Toleransi


Kejadian (kira-kira) seminggu yang lalu membuat saya banyak berpikir. Membuat saya bertanya-tanya apakah cuma saya yang merasa seperti itu atau sebenarnya di tempat lain, teman-teman saya yang lain juga pernah merasakan hal yang sama.

Bicara soal toleransi, toleransi memang sangat diperlukan apalagi kalau kita tinggal bersama orang lain yang notabene bukan anggota keluarga. Bahkan toleransi juga masih dibutuhkan ketika tinggal bersama anggota keluarga. Pertanyaan selanjutnya: sejauh mana toleransi itu harus dipelihara apalagi dipertahankan? Sejauh mana kita harus toleran terhadap sesuatu?

Saya tergolong orang yang cuek – alias tidak pedulian. Selama apa yang dilakukan orang lain tidak mengganggu saya, maka saya akan berusaha toleran terhadap tingkah lakunya. Saya tidak akan protes kalau ada orang yang joget-joget sambil mengupil selama upilnya tidak dilempar ke saya dan joget-jogetnya tidak mengganggu saya😛 Mungkin bisa dibilang saya sering autis di depan komputer. Ketika saya sedang seru menonton film atau sedang mengerjakan sesuatu di laptop, saya seringkali tidak peduli dengan kondisi sekitar. Inilah salah satu penyebab saya sering dibilang tidak pedulian alias cuek.

Kembali ke toleransi. Selama tinggal di asrama kampus ini, saya sudah pindah kamar sebanyak dua kali dan di setiap kamar yang pernah dan saat ini saya huni, tentu saja kebiasaannya berbeda. Penghuni kamarnya juga berbeda. Tinggal di asrama kampus dengan penghuni yang berbeda-beda membuat saya menyadari bahwa saya perlu “toleransi ekstra”. Selama kuliah di Bandung, saya tinggal di kost-kostan (tentunya 1 kamar sendiri) dan saya hanya perlu bertoleransi dengan teman-teman satu kostan dimana kalau saya sudah tidak tahan dengan tingkah laku mereka, saya bisa kabur ke kamar sendiri. Tapi tentunya hal ini berbeda dengan kasus tinggal di asrama. Kalau tidak bisa bertoleransi dengan teman sekamar, maka tidak ada tempat kabur lagi. Pada akhirnya, saya harus kembali  ke kamar untuk tidur dan mandi. Minggu lalu, akhirnya saya kembali merasakan perasaan tidak-ingin-kembali-ke-rumah-kamar dan karena sudah pernah merasakan hal itu sebelumnya, saya tidak ingin lama-lama bernostalgia dengan perasaan tersebut.

Ketika sudah sampai di batas toleransi yang dimiliki, terkadang kita akan dicap sebagai pihak antagonis karena sudah tidak mau bertoleransi lagi. Mungkin ada benarnya juga, kalau memang dari awal bisa toleran terhadap sesuatu, kenapa tidak dilanjutkan saja sampai akhir. Tapi, menurut saya, kalau sikap toleran ini akhirnya menyusahkan diri sendiri dan membuat hidup tidak nyaman, kenapa harus dilanjutkan? Hidup itu penuh dengan pilihan. Mau tetap toleran atau tidak juga merupakan sebuah pilihan.

Hidup kok dibawa susah

Saya lupa pernah mendengar kalimat itu dari siapa tapi saya merasa kalimat itu benar-benar sesuai dengan kondisi saya. Banyak hal yang seringkali tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan, apa yang saya pikirkan, dan apa yang saya inginkan. Banyak. Tidak terbatas pada kasus hidup di asrama saja, tapi juga di kehidupan perkuliahan dan kehidupan sehari-hari. Rasa makanan yang saya pesan saja terkadang tidak seperti yang saya bayangkan😛 Sepertinya saya tipe orang yang terlalu memikirkan sesuatu bahkan ketika itu hal sepele yang tidak seharusnya dipikirkan lama-lama dan seharusnya dibiarkan saja. Seringkali saya pusing sendiri memikirkan ini itu yang seharusnya tidak perlu dipikirkan (entah ini termasuk kekurangan atau kelebihan). Saya jadi berpikir kebiasaan saya memikirkan sesuatu terlalu lama itu membuat hidup saya menjadi susah. Oleh karena itu, saya berusaha untuk mengubahnya sedikit demi sedikit.

Saya menemukan quote menarik tentang toleransi:

Tolerance is a very dull virtue. It is boring. Unlike love, it has always had a bad press. It is negative. It merely means putting up with people, being able to stand things.
by E. M. Forster

Apakah kalian juga merasa seperti itu? Tapi, lagi-lagi mau toleran atau tidak itu sebuah pilihan.

再見!

signatureblack

 

6 thoughts on “Toleransi

  1. Chrisna Setyo Nugroho says:

    Karena artikelnya ditutup dengan pertanyaan, maka sy boleh jawab dong🙂 . Well, sy juga merasakan kyak gtu, mirip bgt ama kasus mbak, yaitu kawan satu kamar asrama, sy bahkan pernah hilang mood gara-gara itu.

    BUT, mereka juga manusia, jd mskipun gk bisa bhsa mandarin, sy prnah dskusiin masalah sy and keluahn saya, Alhamdulillah, mereka mgerti saya, and skrg jd baik banget ama sy, the main point is : Good Communication.🙂

      • Chrisna Setyo Nugroho says:

        hmm, ada sih satu org lokal yg gk mo ngrti juga, jd trpaksa sy yg ngalah, i think it’s his nature , so kita msti get used to it >_< , mo gmna lg mbak, kan org lain gk semuanya bisa ngrti toleransi. Yg sabar aja ya mbak, jgn trlalu dipikirin, mnding mikirin " itu" aja ( *gk mo nyebut krna topic sensitive)😛

        oh ya, lg di indo ya, enak bgt bisa makan pete ama sop konrow -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s