Mengantre Kok Susah?


Sekitar sebulan yang lalu saya sempat pulang ke negeri saya. Ketika menapakkan kaki di bandar udara Soekarno-Hatta, terbersit rasa ingin tahu sudah seberapa baguskah negara tempat kelahiran saya. Tapi tenyata kenyataan selalu tidak seperti yang dibayangkan. Mungkin bayangan saya terlalu bagus. Mungkin harapan saya terlalu tinggi. Mungkin penduduk di negara saya masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berubah. Atau mungkin saya yang sudah cukup lama tinggal di negeri orang yang lebih teratur.

————————————————————————————————————————

Kejadian 1

Suatu hari, saya sempat masuk ke toilet di salah satu mall di Jakarta. Kebetulan semua bilik toilet penuh dan saya orang pertama yang ada di situ. Saya pun mulai berdiri agak jauh dari pintu bilik dan menunggu sampai ada bilik yang kosong. Tak berapa lama kemudian, datanglah satu keluarga (tentunya ibu dan anak perempuannya saja yang masuk). Saya tadinya masih tenang-tenang menunggu tapi ternyata ketika ada salah satu bilik yang terbuka, anak perempuan wanita itu langsung lari memasuki bilik itu. Muka saya langsung masam. Tidak berapa lama kemudian, kakak saya keluar dari salah satu bilik dan dia bertanya dengan muka bingung: “Loh, kenapa belum masuk juga?” Karena saya sudah kesal, lantas saya menjawab dengan suara agak keras: “Gimana mau masuk wong diserobot orang.” Ibu dari wanita itu langsung melihat saya kemudian tertawa mencemooh sambil berkata dengan suara pelan: “diserobot? siapa cepat dia dapatlah”. Ketika mendengar perkataan ibu itu, saya menatap ibu itu dengan tatapan emosi dan akhirnya berjalan keluar mencari toilet di tempat lain.

Kesimpulan: oke, mungkin saya yang sudah terlalu biasa dengan kebiasaan mengantre di negara orang. Saya sudah sering antre berkali-kali demi masuk ke toilet dan antreannya rapi. Tidak ada yang namanya tiba-tiba diserobot masuk toilet😐

Kejadian 2

Kali ini kejadiannya terjadi di negeri orang tapi dengan penduduk dari negeri saya. Kemarin saya menyempatkan diri ke salah toko Indonesia yang cukup besar di negeri orang ini. Saat mengambil beberapa barang yang dibutuhkan, saya melihat antrean ke kasir cukup panjang. Sempat terbersit juga perasaan malas ketika melihat antrean panjang itu tapi ya apa boleh buat. Toh, memang harus mengantre kan? Akhirnya setelah saya selesai mengambil barang-barang yang dibutuhkan, saya pun ikut mengantre. Tak berapa lama kemudian, saya melihat seorang wanita sibuk celingak-celinguk. Wanita ini memegang satu botol air. Wanita itu lalu berkata ke dirinya sendiri (tapi dengan suara yang cukup keras): “Loh, antreannya panjang gini. Malas banget sih”.

Ketika antrean mulai bergerak maju, tiba-tiba wanita itu berusaha menyelipkan dirinya di depan orang yang ngantre di depan saya. Melihat gelagat wanita itu, orang di depan saya dengan cepat ikut maju merapatkan antrean. Gagal menyelipkan dirinya di sana, wanita itu mencoba lagi dengan menyelipkan dirinya di depan saya. Tentu saja saya juga bergerak cepat merapatkan antrean. Muka wanita itu pun terlihat agak kesal karena gagal menyelipkan antrean. Dia pun berdiri di belakang saya. Tapi belum juga semenit berdiri di belakang saya, dia lagi-lagi bergerak maju sampai ke kasir dan tiba-tiba memanggil laki-laki yang sedang sibuk mengeluarkan barang-barang belanjaannya di kasir: “Mas, saya titip dong, cuma satu nih air minum. Masa cuma buat 1 botol air minum saya harus ngantri panjang.”

Dalam hati saya berkata: “Kalau saja saya yang ada di posisi lelaki itu, saya pasti menolak dititipi”. Bukannya tidak kasihan, tapi sudah seharusnya jika membeli sesuatu dan memang ada antrean, ya antre-lah di situ. Kalau semua orang beralasan “ah, saya kan cuma beli satu buah” atau “saya boleh duluan ya, soalnya belanjaan saya lebih sedikit”, ngapain susah-susah membuat antrean?

————————————————————————————————————————

Kadang saya berpikir, penduduk negeri saya yang sudah cukup lama tinggal di negeri orang ini kenapa masih tidak bisa mengantre? Kenapa masih suka seenaknya? Saya tidak mengatakan semuanya seperti itu. Ada sebagian. Iya, sebagian. Entah sebagian kecil atau sebagian besar yang seperti itu.

Padahal, di negeri saya ada peribahasa yang cukup terkenal:

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Pergi ke negeri orang, tinggal cukup lama, mengapa tidak bisa mencoba mengikuti aturan dan budaya negeri orang? Dan ketika kembali ke negeri sendiri, mengapa aturan dan budaya yang bagus dari negeri orang tidak berusaha diterapkan ke negeri sendiri? Sering saya mendengar dari beberapa teman dan senior saya yang akhirnya sudah kembali ke negeri sendiri: “Ah, di sini kita bisa ngantre dan teratur. Tapi coba aja kalau sudah pulang ke negeri sendiri, ga sampe seminggu kebiasaan-kebiasaan teratur di negeri orang itu bakal hilang.” Saya pernah berkomentar: “Ya kalau gitu dilakukan aja kebiasaan-kebiasaan itu di negeri sendiri biar orang-orang lain juga lama-lama bisa mengikuti.” dan balasannya adalah: “Yah, kalau gw gitu, ntar orang-orang lain pasti ngeliatin gw dengan tatapan aneh”😐

Ah, mungkin saya yang terlalu menaruh harapan tinggi pada penduduk di negeri saya. Saya juga tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk mengubah kebiasaan penduduk di negeri saya. Apalah saya yang hanya sebutir pasir di tepi pantai. Tapi, walaupun hanya sebutir pasir, saya tetap berharap suatu saat kebiasaan-kebiasaan kurang bagus dari penduduk di negeri saya bisa berkurang.

signatureblack

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s