Posted in Experience, Spill Out

[5] Favorite Season

I spent 22 years lived in a tropical country where you could see sunshine almost everyday and everyday feels like summer. Finally, I get a chance to experience 4 seasons. Therefore, I could answer this question: What is your favorite season?

The answer is…….

WINTER!

And suddenly I remember this phrase:

Brace yourself, winter is coming

When I was a kid, I always wondering if I could experience winter. I love winter scene, be it in a TV series, movie, or even just in anime. Have been experiencing winter in three different countries, my love for winter just grow bigger. Even though it’s cold and I need to wear several layers of clothes, I still love winter. There is something mysterious and magical about winter, especially there is snow. Well, cold morning usually makes me want to curl up in my blanket and sleep the whole day 😛

Continue reading “[5] Favorite Season”

Posted in Experience

New Place, New Journey

Two years ago, I visited this Special Administrative Region for a competition and vacation. Could you guess what my first impression two years ago was? I definitely do not like it. Over populated. Too crowded. Rude people (compare to Taipei). Super-hot (it was summer at that time). I like Taiwan Taipei better than this country. I still remember when I got this question: If you get a job here, would you take it? Of course I said no confidently. There was no way I am going to look for a job in HK.

But, now, I moved to this over populated – too crowded country. It still quite unbelievable for me when I made this decision. Being a peaceful-quiet environment lover, I need an extra effort to survive. So, why did I decide to stay here? Opportunity. Maybe I could grow further, learn much more, and finally have a clear idea for what I want to do in the future.

I feel stuck in Taipei. I still love its ambiance, the lovely MRT and other public transportation, and of course the super convenient 7-11 and Family Mart. But, in terms of work, I got bored. I definitely could do better if only I could speak Chinese fluently. Well, that is also one of my problems. I lived four years in Taiwan yet there is no significant improvement to my Chinese language ability. I fully understand that Chinese is one of the important languages in the world. Surprisingly, after I learned it intensively for 3 months, I do not fond of it. I cannot force myself to keep learning.

Continue reading “New Place, New Journey”

Posted in Experience

Cara Membuat Visa Jepang di Taiwan dengan Status ARC “For Working”

Kali ini saya akan berbagi bagaimana cara membuat visa Jepang di Taiwan bagi rekan-rekan Indonesia yang saat ini bekerja di Taiwan. Bagi para warga negara Indonesia pemegang IC passport/e-passport sesuai standar ICAO (International Civil Aviation Organization) yang sudah pernah melakukan registrasi e-paspor di Kantor Perwakilan Negara Jepang (Kedutaan Besar Jepang/Konsulat Jenderal Jepang/Kantor Konsulat Jepang) di Indonesia tidak perlu membuat visa karena telah mendapatkan bukti registrasi bebas visa Jepang selama 3 tahun. Tetapi, bagi para warga negara Indonesia pemegang paspor biasa (bukan IC/e-paspor) wajib membuat visa Jepang sebelum berangkat.

Dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai syarat untuk membuat visa Jepang dengan status Taiwan ARC “for working” adalah:

  1. Paspor (valid minimal 6 bulan)
  2. Formulir aplikasi visa (bisa diunduh di sini atau bisa diperoleh ketika datang ke kantornya)
  3. Foto (ukuran 2 inch x 2 inch dengan latar belakang putih, maksimal 6 bulan sebelumnya)
  4. Taiwan ARC (valid minimal 1 bulan, asli dan fotokopi kedua sisinya)
  5. Re-entry permit to Taiwan (asli dan fotokopi, kalau ARC-nya memiliki status multiple entry, poin ini diwakili oleh poin nomor 4)
  6. Buku tabungan (asli dan fotokopi, jangan lupa dicetak sampai transaksi yang terbaru)
  7. Jadwal perjalanan (formulir dapat diunduh di sini)
  8. Tiket pesawat (dari dan ke Jepang)
  9. Certificate of Enrollment dari perusahaan tempat bekerja di Taiwan (asli)
  10. Surat undangan (diperlukan jika tujuan ke Jepang bukan untuk liburan, misalnya wawancara kerja)

Continue reading “Cara Membuat Visa Jepang di Taiwan dengan Status ARC “For Working””

Posted in Experience

Ketika muka masih terlihat bocah…

Katanya kalau memiliki ‘baby face’ itu bagus karena terlihat awet muda. Makanya kebanyakan para wanita akan berusaha menjaga penampilan agar tetap terlihat muda. Tapi, mungkin saja ‘baby face’ itu merupakan faktor genetik karena berdasarkan pengamatan saya terhadap teman-teman yang memiliki wajah awet muda, mereka biasanya tidak melakukan perawatan wajah yang spesial alias wajahnya sudah dari sananya seperti itu.

Kali ini saya mau berbagi beberapa kejadian lucu karena muka masih terlihat bocah muda.

