Kenapa MBA? Kenapa ga teknik lagi?


Hola!

Kuliah sudah dimulai sejak tanggal 19 September 2012. Setelah merasakan 1 minggu perkuliahan, gw merasa masih perlu melakukan banyak penyesuaian. Kegiatan perkuliahan dimulai pada pukul 08.30 dan berakhir di pukul 22.00. Semester ini gw mengambil 2 mata kuliah yang dimulai pukul 18.25 dan berakhir pukul 21.05. Sejujurnya gw kurang suka dengan kuliah malam karena lebih banyak menguap di kelas😦 tapi gw juga ga suka kelas yang terlalu pagi😛

Perbedaan terbesar kondisi perkuliahan di sini dengan di ITB adalah kuliah 3 SKS benar-benar diajarkan 3 jam berturut-turut (dengan kondisi ideal setiap jam terdapat break 10 menit). Begitu sudah lewat 2 jam pertama, rasanya super susah berkonsentrasi dan menahan ngantuk selama 1 jam terakhir😦 Yah, masih butuh penyesuaian juga sih terutama dengan kondisi kelas dimana terdapat berbagai orang dari berbagai negara.

Mungkin ada yang penasaran mata kuliah seperti apa sih yang gw ambil sekarang😛 Berikut ini daftar mata kuliah yang gw ambil semester ini:

  1. Seminar: Small Business Management
  2. Social Science Research Methodology
  3. International Business & Innovation Development
  4. Organization Mechanism Theory and Management
  5. Man-Machine System Application
  6. Business Ethics

Banyak orang yang bertanya “kenapa ga ambil IF lagi?” atau “kenapa bukan teknik? kenapa MBA? Itu kan bertolak belakang dengan background-mu”. Biasanya alasan gw adalah “karena bosan dengan teknik” atau kalau sedang bercanda maka gw akan menjawab dengan kalimat ini “gw mau kembali ke jalan yang benar”😛 Begitu mendengar jawaban becandaan gw itu, maka orang-orang akan mengira gw merasa salah jurusan ketika S1. Well, gw pernah merasa salah jurusan ketika memilih STI. Tapi bukan salah jurusan yang jauh banget, misalnya kayak “aduh harusnya gw ga ambil STI tapi ambilnya manajemen atau akuntansi”. Ga. Bukan itu. Dulu gw merasa menyesal kenapa ga masuk IF saja. Tapi setelah dijalani dan dilanjutkan dengan program fasttrack, perasaan menyesal itu mulai hilang. Ternyata gw bisa bersahabat dengan mata kuliah yang ada di STI dan juga di S2 SI.

Kalau melihat mata kuliah yang gw ambil, sebenarnya cukup berhubungan dengan mata kuliah di STI maupun mata kuliah S2 SI yang pernah gw ambil. Kemarin ketika gw sit-in di mata kuliah “The Strategy and Practice of International Corporate Merger & Acquisition” ternyata sempat dilihatkan sekilas mengenai Porter’s Five Forces Analysis dan BCG Matrix. Porter’s model dan BCG matrix sudah pernah dibahas di kuliah S1 dan S2 dulu. Jadi sebenarnya tidak melenceng jauh dari SI. Lain ceritanya kalau gw dulu masuk IF. Pasti semuanya terasa asing.

Total sks yang harus gw ambil untuk lulus dari program MBA ini adalah 50 sks. Ketika mendengar 50 sks, jujur saja gw kaget soalnya S2 dulu hanya 36 sks. Rasanya seperti kembali ke TPB – mengambil 18 sks (6 mata kuliah). Tetapi entah mengapa di sini gw menganggap 6 mata kuliah dalam satu semester sudah banyak sedangkan dulu di ITB gw merasa 6 mata kuliah itu masih sedikit. Sewaktu S1 gw pernah mengambil 9 mata kuliah dalam 1 semester (23 sks) dan gw masih hidup padahal tugasnya super banyak😛

Selain persyaratan 50 sks tersebut, gw juga harus mengerjakan tesis dan tesis tersebut tidak termasuk dalam 50 sks tersebut. Di jurusan ini, tesis tidak memiliki bobot sks. Berbeda dengan di ITB, di mana tesis memiliki bobot 6 sks. O iya, dari 50 sks tersebut, tidak ada satu pun mata kuliah wajib. Semuanya pilihan. Jadi, kita bebas memilih mata kuliah mana saja yang akan diambil selama memenuhi aturan 23 sks dalam kode MA dan 27 sks mata kuliah yang berada di bawah School of Management (BA/FN/IM/TM).

