Menilai Orang Lain


Everybody loves to judge others

Kalimat tersebut sepertinya berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita baru pertama kali bertemu dengan seseorang, pasti di dalam hati kita akan menduga-duga karakter orang tersebut. Dimulai dari menilai penampilannya lalu cara berbicara dan juga isi pembicaraannya. Misalnya kita bertemu dengan seorang bapak berpenampilan agak lusuh. Pasti secara otomatis kita berpikir bahwa bapak ini pasti bukan orang kaya. Penghasilannya pas-pasan sampai-sampai baju yang ia pakai pun lusuh. Karena penghasilannya pas-pasan, pasti bapak ini bukan orang yang pintar. Tidak mungkin ia lulusan S1 apalagi S2. Padahal, belum tentu apa yang kita duga itu benar.

Mungkin sudah menjadi suatu kebiasaan untuk selalu menilai seseorang dari kesan pertama yang ada tanpa berusaha untuk mengenal lebih lanjut orang tersebut. Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh, saya juga termasuk orang yang seringkali menilai seseorang saat pertama kali bertemu. Malah, saya terkadang menilai seseorang sebelum saya berbicara dengannya. Ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, di dalam hati pasti terbersit perasaan suka atau tidak suka dan saya biasanya mengikuti perasaan tersebut. Jika dari pertama kali bertemu sudah terbersit perasaan kurang suka, maka biasanya saya tidak berusaha lebih lanjut untuk mengenal orang tersebut karena saya merasa pasti pribadi saya tidak akan cocok dengan orang itu. Biasanya kata hati saya cukup tepat, bisa dikatakan 70%-80% selalu tepat. Ada kalanya juga meleset.

Belajar dari penilaian pertama saya yang kadang-kadang meleset, saya menyadari bahwa tidak semua karakter orang bisa terbaca dari penampilan maupun cara berbicaranya. Untuk mengetahui karakter seseorang butuh proses dan proses inilah yang seringkali tidak dilakukan oleh orang-orang termasuk saya. Ketika melihat orang yang saya kurang sreg, maka saya akan berusaha menghindari orang tersebut supaya tidak terjadi hal-hal yang nantinya malah membuat saya kesal.

Entah sejak kapan, saya sering dicap sebagai orang yang jutek dan galak. Saat SMA, saya dan beberapa teman-teman perempuan lainnya membuat semacam buku testimoni yang diisi oleh teman-teman sekelas. Hampir seluruh testimoni yang ditujukan ke saya mengandung kata “jutek” atau “galak”. Banyak teman-teman yang menuliskan kesan pertama mereka tentang saya adalah saya merupakan sosok yang jutek, galak, serius, dan susah untuk didekati. Tapi ternyata setelah mengenal saya lebih jauh, saya ternyata agak “gila”.

Sepertinya wajah yang saya pasang dan hadirkan setiap hari adalah wajah saya yang jutek dan galak. Ditambah dengan pengaruh lingkungan asal saya dimana semua orang memang memiliki watak yang keras, saya semakin cocok dengan karakter orang yang jutek, galak, dan keras. Saya memang jarang menyapa orang lain walau hanya sekedar mengatakan halo. Hal ini juga mempengaruhi penilaian orang lain terhadap saya. Karena saya sangat jarang menyapa orang lain, maka predikat “sombong” pun melekat di diri saya. Kenapa saya jarang menyapa orang lain? Karena saya merasa jika saya tidak benar-benar dekat dengan orang tersebut dan menyapa dia dengan sekedar berkata halo, saya merasa telah berbohong. Rasanya seperti berpura-pura dekat dengan orang lain, berpura-pura peduli dengan orang lain, padahal sebenarnya hanya sekedar tahu nama saja.

Saya akui saya memang keras. Kalau ada hal yang tidak saya sukai atau saya merasa kurang sependapat, saya akan langsung mengatakannya tanpa basa-basi dan menurut beberapa orang, cara saya menyampaikan pendapat saya itu keras. Nada yang digunakan agak tinggi dan keras sehingga menimbulkan kesan bahwa saya marah karena mereka tidak sependapat dengan saya. Padahal, penggunaan nada tersebut juga merupakan pengaruh lingkungan tempat saya tinggal dari kecil hingga SMA. Coba saja kalian datang berkunjung ke tempat kelahiran saya. Pasti kalian akan merasa nada bicara orang-orang di sana seperti orang yang sedang bertengkar.

