Lika-liku Berorganisasi


Saya bukan tergolong orang yang sangat aktif berorganisasi di masa S1. Memang, saya terlibat di dalam beberapa organisasi selama menjalani masa perkuliahan di ITB. Tapi, biasanya hanya sebatas anggota divisi atau terlibat di kepanitiaan acara tertentu. Setelah mendekati tingkat akhir, saya mulai meninggalkan kehidupan berorganisasi itu dan fokus ke kuliah, part-time, serta kegiatan yang saya senangi.

Sebenarnya agak lucu juga setelah saya sampai di Taipei, baru merasakan lika-liku berorganisasi (baca: bukan cuma merasakan dari sudut pandang pelaksana, tapi dari sudut pandang pemimpin). Banyak orang yang berpikir “sudah S2, ngapain lagi masih sibuk berorganisasi? Uda ga jaman. Kita bukan anak S1.” Jujur, saya terkadang berpikir seperti itu. Seorang mahasiswa S2 seharusnya sibuk dengan riset dan tesisnya, bukan malah sibuk melaksanakan acara ini-itu atau rapat membahas berbagai hal yang terkait dengan organisasi. Akan tetapi, saya juga bersyukur mendapat kesempatan untuk merasakan lika-liku ini. Katanya, lika-liku seperti ini masih kalah jauh kalau dibandingkan di dunia kerja. Katanya lagi, di dunia kerja, segala sesuatunya bisa lebih rumit dan memusingkan. Jadi, bisa dianggap sekarang sebagai proses latihan menghadapi lika-liku dunia kerja.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa saja lika-liku berorganisasi yang sudah saya rasakan. Saya dengan senang hati akan membagi apa saja yang sudah saya rasakan selama kurang lebih 8 bulan ini:

Memilih orang yang tepat itu susah
Mungkin beberapa dari kalian sudah pernah merasakannya. Saya selama ini belum pernah berpikir kalau teman yang biasa diajak bercanda atau bercengkarama bisa saja merupakan orang yang tidak cocok untuk diajak kerja sama. Lalu, bisa saja orang yang awalnya tidak dekat dengan kalian ternyata merupakan orang yang cocok diajak kerja sama. Hal ini menjadi pengalaman berharga bagi saya. Kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari penampilan luar atau cara dia berbicara. Butuh waktu untuk mengenal seseorang. Seiring dengan berjalannya waktu, barulah kalian bisa menentukan “oh, ternyata gw cocoknya kerja bareng si A, si B, C, dst.”. Lalu, apa yang kalian lakukan ketika salah memilih orang di awal? Bisa saja terjadi kasus dimana kalian membutuhkan rekan kerja dalam waktu yang singkat dan akhirnya rekan yang dipilih ternyata kurang cocok dengan kalian. Saran dari saya, jangan menyerah. Jangan pernah berpikir bahwa kalian sudah salah memilih orang karena pemikiran seperti itu akan mempengaruhi pola berpikir selanjutnya. Diskusikan dengan rekan yang benar-benar kalian percayai.

Beradaptasi
Beradaptasi itu perlu apalagi kalau tidak punya latar belakang memimpin sebuah organisasi (seperti saya). Awalnya, saya merasa hal-hal yang perlu dilakukan sangat banyak. Lalu, saya bingung sendiri bagaimana merealisasikannya. Saya seringkali diingatkan untuk belajar berbicara atau menyampaikan segala sesuatunya dengan lebih halus, lebih banyak basa-basi. Jujur, saya bukan orang yang pintar basa-basi. Saya lebih sering bicara to the point. Nada bicara saya memang agak keras, tapi bukan berarti saya marah atau memaksakan kehendak. Bisa dibilang, itu bawaan dari daerah asal dimana semua orang di sana cara bicaranya seperti itu bahkan lebih keras lagi. Selain cara berbicara, saya juga secara tidak langsung pelan-pelan belajar tentang politik, suatu hal yang saya tidak sukai tapi tetap harus dipelajari. Jangan dikira memimpin sebuah organisasi berarti hanya pusing dengan kondisi internal organisasi itu saja. Ada kalanya, hubungan eksternal dengan organisasi/pihak lain lebih memusingkan daripada kondisi internal. Sekali lagi mengingatkan, saya bukan orang organisasi. Pengetahuan saya terhadap keorganisasian hanya sebatas apa yang dulu pernah saya lakukan semasa S1. Salah seorang rekan saya pernah berkata,“Mita itu bukan orang organisasi, tapi logikanya jalan.” Rasanya si logika inilah yang selama ini berperan besar dalam membantu saya menjalankan tugas saya. Ketika saya mendengar sebuah hal, walaupun saya sama sekali tidak punya pengetahuan tentang hal itu, tapi logika saya tetap bisa diajak kerja sama sehingga sedikit demi sedikit saya bisa tetap ikut arus pembicaraan.

