[Hampir] Satu Tahun di Taiwan


Sudah hampir satu tahun sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Taiwan. Sudah dua semester pula saya lalui di kampus ini. Apa saja yang sudah saya lakukan di Taiwan selama ini?

Jalan-jalan

Rasanya selama di Indonesia, saya tidak sesering ini jalan-jalan. Selama di Indonesia, kota yang sudah pernah saya kunjungi bisa dihitung dengan satu tangan (Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar). Bukan berarti saya sudah mengelilingi Taiwan, tapi setidaknya saya sudah pergi ke tempat-tempat yang cukup jauh, bahkan yang membutuhkan kurang lebih 8 jam perjalanan dengan menggunakan kereta api. Masih banyak tempat yang belum sempat saya datangi dan penyebab utamanya adalah kuliah yang nyaris setiap hari dan jumlah presentasi yang harus disiapkan cukup membuat mata capek memandangi layar laptop. Mungkin salah satu faktor pendorong jalan-jalan di Taiwan adalah Taiwan memiliki banyak event yang patut didatangi dan transportasi yang mudah.

Wisata Kuliner

Saya bukan tergolong orang yang senang menjadwalkan kapan akan mencoba makanan baru. Saya tergolong orang yang impulsif dan moody. Kalau saat itu juga saya ingin mencoba makanan baru, maka saya akan pergi mencari makanan baru (tentunya kalau tidak merasa malas untuk bepergian). Selama di Taiwan, seringkali saya sedang lewat di depan rumah makan sesuatu dan akhirnya memutuskan untuk mencoba makanan tersebut walaupun sebagian besar menunya tidak saya mengerti karena biasanya mereka hanya menyediakan menu dalam bahasa mandarin.

Belanja

I am not a shopaholic. Lagi-lagi keinginan belanja itu tergantung mood. Walaupun sedang banyak diskon ataupun barang-barang yang menarik, tapi kalau saya sedang tidak mood untuk belanja, maka saya tidak akan membelinya (hanya melipir untuk sekedar mencuci mata saja). Tapi, kalau sedang mood, maka saya dengan senang hati akan masuk dari satu toko ke toko lain untuk mencari apa yang saya inginkan (tentunya dengan keterbatasan dana pula).

Pelayanan di Gereja

Selama di Indonesia, saya sangat jarang terlibat dalam pelayanan di Gereja. Terakhir kali saya terlibat adalah ketika saya masih ikut sekolah minggu. Ketika saya masih ikut sekolah minggu, saya seringkali menjadi lektor, kolektan, ataupun pembawa persembahan ketika misa khusus (e.g.: Misa Natal, Misa Paskah). Sejak saya duduk di bangku SMP sampai akhirnya lulus kuliah dari ITB, saya tidak pernah berpartisipasi lagi dalam pelayanan di Gereja. Ah! Saya pernah sekali bergabung dengan salah satu choir di Bandung untuk pelayanan selama Pekan Suci/Minggu Suci.

Sesampainya di Taipei dan mengikuti misa Indonesia di Holy Family Church, saya pun akhirnya memulai debut sebagai pelayan Gereja😀 Dimulai dari pertama kali menjadi pemazmur padahal tidak pernah punya pengalaman menyanyikan mazmur, lektor, ikutan choir untuk misa malam Natal dan misa malam Paskah, dan akhirnya pertama kali menyanyikan EXULTET di misa malam Paskah. Tiap kali mendapat tugas yang berhubungan dengan menyanyi, rasa nervous selalu ada. Bagaimana kalau ternyata salah mengambil nada dasar, bagaimana kalau nanti salah baca not, bagaimana nanti kalau nadanya meleset, dan bagaimana-bagaimana lainnya. Walaupun sudah beberapa kali menyanyikan mazmur, tetap saja perasaan nervous itu ada.

