis tangan berlembar-lembar di kertas folio. Katanya, biar tidak ada mahasiswa/i yang saling mencontek 😐

Bagian yang tidak gw sukai dari sistem pendidikan formal ini adalah adanya batasan nilai kelulusan. Padahal nilai sebenarnya tidak menjamin seseorang benar-benar memahami pelajaran tersebut (tapi gw juga termasuk orang yang mementingkan nilai sih). Yah, seperti kata seorang dosen mata kuliah yang sedang gw ambil di sini “how can you expect someone will work hard if they won’t receive anything?”. Karyawan di perusahaan berusaha menyelesaikan pekerjaannya sebaik mungkin karena mereka akan menerima upah setiap bulannya dan bahkan bisa mendapatkan bonus bila pekerjaan mereka sangat bagus. Sama halnya dengan karyawan, rasanya siswa atau mahasiswa tidak akan belajar dengan sungguh-sungguh kalau tidak diberikan nilai. Tentunya para pelajar tidak ingin mendapat nilai jelek sehingga mereka setidaknya akan berusaha belajar untuk mendapatkan nilai bagus. Jadi dapat dikatakan faktor pendorong karyawan bekerja dengan baik adalah upah dan bonus bahkan mungkin promosi, sedangkan faktor pendorong pelajar belajar dengan baik adalah nilai.

Continue reading “Nilai Bukan Segalanya”

Posted in College Life, Experience, Spill Out

Kenapa MBA? Kenapa ga teknik lagi?

Hola!

Kuliah sudah dimulai sejak tanggal 19 September 2012. Setelah merasakan 1 minggu perkuliahan, gw merasa masih perlu melakukan banyak penyesuaian. Kegiatan perkuliahan dimulai pada pukul 08.30 dan berakhir di pukul 22.00. Semester ini gw mengambil 2 mata kuliah yang dimulai pukul 18.25 dan berakhir pukul 21.05. Sejujurnya gw kurang suka dengan kuliah malam karena lebih banyak menguap di kelas 😦 tapi gw juga ga suka kelas yang terlalu pagi 😛

Perbedaan terbesar kondisi perkuliahan di sini dengan di ITB adalah kuliah 3 SKS benar-benar diajarkan 3 jam berturut-turut (dengan kondisi ideal setiap jam terdapat break 10 menit). Begitu sudah lewat 2 jam pertama, rasanya super susah berkonsentrasi dan menahan ngantuk selama 1 jam terakhir 😦 Yah, masih butuh penyesuaian juga sih terutama dengan kondisi kelas dimana terdapat berbagai orang dari berbagai negara.

Mungkin ada yang penasaran mata kuliah seperti apa sih yang gw ambil sekarang 😛 Berikut ini daftar mata kuliah yang gw ambil semester ini:

  1. Seminar: Small Business Management
  2. Social Science Research Methodology
  3. International Business & Innovation Development
  4. Organization Mechanism Theory and Management
  5. Man-Machine System Application
  6. Business Ethics

Continue reading “Kenapa MBA? Kenapa ga teknik lagi?”

Posted in Experience

Akhir Petualangan 5 tahun di ITB

Hola!

Melihat judulnya saja, mungkin isi tulisan kali ini sudah dapat ditebak 😀 Yap! 24 Mei 2012 yang lalu, saya telah menyelesaikan sidang Tesis saya dan dinyatakan “lulus bersyarat” (tampaknya sih tidak ada yang pernah mendapatkan hasil “lulus” tanpa bersyarat). Tesis saya berjudul “Model Penilaian Kapabilitas Proses Organisasi dalam Menerapkan Sistem Informasi Terintegrasi Berbasis SOA dan Arsitektur Multi-tier”. Mungkin suatu saat nanti saya akan membuat tulisan singkat mengenai isi tesis saya tersebut.

Lima tahun lamanya saya berada di Bandung – tepatnya di kampus gajah duduk. Saya masih ingat pertama kali saya datang ke Bandung tahun 2007. Hanya berselang 2 hari setelah saya mendapat pengumuman bahwa saya lulus di ITB, kakak laki-laki saya pun segera mengurus tiket pesawat untuk berangkat ke Bandung. Tak dirasa sekarang saya uda hampir lima tahun di Bandung. Apa yang menyebabkan saya begitu lama? Jawabannya mudah. Saya mengikuti program fasttrack di ITB. Program fasttrack adalah program yang dapat membuat mahasiswa lulus S1 dan S2 dalam 5 tahun saja (irit 1 tahun 😛 ). Juli 2011 saya sudah diwisuda untuk program S1 saya dan akhirnya Juli tahun ini saya kembali akan diwisuda untuk program S2 saya 😀