Jadi pemimpin bukan berarti bisa memuaskan segala pihak
Dulu saya berpikir seorang pemimpin pasti bisa memuaskan segala keinginan orang-orang yang dipimpinnya. Tapi, ternyata itu salah besar. Sekecil apapun keputusan yang diambil seorang pemimpin, pasti ada pihak yang merasa kecewa atau tidak puas. Tinggal bagaimana si pemimpin ini bisa mengambil keputusan yang mempertimbangkan kondisi rekan-rekannya. Pasti banyak masukan dari sana sini. Masukan itu bisa saja sejenis semua atau bahkan bertentangan. Satu hal yang pasti, pemimpin harus dapat menetapkan prioritas.

Banyak kabar burung yang beredar
Sebenarnya, jadi pemimpin itu lebih banyak tidak enaknya daripada enaknya. Ketika ada pihak yang tidak puas atau kecewa dengan keputusan yang diambil oleh pemimpin, kabar burung bisa saja beredar. Banyak cerita-cerita di belakang yang entah benar atau tidak, ditambah dengan bumbu-bumbu agar cerita tersebut makin menarik kalau disebarkan. Dulu sewaktu saya hanya duduk di kepanitiaan tertentu saja sudah mendapat berbagai kabar burung yang tidak enak didengar, apalagi sekarang. Saya seringkali berpikir kalau memang tidak suka atau tidak sependapat, lebih baik dikatakan langsung di hadapan orang yang bersangkutan daripada menyebarkan berita tidak benar. Mungkin ini budaya orang Indonesia yang senang sekali bercerita ke teman-temannya. Tapi, tanpa sadar, ketika seseorang sedang tidak sependapat dengan orang lain, seringkali orang tersebut akan menceritakan hal itu ke temannya dan cerita tersebut tanpa sengaja ditambahi dengan bumbu-bumbu. Parahnya lagi, pihak pendengar seringkali tidak lagi mengklarifikasi kebenaran cerita tersebut dan menerimanya begitu saja. Cerita tersebut pun beredar lagi dari satu ke orang ke orang lain dan akhirnya sampai ke telinga orang yang menjadi subjek cerita. Mau diklarifikasi pun susah karena sudah menyebar kemana-mana. Seperti kata pepatah, “Mulut kita itu pisau yang paling tajam.” Orang-orang akan lebih mudah mengingat hal-hal yang negatif dibandingkan hal-hal yang positif. Sekali kita mulai menyebarkan cerita tidak benar, orang-orang akan dengan mudah mengingat cerita tersebut. Pernah saya mendengar kabar yang beredar bahwa di suatu rapat saya memarah-marahi peserta rapat. Karena kabar seperti itu, salah seorang teman saya bertanya ke teman saya yang lain untuk mengklarifikasi benar atau tidak saya seperti itu ketika rapat. Saya menganggap itu suatu keberuntungan karena masih ada yang mau mengklarifikasi benar tidaknya sebuah berita yang dia terima. Hanya saja, saya cukup merasa aneh karena dia bertanya ke teman saya dan bukan langsung ke saya.