Kuliah

Well, it supposed to be the most important thing I’ve been doing in Taiwan😛

Saya sudah melalui dua semester dan selama dua semester ini bisa dibilang skill saya yang paling meningkat adalah membuat slide presentasi😐 (bukan pelajaran ataupun pengetahuan saya yang meningkat). Rata-rata pelajaran yang saya terima di kelas hampir serupa dengan pelajaran yang pernah saya terima selama S1 dan S2 di ITB. Suasana kelasnya pun tidak jauh berbeda. Ada dosen yang sangat berbakat untuk membuat mahasiswanya mengantuk selama jam kuliah, ada dosen yang sangat menarik untuk didengarkan, ada dosen yang berbicara panjang lebar kesana kemari tapi intinya tidak jelas, ada dosen yang cukup kritis, ada dosen yang menuntut mahasiswa di kelasnya harus banyak berbicara walaupun hal yang dibicarakan terkadang lebih banyak yang tidak berhubungan alias OOT, dan berbagai macam dosen lainnya.

Keuntungan kuliah di jurusan MBA ini adalah sangat jarang menghadapi ujian tertulis. Sebagian besar ujiannya adalah presentasi kelompok. Selama dua semester ini, saya baru menemui satu kuliah yang menggunakan ujian tertulis. Rasanya ingin cepat selesai kuliah. Kuliah non-stop selama 7 tahun sangat tidak saya sarankan😐 Rasa bosan yang melanda tidak dapat dihilangkan dan juga tidak dapat diapa-apakan. Tidak mungkin saya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti kuliah karena bosan😐 Tidak mungkin pula saya tiba-tiba bisa lulus kuliah hanya dalam waktu 1 tahun😐 Jadi, walaupun rasa bosan itu makin lama makin besar, mau tidak mau saya tetap harus menjalani dua semester yang tersisa.

Belajar Mandarin

Hal inilah yang saya lakukan selama liburan musim panas ini. Liburan musim panas di kampus saya sudah dimulai sejak akhir Juni sampai dengan awal September. Sekarang saya mengerti mengapa ketika musim panas kampus diliburkan. Udara yang begitu panas dan pengap sangat tidak efektif untuk belajar. Walaupun di kelas terdapat AC, tapi suasananya benar-benar membuat mengantuk.

Yah, karena saya tidak jadi mengambil summer course, akhirnya saya menghabiskan waktu dengan belajar mandarin intensif. Ternyata belajar mandarin intensif ini cukup menguras waktu dan pikiran. Hampir setiap hari ada PR dan juga ujian. Saya sungguh salut pada salah satu teman saya yang selama dua semester kemarin tetap mengambil kelas mandarin intensif ini padahal hampir setiap hari ada kuliah. Setiap hari ketika kami bertemu, dia akan selalu mengatakan PR belum dikerjakan, besok ada ujian, dan berbagai kesibukan lain dari kelas mandarin tersebut. Awalnya saya mengira teman saya ini melebih-lebihkan tapi ternyata setelah saya mengalaminya sendiri, saya sekarang tahu bagaimana perasaan dia ketika setiap pagi harus ke kelas mandarin dan setelah itu kuliah. Now I know what you feel.

Organisasi

Dulu di pikiran saya kehidupan berorganisasi itu hanya untuk mahasiswa S1, tapi ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Saya sempat berpartisipasi di kepanitiaan ICE 2013 (Indonesian Culture Exhibition), bergabung bersama KITA (Katolik Indonesia di Taiwan), dan sekarang berada di NTUST ISA (Indonesian Student Associations). Kehidupan organisasi ini yang membuat saya akhirnya merasakan latihan choir lagi. Saya rela disuruh latihan choir setiap hari dibandingkan kuliah setiap hari. Kecintaan saya pada musik ini yang membuat saya sempat punya niat untuk mengambil sekolah musik, namun tidak direstui oleh orangtua.

Kalau dilihat-lihat lagi, sepertinya hal yang sudah saya lakukan di Taiwan masih kurang banyak. Semoga dalam satu tahun ke depan ini, saya bisa melakukan lebih banyak hal lagi.

再見!

signatureblack

3 thoughts on “[Hampir] Satu Tahun di Taiwan

  1. Farida says:

    Semangat terus ya Mit. Dan sabar ya. Berakit-rakit dahulu, berenang2 kemudian. Okay tahu artinya kan? Good luck and God bless you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s