Posted in Experience, Point of View

Kabari saja ya nanti…

Kalau sudah mau berangkat kabari ya, ntar gw jalan juga

Kalimat ini sering mengundang pertanyaan di benak saya. Kalau memang sudah membuat janji untuk bertemu dengan orang lain pada jam tertentu di tempat tertentu, mengapa harus mengeluarkan kalimat “kalau sudah mau berangkat kabari ya”?

Saya sendiri terkadang menggunakan pernyataan tersebut hanya jika saya masih punya urusan yang kemungkinan besar belum beres menjelang waktu yang sudah dijanjikan. Tapi, yang saya sering bingung itu ketika orang-orang beralasan “ah, biar ga nunggu lama” atau “ah, rumah/kosan/tempat gw kan deket dengan tempat ketemuannya, biar ga kecepetan datang.” Apa yang salah dengan datang lebih cepat? Apa yang salah dengan menunggu?

Continue reading “Kabari saja ya nanti…”

Advertisements
Posted in Experience, Point of View, Spill Out

Mengantre Kok Susah?

Sekitar sebulan yang lalu saya sempat pulang ke negeri saya. Ketika menapakkan kaki di bandar udara Soekarno-Hatta, terbersit rasa ingin tahu sudah seberapa baguskah negara tempat kelahiran saya. Tapi tenyata kenyataan selalu tidak seperti yang dibayangkan. Mungkin bayangan saya terlalu bagus. Mungkin harapan saya terlalu tinggi. Mungkin penduduk di negara saya masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berubah. Atau mungkin saya yang sudah cukup lama tinggal di negeri orang yang lebih teratur.

————————————————————————————————————————

Kejadian 1

Suatu hari, saya sempat masuk ke toilet di salah satu mall di Jakarta. Kebetulan semua bilik toilet penuh dan saya orang pertama yang ada di situ. Saya pun mulai berdiri agak jauh dari pintu bilik dan menunggu sampai ada bilik yang kosong. Tak berapa lama kemudian, datanglah satu keluarga (tentunya ibu dan anak perempuannya saja yang masuk). Saya tadinya masih tenang-tenang menunggu tapi ternyata ketika ada salah satu bilik yang terbuka, anak perempuan wanita itu langsung lari memasuki bilik itu. Muka saya langsung masam. Tidak berapa lama kemudian, kakak saya keluar dari salah satu bilik dan dia bertanya dengan muka bingung: “Loh, kenapa belum masuk juga?” Karena saya sudah kesal, lantas saya menjawab dengan suara agak keras: “Gimana mau masuk wong diserobot orang.” Ibu dari wanita itu langsung melihat saya kemudian tertawa mencemooh sambil berkata dengan suara pelan: “diserobot? siapa cepat dia dapatlah”. Ketika mendengar perkataan ibu itu, saya menatap ibu itu dengan tatapan emosi dan akhirnya berjalan keluar mencari toilet di tempat lain.

Kesimpulan: oke, mungkin saya yang sudah terlalu biasa dengan kebiasaan mengantre di negara orang. Saya sudah sering antre berkali-kali demi masuk ke toilet dan antreannya rapi. Tidak ada yang namanya tiba-tiba diserobot masuk toilet 😐

Continue reading “Mengantre Kok Susah?”

Posted in Experience, Happy Writing

Kalau ga bisa/tau, bukan Programmer namanya

Kalau ga bisa bikin game, bukan programmer namanya:

A: Eh, selamat ya sudah lulus. Sudah mulai kerja?

B: Makasih 😀 Iya nih sudah mulai kerja

A: Wah, kerja dimana?

B: Di perusahaan blablabla

A: Ngg.. Itu perusahaan apa?

B: Perusahaan yang jual ini dan itu

A: Hoo.. Trus kerjanya ngapain?

B: Jadi software engineer

A: Apaan tuh?