Banyak pihak yang ingin tahu
Apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, pasti banyak pihak yang ingin tahu. Contohnya, ketika presiden Indonesia membuat sebuah kebijakan baru terkait dengan suatu sektor, pastilah orang-orang yang memiliki kepentingan di sektor tersebut akan berusaha mencari tahu kebijakan seperti apa yang akan dibuat oleh sang presiden. Tapi, lagi-lagi cara yang ditempuh bukan bertanya langsung ke presidennya, tapi dengan cara tanya sana-sini. Kata salah seorang senior (kurang lebih seperti ini), “Buah mangga yang belum matang sudah disebarluaskan, pasti asam. Sama halnya dengan informasi. Informasi yang belum matang, masih dalam tahap diskusi, sudah disebarluaskan ke orang-orang. Hal ini bisa menimbulkan kesalahpahaman.” Saya sangat setuju dengan kalimat tersebut. Ada kalanya sebuah hal perlu didiskusikan terlebih dahulu, oleh karena itu disebarkan ke pihak-pihak tertentu dengan tujuan diskusi. Tetapi, kadang kala, ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan hal itu dan menganggap itu sudah sebagai keputusan final dan menyebarluaskan informasinya ke pihak lain. Akhirnya, timbullah salah paham karena komunikasi yang kurang baik ini. Contoh kasus lain adalah ada pihak yang hanya menerima sepenggal cerita dan tanpa menanyakan kebenaran kisah tersebut, langsung saja menyerbu pihak yang dianggap bertanggung jawab akan cerita itu. Pelajaran dari kasus-kasus seperti ini adalah, klarifikasi itu penting. Kalau mendapat berita yang cukup menggelitik pemikiran kalian, coba ditelusuri asalnya darimana dan tanyakanlah kebenarannya.

Bertatap muka langsung saja bisa menimbulkan persepsi yang berbeda-beda, apalagi tulisan
Kalau kita sedang bertatap muka dan bercerita dengan orang lain, kita bisa melihat ekspresi dan juga mendengar nada suara lawan bicara. Tapi, kalau hanya membaca tulisan, kita hanya bisa menerka-nerka ekspresi dan nada suara orang itu. Saya tergolong orang yang kurang suka terlibat dalam pembicaraan serius karena ketika saya sudah masuk ke mode serius, saya tidak akan tertarik untuk bercanda dan nada bicara saya juga jadi serius (yang malah akan dikira marah-marah). Selama ini (terlepas dari organisasi), ketika saya tidak bertatap muka dengan seseorang, tapi harus bercengkerama dengan mereka, saya selalu mengakhiri kalimat saya dengan dua titik “..”. Hal ini untuk menunjukkan bahwa saya sedang dalam kondisi biasa-biasa saja. Seringkali saya juga menambahkan “:))” di belakang kalimat untuk menunjukkan bahwa saya bukan sedang mode serius (baca: bisa diajak bercanda). Lalu bagaimana kalau saya serius? Setiap kalimat akan saya akhiri dengan satu titik. Saya menghindari penggunaan tanda seru dan huruf kapital karena di pandangan saya sendiri, hal itu menimbulkan kesan marah-marah atau sedang urgent. Kembali ke pokok permasalahan, ketika sedang bertatap muka dan bercerita dengan orang lain, kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang tersebut sehingga bisa saja apa yang dia tangkap berbeda dengan maksud pembicaraan kita. Tapi, setidaknya kalau bertemu langsung, kita bisa memperhatikan ekspresinya sehingga bisa langsung mengklarifikasi apabila terjadi salah paham. Berbeda dengan tulisan, dimana penerima pesan hanya bisa menerka-nerka dan seringkali menetapkan sendiri “sepertinya dia sedang marah/kesal/senang/dll”. Oleh karena itu, untuk mengurangi salah paham yang terjadi ketika berkomunikasi lewat tulisan, sebaiknya dibaca kembali apa yang sudah ditulis sebelum diberikan ke penerima.

—————————

Para pemimpin di organisasi non-profit tidak mendapatkan bayaran, tapi mereka tetap mau mengusahakan yang terbaik untuk organisasinya. Namun, tetap saja ada yang tidak puas dan malah membuat cerita-cerita tidak benar di belakang. Kadang saya berpikir, kalau memang tidak puas, kalau memang tidak suka, kenapa pihak-pihak tersebut tidak terjun langsung saja untuk menggantikan pemimpinnya daripada membuat kubu di belakang. Tapi *lagi-lagi tapi*, ini pikiran naif saya saja dimana saya berharap semua orang bisa jalan di jalan yang lurus. Kalau semuanya tenang-tenang saja, rasanya hidup kurang tantangan (mungkin ada yang berpendapat seperti itu). Mengutip apa yang ada di pikiran saya kemarin, “There should be someone who became a villain”. Tinggal pilihan kita saja mau menjadi pihak protagonis atau antagonis.

Sekian cuap-cuap saya kali ini.

再見!

signatureblack

2 thoughts on “Lika-liku Berorganisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s