Masa Kecil


Dulu waktu kecil, cita-citanya apa?

Dulu waktu kecil, sering main apa?

Belakangan ini saya berusaha mengingat-ingat masa kecil saya dan sejujurnya saya sendiri kebanyakan mengingat hal-hal yang tidak penting dari masa kecil saya dan itupun hanya sejak SD. Saya tidak punya gambaran masa kecil saya sebelum saya masuk SD seperti apa. Saya malah lebih banyak mendapat gambaran mengenai masa itu dari kakak-kakak saya. Jika mendengar penuturan dari kakak-kakak saya, saya bisa menyimpulkan bahwa sewaktu kecil saya termasuk anak yang cerewet dan tidak bisa diam. Berikut ini penuturan mereka tentang masa kecil saya:

Katanya, saya selalu bangun pagi-pagi (sangat berbeda dengan kebiasaan saya sekarang) kemudian mengambil koran atau buku apapun yang bisa dibaca lalu membacanya dengan suara super keras sampai-sampai membangunkan kakak-kakak saya yang masih tidur. Saya pernah bertanya mengapa saya terus melakukan hal seperti itu padahal setiap hari dimarahi karena membangunkan mereka? Kakak-kakak saya pun menjawab karena saya baru mulai bisa membaca sehingga ketika melihat tulisan apapun, hasrat membaca itu keluar (walaupun tidak mengerti apa yang dibaca).

Katanya, saya sewaktu kecil sering bisulan dimana-mana – mulai dari di hidung, di dada, di kaki, bahkan sampai di pantat pun pernah bisulan. Bahkan ada pula foto ketika saya sedang bisulan di dada (saya tertawa ketika melihat foto tersebut karena ekspresi muka saya di situ sangat kasihan). Saya ingat ketika bisul tersebut akan dipecahkan, tangan dan kaki saya ditahan oleh kakak-kakak saya supaya saya tidak meronta-ronta dan kabur.

Katanya, saya sewaktu bayi agak berisi (lahir dengan berat 3.3kg) tapi malah tumbuh sebagai anak yang kurus. Percayalah tampang saya ketika masih kecil sama sekali tidak lucu – bayangkan saja anak perempuan kurus dengan rambut pendek menggunakan kaos dan celana pendek😐 Rasanya baru ketika menginjakkan kaki di bangku SMA berat badan saya lumayan meningkat. Tapi, ketika kuliah di ITB, berat badan saya statis bahkan lebih sering turun daripada naik.

Katanya, saya dulu sempat hampir tidak jadi masuk SD karena tidak ada sekolah yang mau menerima saya dengan alasan usia saya yang terlalu kecil (saya masuk SD di usia 5 tahun). Semua sekolah yang dikunjungi menolak untuk menerima saya dan memberitahukan syarat masuk SD adalah 7 tahun dan menyarankan saya untuk masuk TK saja. Yap, saya tidak pernah merasakan TK itu seperti apa (entah harus senang atau sedih). Kakak saya berpendapat bahwa masuk TK sama saja dengan membuang-buang uang karena di TK biasanya hanya diajari membaca plus berhitung dasar dan porsi bermainnya lebih banyak dibanding belajar sedangkan pada saat itu saya sudah bisa membaca dan berhitung dasar. Akhirnya setelah mencari sana sini, ada satu SD swasta yang mau menerima saya karena saya lulus “tes” dari kepala sekolahnya. Katanya, saat kakak saya menjelaskan bahwa saya sudah bisa membaca dan berhitung dasar, kepala sekolahnya meminta saya untuk membaca kata “LINGKUNGAN” dan saya berhasil membacanya tanpa patah-patah.

Katanya, saya dulu anak yang ceria alias tidak berhenti berbicara ketika di rumah. Semuanya saya pertanyakan. Pertanyaan favorit saya adalah “Kenapa blablabla?” dan “Apa itu blablabla?”. Cukup berbeda dengan kondisi saya sekarang dimana saya sesungguhnya cuek dengan kondisi sekitar saya.

Katanya, dalam minggu-minggu pertama saya masuk SD, setiap kali pulang sekolah saya selalu berkomentar sekolah itu membosankan karena saya sudah tahu pelajaran yang diajarkan gurunya (sepertinya pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran membaca dan berhitung dasar). Bahkan katanya saya sering bertanya pada orang di rumah kenapa guru-gurunya mengajarkan hal-hal yang sudah saya tahu.

Katanya, pernah sekali ulang tahun saya dirayakan dengan teman-teman mudika kakak tertua saya dan tidak ada anak kecil yang hadir. Acaranya pun cuma nyanyi-nyanyi, berdoa, dan makan kue. Tapi yang lucu adalah pesertanya orang dewasa (karena perbedaan umur kakak tertua saya dengan saya adalah 17 tahun, maka bisa dibayangkan usia teman-teman kakak saya pada saat itu).