Sering dikira anaknya kakak

Di bulan Juli 2014, saya pergi ke mall bersama 2 cici dan 2 ponakan. Kebetulan lagi ada sale jadi cici-cici bersemangat mau cuci mata. Salah satu cici akhirnya tertarik untuk mencoba celana. Ketika si cici masuk ke kamar ganti, “mas-mas” yang lagi jaga tiba-tiba menyodorkan celana yang sama dengan ukuran yang lebih besar ke saya sambil berkata: “Kak, ini ukurannya lebih gede, dibawa aja ke mamanya” (di sini semua pegawai manggil calon pembeli itu kakak)

Saya sempat bengong sesaat kemudian menceritakan kejadian itu ke cici dan ponakan dan bisa ditebak kelanjutannya, mereka ngakak. Jadi ingat, waktu masih kecil sering dikira anaknya cici yang pertama. Kali ini giliran dikira anak cici yang kedua =))

Continue reading “Ketika muka masih terlihat bocah…”

Posted in Experience, Point of View

Kabari saja ya nanti…

Kalau sudah mau berangkat kabari ya, ntar gw jalan juga

Kalimat ini sering mengundang pertanyaan di benak saya. Kalau memang sudah membuat janji untuk bertemu dengan orang lain pada jam tertentu di tempat tertentu, mengapa harus mengeluarkan kalimat “kalau sudah mau berangkat kabari ya”?

Saya sendiri terkadang menggunakan pernyataan tersebut hanya jika saya masih punya urusan yang kemungkinan besar belum beres menjelang waktu yang sudah dijanjikan. Tapi, yang saya sering bingung itu ketika orang-orang beralasan “ah, biar ga nunggu lama” atau “ah, rumah/kosan/tempat gw kan deket dengan tempat ketemuannya, biar ga kecepetan datang.” Apa yang salah dengan datang lebih cepat? Apa yang salah dengan menunggu?

Continue reading “Kabari saja ya nanti…”

Posted in Experience

A Quarter of A Century

Jadi, ceritanya hari ini saya genap berusia 25 tahun atau bahasa kerennya seperempat abad. Lalu, tahun ini mungkin merupakan awal dimana ulang tahun saya tidak bertepatan dengan hari libur. Bukan, bukan hari libur nasional dimana tanggal di kalender menjadi merah melainkan hari libur untuk anak sekolah. Bulan Juni biasanya menjadi bulan libur sekolah baik untuk anak-anak sampai mahasiswa.

Ketika SD dan SMP, saya tidak pernah mendapatkan ucapan selamat ulang tahun face-to-face dari teman-teman sekelas karena ulang tahun saya selalu berada di masa liburan kenaikan kelas. Sedangkan ketika SMA, saya mulai mendapatkan beberapa sms selamat ulang tahun tapi tetap ulang tahun saya berada di masa liburan kenaikan kelas. Beranjak kuliah di ITB, lagi-lagi ulang tahun saya bertepatan dengan masa libur kuliah menyambut tahun ajaran baru. Inilah alasan mengapa saya tidak pernah merasakan bagaimana enaknya diceburkan ke dalam Indonesia Tenggelam ketika ulang tahun 😛 Kesimpulannya, saya sangat jarang mendapatkan ucapan selamat ulang tahun face-to-face.

Selama masa perkuliahan di Taiwan, ulang tahun saya bertepatan dengan liburan musim panas. Saya sempat merasakan satu kali perayaan ulang tahun di 7-11 dan itulah pertama kalinya saya mendapatkan ucapan selamat ulang tahun langsung yang cukup banyak dari teman-teman seperjuangan yang tidak pulang ke Indonesia selama liburan musim panas 😛 Di tahun terakhir perkuliahan, saya mendapatkan ucapan selamat dari teman-teman sekamar. Intinya, saya selalu menghabiskan hari ulang tahun saya dengan bersantai-santai karena it’s a holiday, literally.

Continue reading “A Quarter of A Century”

Posted in Experience, Point of View, Spill Out

Mengantre Kok Susah?

Sekitar sebulan yang lalu saya sempat pulang ke negeri saya. Ketika menapakkan kaki di bandar udara Soekarno-Hatta, terbersit rasa ingin tahu sudah seberapa baguskah negara tempat kelahiran saya. Tapi tenyata kenyataan selalu tidak seperti yang dibayangkan. Mungkin bayangan saya terlalu bagus. Mungkin harapan saya terlalu tinggi. Mungkin penduduk di negara saya masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berubah. Atau mungkin saya yang sudah cukup lama tinggal di negeri orang yang lebih teratur.

————————————————————————————————————————

Kejadian 1

Suatu hari, saya sempat masuk ke toilet di salah satu mall di Jakarta. Kebetulan semua bilik toilet penuh dan saya orang pertama yang ada di situ. Saya pun mulai berdiri agak jauh dari pintu bilik dan menunggu sampai ada bilik yang kosong. Tak berapa lama kemudian, datanglah satu keluarga (tentunya ibu dan anak perempuannya saja yang masuk). Saya tadinya masih tenang-tenang menunggu tapi ternyata ketika ada salah satu bilik yang terbuka, anak perempuan wanita itu langsung lari memasuki bilik itu. Muka saya langsung masam. Tidak berapa lama kemudian, kakak saya keluar dari salah satu bilik dan dia bertanya dengan muka bingung: “Loh, kenapa belum masuk juga?” Karena saya sudah kesal, lantas saya menjawab dengan suara agak keras: “Gimana mau masuk wong diserobot orang.” Ibu dari wanita itu langsung melihat saya kemudian tertawa mencemooh sambil berkata dengan suara pelan: “diserobot? siapa cepat dia dapatlah”. Ketika mendengar perkataan ibu itu, saya menatap ibu itu dengan tatapan emosi dan akhirnya berjalan keluar mencari toilet di tempat lain.

Kesimpulan: oke, mungkin saya yang sudah terlalu biasa dengan kebiasaan mengantre di negara orang. Saya sudah sering antre berkali-kali demi masuk ke toilet dan antreannya rapi. Tidak ada yang namanya tiba-tiba diserobot masuk toilet 😐

Continue reading “Mengantre Kok Susah?”