B: *mencoba menggunakan istilah lebih umum* Programmer

A: Hah?

B: *mencoba menjelaskan dengan lebih sederhana lagi* Kerjanya ngoding di kantor

A: Ngoding? Itu apa lagi?

B: *sambil ngomong sambil mikir gimana menjelaskan sesederhana mungkin* Ngoding itu menulis kode, tujuannya membuat software

A: Oh, programmer itu yang kerjanya bikin game kan?

B: *geleng-geleng dalam hati* programmer bisa bikin game juga, tapi ga harus game, bisa aplikasi yang lain juga

A: Berarti lu bisa bikin game donk?

B: Ya, ga lah kan kerjaan gw bukan bikin game

A: Lu gimana sih katanya kerjanya programmer trus ga bisa bikin game? Bukan programmer donk

B: …………….

Continue reading “Kalau ga bisa/tau, bukan Programmer namanya”

Posted in Happy Writing, Point of View

Teman

Kata orang, teman itu orang yang diajak bermain bersama.
Kata orang, teman itu orang yang diajak bercengkerama bersama.
Kata orang, teman itu bersedia membantu tanpa pamrih.
Kata orang, teman itu ada di kala susah dan senang.

Kata orang, teman yang tetap ada di kala susah adalah teman yang sesungguhnya.
Kata orang, teman tetap ada selamanya sedangkan pacar bisa silih berganti.

Tapi,
Pernahkah kamu berpikir, apakah selama ini kamu punya teman?
Pernahkah kamu berpikir, siapa saja yang bisa kamu sebut sebagai teman?
Pernahkah kamu berpikir, siapakah teman terbaikmu?
Pernahkah kamu berpikir, apakah yang selama ini kamu sebut sebagai teman itu sesuai dengan kata orang?

Ketika dekat karena terlibat di kegiatan yang sama, apakah bisa disebut sebagai teman?
Ketika dekat karena kuliah jurusan yang sama, apakah bisa disebut sebagai teman?
Ketika dekat karena bekerja di tempat yang sama, apakah bisa disebut sebagai teman?

Continue reading “Teman”

Posted in Point of View, Spill Out

Menilai Orang Lain

Everybody loves to judge others

Kalimat tersebut sepertinya berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita baru pertama kali bertemu dengan seseorang, pasti di dalam hati kita akan menduga-duga karakter orang tersebut. Dimulai dari menilai penampilannya lalu cara berbicara dan juga isi pembicaraannya. Misalnya kita bertemu dengan seorang bapak berpenampilan agak lusuh. Pasti secara otomatis kita berpikir bahwa bapak ini pasti bukan orang kaya. Penghasilannya pas-pasan sampai-sampai baju yang ia pakai pun lusuh. Karena penghasilannya pas-pasan, pasti bapak ini bukan orang yang pintar. Tidak mungkin ia lulusan S1 apalagi S2. Padahal, belum tentu apa yang kita duga itu benar.

Mungkin sudah menjadi suatu kebiasaan untuk selalu menilai seseorang dari kesan pertama yang ada tanpa berusaha untuk mengenal lebih lanjut orang tersebut. Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh, saya juga termasuk orang yang seringkali menilai seseorang saat pertama kali bertemu. Malah, saya terkadang menilai seseorang sebelum saya berbicara dengannya. Ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, di dalam hati pasti terbersit perasaan suka atau tidak suka dan saya biasanya mengikuti perasaan tersebut. Jika dari pertama kali bertemu sudah terbersit perasaan kurang suka, maka biasanya saya tidak berusaha lebih lanjut untuk mengenal orang tersebut karena saya merasa pasti pribadi saya tidak akan cocok dengan orang itu. Biasanya kata hati saya cukup tepat, bisa dikatakan 70%-80% selalu tepat. Ada kalanya juga meleset.