——————

Itulah sebagian penuturan kakak-kakak saya mengenai masa kecil saya. Beberapa hal yang ada di ingatan saya adalah:

Sewaktu saya kecil (berlanjut hingga pertengahan SMA), saya tidak mau menggunakan rok kecuali rok sekolah. Alasannya sederhana, saya lebih suka menggunakan celana pendek atau celana panjang (pokoknya celana) dan saya merasa menggunakan rok itu menyebalkan karena tetap harus menggunakan celana pendek lagi di dalamnya dan pose duduk pun harus selalu diperhatikan.

Sewaktu saya kecil, saya lebih banyak lari-larian di lapangan sekolah bersama teman laki-laki daripada duduk di kelas mengobrol bersama teman perempuan. Alasannya karena saya merasa bermain bersama teman laki-laki lebih seru dibandingkan dengan teman perempuan.

Sewaktu saya kecil, saya seringkali dikira anak laki-laki karena di rumah saya selalu menggunakan kaos dan celana pendek, ditambah lagi potongan rambut saya selalu pendek seperti laki-laki. Pernah suatu hari (rasanya ketika SD), saya disuruh membeli bakso di warung depan rumah. Saya yang masih mengenakan seragam sekolah pun pergi ke warung tersebut untuk membeli bakso dan reaksi penjual baksonya super kaget melihat saya datang mengenakan seragam sekolah. Saya masih ingat perkataan penjual bakso tersebut: “Kamu anak laki-laki kok pakai seragam perempuan? Itu tidak boleh! Kamu harus pakai seragam laki-laki.” (kurang lebih seperti itu – tentu saja si penjual bakso berkata dengan logat Makassar). Saya kaget mendengar perkataan si penjual bakso dan berusaha menjelaskan bahwa saya itu perempuan =_=” Jadi selama bertahun-tahun saya seringkali bolak-balik membeli bakso di warungnya, dia menganggap saya adalah anak laki-laki. Bahkan setelah saya bersikeras mengatakan saya anak perempuan, si penjual bakso masih tidak percaya dan bahkan mendatangi mama saya demi mengetahui yang sebenarnya😐 Para tukang becak langganan mama saya juga banyak yang mengira saya anak laki-laki. Tingkah laku saya juga seperti anak laki-laki dan bahkan saya pernah bertanya-tanya kenapa saya bukan anak laki-laki dan berpikir sepertinya enak menjadi anak laki-laki.

Sewaktu saya kecil, saya ingat uang jajan pertama saya adalah Rp 100 dan itu diberikan sekitar kelas 2 atau kelas 3 SD (saya lupa tepatnya kapan). Uang jajan itu pun selalu bertambah Rp 100 ketika saya naik kelas.

Sewaktu saya kecil, saya harus selalu langsung pulang ke rumah setelah sekolah selesai. Tidak boleh main ke rumah teman. Pernah suatu hari, teman saya mengajak saya untuk berkunjung ke rumahnya bersama teman-teman yang lain. Saya pun mengiyakan ajakan tersebut dan pergi ke rumahnya. Sekitar satu-dua jam kemudian, saya kembali ke rumah dan saya dimarahi habis-habisan oleh kakak saya karena tidak langsung pulang ke rumah. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa saya jarang berkunjung ke rumah teman dan di sekolah saya seringkali hanya duduk manis mendengarkan cerita teman-teman yang saling berkunjung ke rumah masing-masing.

Sewaktu saya kecil, saya sudah terbiasa melihat banyak anak-anak yang datang ke rumah untuk les. Kakak saya seorang guru les privat (sempat menjadi guru sekolah juga). Karena kakak saya guru les privat, makanya saya diajari membaca dan berhitung di usia yang lebih cepat. Rasanya ketika SMP, saya mulai disuruh membantu mengajar anak-anak TK dan SD. Rasanya sungguh super menyebalkan mengajar anak TK dan anak yang baru masuk SD karena hal yang harus diajarkan ialah mengeja huruf demi huruf dan berhitung dasar.

Sewaktu saya kecil, SD saya berada satu area dengan TK sehingga setiap kali sekolah selesai saya selalu berusaha masuk ke TK tersebut demi bermain ayunan ataupun perosotan yang ada. Rasanya ini terjadi karena saya tidak pernah merasakan TK😐

Sewaktu saya kecil, saya sering bermain dengan tetangga sebelah rumah saya. Kebetulan tetangga rumah saya memiliki tiga orang anak dan mereka sering bermain dengan saya semasa saya SD (walau sebenarnya perbedaan usianya cukup jauh, sekitar 3-7 tahun).

Sewaktu saya kecil, saya sangat jarang makan di restoran atau di rumah makan. Makanan selalu disiapkan di rumah – siang dan malam dengan lauk yang sama.