Saya kurang suka basa-basi. Kenapa? Karena menurut saya, basa-basi itu hanya membuang-buang waktu. Kalau bisa langsung ke inti pembicaraan mengapa harus berbasa-basi? Kalau menurut salah satu teman saya, basa-basi itu perlu supaya suasana tidak tegang dan pembicaraan dapat berjalan dengan lebih lancar. Pendapat dia ada benarnya juga, tetapi tetap saja saya malas dan tidak suka jika disuruh berbasa-basi😛

Terkadang saya sering berpikir, sebelum saya menilai orang lain apakah saya sudah menilai diri saya sendiri dengan benar? Saya sadar saya memiliki banyak kekurangan. Saya bukan orang yang sabar dan berusaha untuk bersabar benar-benar merupakan sebuah ujian yang berat untuk saya. Sadar akan banyaknya kekurangan yang ada di diri saya lantas membuat saya berpikir untuk berubah. Perubahan memang membutuhkan waktu yang lama apalagi menyangkut watak dan sifat. Ketika memikirkan untuk berubah, di kepala saya terbersit pertanyaan-pertanyaan: “Sampai sejauh mana saya harus berubah? Apakah sampai pandangan orang lain terhadap saya berubah? Apakah saya harus berubah menjadi sosok orang yang disenangi semua orang?” Kalau saya berhasil berubah, apakah perubahan itu menjamin bahwa saya bisa senang? Bisa menjamin bahwa saya tidak merasa terbebani dan tertekan karena berusaha menjadi orang lain?

Ada teman saya yang mengatakan “ngapain hidup dibawa susah? Pasti ada orang yang ga senang sama kamu dan ada orang yang senang sama kamu. Ga mungkin kamu bisa menyenangkan semua orang. Jalani saja apa yang kamu yakini.” Kalau dipikir-pikir, lagi-lagi perkataan ini ada benarnya juga. Kalau harus selalu memikirkan penilaian orang lain terhadap diri kita, kita pasti akan menjadi stres dan hal tersebut akan menjadi beban bagi pikiran kita. Bisa saja kita tidak peduli dengan penilaian orang lain terhadap diri kita. Toh, yang tau karakter dan sifat kita sebenarnya seperti apa hanya diri kita sendiri. Pasti akan selalu ada yang pro dan kontra.

Ketika menjadi public figure, rasanya penilaian orang lain terhadap kita sangat penting. Kita harus memperhatikan segala tingkah laku kita. Contohnya saja seorang guru tidak akan mungkin pergi bekerja dengan menggunakan baju kaos dan celana pendek walaupun matahari sedang bersemangat memancarkan panasnya. Seorang guru tidak mungkin menghabiskan waktu hanya berdua dengan murid yang berlawanan jenis walaupun sebenarnya itu hanya sekedar pelajaran tambahan. Penilaian orang lain akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pekerjaan sang guru tersebut.

Hidup sepertinya akan terasa kurang menarik kalau kita belum menilai orang lain dan membicarakan kejelekannya. Infotainment dan berita-berita yang disajikan ke masyarakat seringkali mengupas tentang kehidupan pribadi public figure maupun segala tindakan yang dilakukannya. Tidak lupa pula diberikan bumbu komentar yang mengundang rasa ingin tahu dan opini masyarakat. Kita seolah-olah diarahkan secara tidak langsung untuk ikut mengomentari dan menilai orang tersebut dari berita yang diberikan. Padahal kita sama sekali tidak mengenal orang tersebut.

Menilai orang lain tanpa mengenalnya terlebih dahulu menjadi sebuah kebiasaan yang ingin saya hilangkan. Kalau kita tidak suka orang lain menilai kita dengan penilaian yang macam-macam, mengapa kita tidak memulai untuk menghilangkan kebiasaan menilai orang lain? Rasanya hidup akan lebih tenteram tanpa adanya prasangka maupun dugaan yang belum tentu terbukti kebenarannya.

Sekian cuap-cuap kali ini.

再見!

signatureblack

5 thoughts on “Menilai Orang Lain

  1. Chrisna Setyo Nugroho says:

    Sure, it will a fair amount of time, kuncinya SABAR mbak , krna sy juga tergolong org yg bersikap demikian >_<, tp setelah sy sedikit "gaul" dan tau dunia luar, maka sy sadar bhwa sy perlu koreksi sifat and diri saya biar compatible ama lingkungan🙂 , Nice post anyway😉

  2. Wah blognya keren loh mit, haha.
    Kata2nya luar biasa mit
    “Matahari sedang bersemangat memancarkan panasnya” , ama
    “mencampur-campur cairan ajaib” dari tulisan sebelumnya.
    itu dua paling berkesan. Plus lg cacing2 di kiri. Hehe.

  3. kUskUs says:

    Karakter org kan beda2..🙂 klo dirimu emang gt, no problem la.. cuek aja yg org pikirkan.. just be yourself🙂
    *maklum, penganut paham cuek saia😄
    Betewe, stuju bgt ama “Everybody loves to judge others”.. bahkan (alm) engkong saia, yg ga bisa bicara bhs indo, jg nge-judge abang becak dr mukanya.. akkaak *maap ga nyambung-hanya mdadak teringat omelan beliau saat itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s