Continue reading “Menilai Orang Lain”

Posted in Experience, Happy Writing, Point of View

Cheating

Maybe every student in the world wants to get good grades. Studying becomes one of the options to get it. But in my observation, studying is not that interesting anymore for some students. They prefer easier way to get good grades – cheating. As you know, cheating has turned into a habit.

Maybe I am a conservative person. I don’t like to cheat. I am not saying that I never cheat. I do cheat, but in the past (as I had mentioned here). What I don’t get is: why people can be so proud when they talk about how they cheat? Some people talked very enthusiastically, I can see from their expression – how happy they were because they were successful to get good grades by cheating.

Maybe you could say that this is degradation in our education. Previously, I thought that cheating is only popular for students in elementary school, junior high school, senior high school, and several undergraduate students. But in reality, even graduate students do it. Perhaps, you could find it in postgraduate students too?

Fair. It’s very difficult to implement. Not everything in the world could be done fairly. I know that. But then again, does it mean that you can cheat as much as you can? Why don’t we try to do every single thing in our life with this “fair” concept?

How do you stop this bad habit?

signatureblack

Posted in Happy Writing, Spill Out

I Miss Programming

Yap, sesuai dengan judul cerita kali ini, saya merindukan kegiatan programming alias ngoding. Sungguh sindrom yang aneh. Sejujurnya kemampuan ngoding yang saya miliki biasa-biasa saja. Dulu sewaktu S1 jauh lebih banyak yang lebih “dewa” dari saya dalam hal ngoding. Ada yang super cepat mengerti konsepnya sementara saya membutuhkan waktu lebih lama – mungkin beberapa jam baru mengerti, ada pula yang tiba-tiba kodingannya uda jadi dan jauh lebih efisien dari kodingan yang saya buat, dan berbagai “kedewaan” lainnya. Tapi terlepas dari itu, saya tidak membenci kegiatan ngoding. Saya tidak bisa bilang kalau saya tidak suka dengan ngoding. Menurut saya, ngoding itu selalu memberikan pengalaman baru untuk saya. Selalu memberi sensasi baru.

Teman-teman yang sudah terbiasa ngoding dan stuck selama berjam-jam hingga berhari-hari pasti tau bagaimana rasanya ketika kita berhasil menyelesaikan permasalahan itu. Berbagai hal menarik bisa terjadi di proses ngoding dan debug. Contohnya:

  • Debug berjam-jam dan ternyata hanya kelupaan “titik koma” atau “kurung” rasanya ingin berteriak memarahi diri sendiri karena lupa dengan hal kecil 😛
  • Debug berjam-jam -> tidak menemukan hasilnya -> ketika tidur malah kebawa mimpi dan justru di mimpi itu kita menemukan solusinya. Saya sering mengalami hal yang satu ini. Salah satu contohnya sewaktu mengerjakan Tugas Besar 1 OOP. Ketika deadline menghadang, saya hanya tidur 2-3 jam. Sebelum tidur, saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk debug bagian tertentu dan masih tidak menemukan bug-nya padahal teman sekelompok mengatakan algoritma itu sudah benar. Karena sudah suntuk dan sepertinya otak sudah tidak bisa dipakai berpikir, saya pun memutuskan tidur. Anehnya lagi, saya mimpi mengenai algoritma itu dan akhirnya malah mendapatkan solusinya di dalam mimpi. Ketika terbangun, saya langsung memberitahu teman kelompok saya (yang kebetulan menginap di tempat saya karena deadline itu). Teman kelompok saya yang masih baru bangun dan sepertinya nyawanya belum terkumpul tidak mengerti apa yang saya bicarakan. Akhirnya saya menuju desktop dan segera menuliskan apa yang ada di kepala saya sebelum saya lupa dan voila! ketika dicoba ternyata benar-benar berhasil 😀 😀 😀 Rasanya super senang 😀 Saya yakin teman-teman yang pernah mengalami hal seperti ini tau betapa bahagianya saya.

Continue reading “I Miss Programming”