Sewaktu saya kecil, ketika ada orang yang bertanya cita-cita saya jadi apa, jawaban pertama saya adalah artis. Kalau ditanya artis apa, saya otomatis menjawab penyanyi😛 Kemudian sejak SD, jawaban saya berubah menjadi dokter – tepatnya dokter anak. Akhirnya sejak SMA, saya tidak lagi bercita-cita menjadi dokter karena saya tahu menjadi dokter membutuhkan biaya yang banyak dan prosesnya lama.

Sewaktu saya kecil, saya paling senang menggunakan sepatu sandal alias sandal gunung dan merk yang paling saya ingat ialah Homyped😛

Sewaktu  saya kecil, saya jarang merasakan yang namanya tahun ajaran baru berarti memiliki peralatan sekolah yang baru. Rasanya saya hanya mengganti sepatu, tas, ataupun seragam sekolah saya jika sudah benar-benar kekecilan.

Sewaktu saya kecil (berlanjut hingga SMP), saya hobi mengoleksi stiker dan penghapus yang memiliki bentuk macam-macam. Terakhir kali saya pulang ke Makassar, koleksi penghapus saya masih ada😀

Sewaktu saya kecil, saya sering dihukum loncat kodok sampai 100x dan kadangkala dihukum berdiri dengan satu kaki sambil kedua tangan menyilang memegang telinga. Seingat saya, saya pernah dihukum berdiri seperti itu selama kurang lebih 1 jam karena kenakalan saya.

Sewaktu saya kecil, tampaknya saya sering luka dan jatuh. Saya pernah terjun bebas seperti superman dari lantai 2 rumah saya, jatuh di lapangan SD sampai lutut berdarah-darah, jatuh dari becak, dan tangan pernah kebaret plat motor di rumah. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini.

Sewaktu saya kecil, saya pernah menyangka liburan kenaikan kelas itu 1 tahun lamanya😛 Makanya dulu saya sering bertanya-tanya mengapa libur Natal dan Tahun Baru hanya sekitar 2 minggu sedangkan liburan kenaikan kelas itu 1 tahun.

Sewaktu saya kecil, saya super takut dengan namanya Piet Hitam. Jadi, kalau sudah menjelang Natal, saya selalu berusaha tidak nakal supaya tidak ditangkap Piet Hitam dan dibuang ke laut.

Sewaktu saya kecil, saya selalu percaya kalau hadiah Natal yang ada di pinggir tempat tidur saya di pagi hari itu berasal dari Sinterklas. Tapi, satu pertanyaan yang selalu ada di kepala saya adalah bagaimana Sinterklas bisa tahu apa yang saya mau?😛 Entah sejak kapan saya tahu kalau yang menyiapkan hadiah Natal untuk saya adalah kakak tertua saya.

Sewaktu saya kecil, saya sering mendapat kartu natal dan saya dengan senang hati selalu menyimpan semua kartu natal yang saya terima (entah sekarang kartu-kartu itu ada dimana).

Sewaktu saya kecil, saya seringkali dikira anak kakak tertua saya karena perbedaan umur yang cukup jauh😛

Sewaktu saya kecil, saya lebih sering main sendirian dan kalaupun main bersama orang lain, saya biasanya main kartu atau monopoli dengan kakak-kakak saya dan temannya. Saya pertama kali mengenal video game ketika duduk di bangku SMP dan itu pun Nintendo dan Sega. Waktu bermain pun dibatasi: hanya boleh hari Sabtu dan 2 jam saja. Mungkin hal inilah yang menyebabkan sampai sekarang pun saya senang bermain game bahkan rela menghabiskan waktu berjam-jam demi bermain game yang mungkin menurut orang “game itu-itu saja”.

Sewaktu saya kecil, saya paling senang makan pizza dan setiap hari Minggu saya selalu dibawa pergi makan pizza di Pizza Hut yang ada di dekat rumah saya. Entah sejak kapan rutinitas tersebut berhenti. Saya juga sempat pernah menghabiskan 1 large pan pizza sendirian ketika masih SD (sekarang sudah tidak sanggup 1 large pan sendiri).

Sewaktu saya kecil (kira-kira sekitar kelas 5SD – ketika saya pindah ke Tangerang), kakak saya yang takut kalau saya tidak bisa mengikuti pelajaran di sana kemudian memotivasi saya dengan mengatakan kalau saya bisa masuk rangking 10 besar di kelas (kalau tidak salah ingat), saya akan dibelikan sepeda. Akhirnya saya benar-benar dibelikan sepeda dan mulai belajar naik sepeda.

——————

Rasanya sekian dulu cuplikan-cuplikan masa kecil saya yang bisa saya ingat. Kalau dilihat-lihat lagi, masa kecil saya memang agak aneh *menghela napas*.

Sampai jumpa di cerita berikutnya!

再見!

signatureblack

One thought on “Masa Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s