Kalau ditanya rasanya seperti apa lima tahun berkutat di sekitaran kampus gajah duduk, well, saya akan menjawab: Bosan 😛 Awal-awal tahun pertama saya, saya masih excited. Tapi begitu sudah memasuki tahun keempat, jujur saja saya mulai bosan berkeliaran di kampus. Akhirnya saya pun mulai jarang ke kampus. Ketika sudah menyelesaikan Tugas Akhir, rasanya super bahagia 😀 Rasanya ingin cepat-cepat pergi liburan tapi sayangnya tidak bisa karena harus langsung melanjutkan S2 😦 Dan sekarang ketika Tesis sudah selesai, rasanya ingin keliling dunia – bersantai, main, shopping, dan kegiatan bersenang-senang lainnya. Tapi tampaknya keinginan bersenang-senang tersebut harus ditunda lagi karena harus mempersiapkan ini itu untuk bulan Agustus/September nanti 😦

Bila dibandingkan dengan S1, ntah mengapa saya merasa pelajaran S2 saya lebih banyak memanfaatkan otak kanan. Kreativitas – daya imajinasi – kemampuan mengarang. Mungkin karena di S2, saya sama sekali tidak mendapatkan pelajaran pemrograman dan tidak mendapat tugas yang berkaitan dengan pemrograman. Soal ujian saya kebanyak berkisar pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran sendiri untuk menjawabnya atau kemampuan mengarang – merangkai kata-kata di kepala hingga menjadi jawaban yang memuaskan. Kadangkala ujian diganti dengan membuat paper yang lagi-lagi juga membutuhkan kemampuan merangkai kata-kata 😛

Continue reading “Akhir Petualangan 5 tahun di ITB”

Posted in College Life, Spill Out

Pengalaman Semester 1 2011/2012

Long time no see 😀

*mmm sebenarnya belum lama-lama amat juga sih :P*

Sekarang sudah memasuki semester ke-2 tahun ajaran 2011/2012. Bisa dibilang tahun ke-5 saya di ITB dan juga semester terakhir saya di ITB *mudah-mudahan*. Di semester ke-2 ini saya bertekad dan harus bisa menyelesaikan si 5 huruf menyeramkan itu (baca: TESIS) sehingga bulan Juli nanti bisa wisuda 😀 Sesungguhnya, tesis itu belum saya sentuh lagi sejak terakhir kali dikerjakan pada saat kuliah Metodologi Penelitian di semester 1. Beberapa hal yang terjadi selama semester 1 kemarin akan saya ceritakan 😀

  1. Ikut les vokal di Elfa Music School sejak bulan Oktober 2011. Well, kerasa banget bedanya nyanyi choir klasik dan nyanyi lagu pop.
  2. Bergabung dengan EMS Dago Choir sejak bulan Desember 2011 (atau akhir November yak?). Kembali merasakan bedanya latihan choir klasik dan choir di EMS. Dulu setiap kali latihan choir di PSM ITB selalu akan ada partitur yang kebanyakan not balok. Di EMS bahkan ga ada partitur. Hanya lirik lagu saja yang diberikan dan itupun tanpa nadanya. Kita hanya diperdengarkan lagu aslinya beberapa kali kemudian diaransemen di saat itu juga. Hanya bisa mengandalkan voice recorder handphone biar ga lupa nadanya.
  3. Galau pengambilan sks mata kuliah di semester 1. Awalnya mau ngambil 15 sks biar di semester 2 tinggal 9 sks (FYI, sks yang tersisa hanya 24 sks). Konsultasi sana sini bahkan sampai konsultasi ke dosen wali (hal yang ga pernah saya lakukan ketika di s1), sempat sit-in mata kuliah yang diincer juga dan akhirnya membuahkan hasil hanya mengambil 13 sks. Untung keputusan ini tepat karena tugasnya super banyak 😐
  4. Terlambat 5 menit mengumpulkan UTS Take Home Test sebuah mata kuliah gara-gara printer di Lab. GaIB error (nge-hang, tiba-tiba ga mau nge-print, dsb). Ketika mengumpulkan malah disuruh ketemu dosennya dulu dan ternyata di dalam ruangan dosen malah dimarahi dan setelah dimarahi cukup lama disuruh nulis “Saya berjanji tidak akan terlambat lagi” dan menambahkan tulisan “Terlambat 15 menit” (padahal aslinya cuma terlambat 5 menit :|). FYI, harusnya bukan take home test tapi tiba-tiba jadi take home test dimana besoknya harus langsung dikumpulkan padahal besoknya ada 2 UTS yaitu Paradigma Pemrograman dan Manajemen Proyek. Manajemen Proyek dengan slide beratus-ratus biji yang harus dihafalkan dan take home test ini yang jawabannya banyak banget 😐 Continue reading “Pengalaman Semester 1 2011/2012”