Dulu gw sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran ekonomi dkk. Gw berusaha menjauhi pelajaran tersebut dan entah mengapa sejak dulu orang-orang di sekitar gw selalu berpandangan kalau mau kuliah manajemen atau akuntansi, tidak perlu masuk IPA. Masuk IPS saja. Di pandangan mereka, teknik jauh lebih tinggi daripada manajemen/akuntansi/ekonomi dkk. Kebanyakan orang masih berpendapat anak-anak yang masuk jurusan ekonomi, bisnis, manajemen, dkk itu bisa bersantai-santai. Tidak perlu mengeluarkan effort yang besar dan bisa lulus dengan mudah. Beda dengan teknik, yang biasanya harus melakukan riset sana sini, baca paper yang banyak, dan berbagai kegiatan berbau teknik lainnya sehingga lulus lebih lama dari waktu seharusnya pun dimaklumi karena dianggap jauh lebih susah dari jurusan sebelah. Tapi bagi gw keduanya sama saja. Keduanya memiliki kesusahan dan kemudahan masing-masing.

Gw merasa butuh ilmu bisnis makanya gw memutuskan mengambil MBA. Komentar orang-orang pun bermacam-macam ketika mendengar alasan gw ini. Ada yang mengatakan kalau cuma butuh ilmu bisnis, ya tinggal kerja saja. Kerja selain mendapatkan pengalaman juga bisa langsung menyerap ilmu bisnis yang ada. Bisa langsung terjun di dunia nyata dan melihat kondisinya langsung tentunya bisa menjadi ilmu yang sangat berguna. Buat apa susah-susah kuliah lagi? Lagipula, ketika tahu teori tidak berarti kita langsung bisa menerapkan teori tersebut. Kalau dipikir-pikir lagi, ada benarnya juga pendapat seperti itu. Bisa saja gw langsung kerja dan mempelajari hal-hal tentang bisnis tapi gw berpikir gw bakal belajar dengan cara trial-and-error dan gw mungkin ga akan tahu seharusnya gimana atau best practices-nya seperti apa.

Kalau mendengar gw sudah beres S2 dan malah ambil MBA lagi, maka biasanya komentar orang-orang adalah “kamu suka belajar ya?” atau pertanyaan yang dilontarkan adalah “kamu ga bosan belajar?”. Well, siapa sih yang ga bosan kalau belajar nonstop selama 17 tahun (baca: dari SD sampai beres S2)? Tentu saja gw bosan. Gw juga maunya belajar apa yang gw suka dan ga perlu mengerjakan tugas atau ujian😀 Tapi, kalau tidak ada faktor pendorong seperti tugas dan ujian, maka pelajaran yang gw pelajari juga ga akan melekat di kepala. Setidaknya dengan adanya tugas dan ujian, gw akan berusaha lebih keras untuk memahami pelajaran itu. Tanpa faktor pendorong, gw bakal belajar semaunya dan pastinya lebih banyak mainnya daripada belajar😛

“Kenapa ga ambil S3 aja?”

Itu pertanyaan yang sering gw dengar. Gw belum ada niat untuk mengambil S3. Belum siap untuk mendedikasikan diri hanya untuk riset. Lagipula, gw tidak ada keinginan berkarir di bidang pendidikan, misalnya jadi dosen, makanya gw tidak tertarik mengambil S3 dan sepertinya gw tidak akan mengambilnya. Sudah cukup belajarnya. Ketika sudah lulus nanti, gw berniat bekerja. Mau mencari pengalaman kerja. Selama ini gw belum pernah bekerja full-time. Semuanya part-time karena gw masih kuliah.

Huaah, sudah cukup banyak celotehan kali ini yang sudah menjalar kemana-mana maka mari disudahi dulu😛

再见!

signatureblack

2 thoughts on “Kenapa MBA? Kenapa ga teknik lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s