Akhir Petualangan 5 tahun di ITB


Hola!

Melihat judulnya saja, mungkin isi tulisan kali ini sudah dapat ditebak😀 Yap! 24 Mei 2012 yang lalu, saya telah menyelesaikan sidang Tesis saya dan dinyatakan “lulus bersyarat” (tampaknya sih tidak ada yang pernah mendapatkan hasil “lulus” tanpa bersyarat). Tesis saya berjudul “Model Penilaian Kapabilitas Proses Organisasi dalam Menerapkan Sistem Informasi Terintegrasi Berbasis SOA dan Arsitektur Multi-tier”. Mungkin suatu saat nanti saya akan membuat tulisan singkat mengenai isi tesis saya tersebut.

Lima tahun lamanya saya berada di Bandung – tepatnya di kampus gajah duduk. Saya masih ingat pertama kali saya datang ke Bandung tahun 2007. Hanya berselang 2 hari setelah saya mendapat pengumuman bahwa saya lulus di ITB, kakak laki-laki saya pun segera mengurus tiket pesawat untuk berangkat ke Bandung. Tak dirasa sekarang saya uda hampir lima tahun di Bandung. Apa yang menyebabkan saya begitu lama? Jawabannya mudah. Saya mengikuti program fasttrack di ITB. Program fasttrack adalah program yang dapat membuat mahasiswa lulus S1 dan S2 dalam 5 tahun saja (irit 1 tahun😛 ). Juli 2011 saya sudah diwisuda untuk program S1 saya dan akhirnya Juli tahun ini saya kembali akan diwisuda untuk program S2 saya😀

Kalau ditanya rasanya seperti apa lima tahun berkutat di sekitaran kampus gajah duduk, well, saya akan menjawab: Bosan😛 Awal-awal tahun pertama saya, saya masih excited. Tapi begitu sudah memasuki tahun keempat, jujur saja saya mulai bosan berkeliaran di kampus. Akhirnya saya pun mulai jarang ke kampus. Ketika sudah menyelesaikan Tugas Akhir, rasanya super bahagia😀 Rasanya ingin cepat-cepat pergi liburan tapi sayangnya tidak bisa karena harus langsung melanjutkan S2😦 Dan sekarang ketika Tesis sudah selesai, rasanya ingin keliling dunia – bersantai, main, shopping, dan kegiatan bersenang-senang lainnya. Tapi tampaknya keinginan bersenang-senang tersebut harus ditunda lagi karena harus mempersiapkan ini itu untuk bulan Agustus/September nanti😦

Bila dibandingkan dengan S1, ntah mengapa saya merasa pelajaran S2 saya lebih banyak memanfaatkan otak kanan. Kreativitas – daya imajinasi – kemampuan mengarang. Mungkin karena di S2, saya sama sekali tidak mendapatkan pelajaran pemrograman dan tidak mendapat tugas yang berkaitan dengan pemrograman. Soal ujian saya kebanyak berkisar pada pertanyaan yang membutuhkan pemikiran sendiri untuk menjawabnya atau kemampuan mengarang – merangkai kata-kata di kepala hingga menjadi jawaban yang memuaskan. Kadangkala ujian diganti dengan membuat paper yang lagi-lagi juga membutuhkan kemampuan merangkai kata-kata😛

Saya juga bingung nilai S2 saya lebih bagus dari nilai S1 saya (saya tidak mendapat nilai C seperti ketika saya S1 dulu😀 ). Hmm, sepertinya saya lebih cocok dengan jenis pelajaran seperti itu. Beberapa hari yang lalu, akhirnya seluruh nilai saya sudah keluar dan akhirnya satu keinginan saya akan tercapai lagi. Lulus S2 dengan predikat Cum Laude😀 Ketika S1, saya mendapatkan gajah duduk. Saya tidak tahu apakah di S2 ini saya juga akan mendapatkan gajah duduk lagi😀 Mungkin ada yang bertanya-tanya gajah duduk itu apa? FYI, di ITB ada penghargaan yang diberikan kepada mahasiswa yang lulus dengan predikat Cum Laude. Penghargaannya itu berupa patung gajah duduk yang diberi plakat bertuliskan prodi, nama, nim, dan tanggal wisuda. Syarat Cum Laude sendiri di ITB untuk S1 ialah IPK >= 3.5 sedangkan untuk S2, IPK >= 3.75 (ini kalau tidak salah ingat). Bentuk gajah duduk untuk S1 bisa dilihat di bawah ini (saya tidak tahu apakah bentuk gajah duduk untuk S2 sama dengan S1 atau tidak).

Gajah duduk Cum Laude ITB

Salah satu yang menjadi motivasi terbesar saya untuk lulus di bulan Juli ini terkait dengan kondisi keuangan. Selama ini saya tidak mengeluarkan biaya untuk perkuliahan S2 (kecuali biaya pendaftaran ulang). Seluruh biaya ditanggung dari program beasiswa unggulan DIKTI. Akan tetapi, beasiswa tersebut hanya diberikan selama 1 tahun. Bila seandainya saya tidak lulus sekarang, maka saya harus membayar biaya kuliah dan jujur saja saya bingung mau minta biayanya gimana. Jadi, daripada saya pusing-pusing memikirkan bagaimana meminta biaya kuliah kalau saya tidak bisa lulus tepat waktu, saya akhirnya berusaha mengerjakan Tesis sampai akhirnya dibolehkan sidang oleh pembimbing pada tanggal 24 Mei 2012.

Ketika mendapat persetujuan sidang bahkan tanggal sidang dari pembimbing, rasanya sungguh bahagia😀 Akhirnya saya selangkah lebih dekat menuju gerbang kebebasan😛 Sidang saya pun berlangsung tidak lama. Hanya sekitar 45 menit saja😛 Saya bahkan menyempatkan diri untuk les vokal dulu sebelum sidang (itung-itung pemanasan sebelum presentasi sidang..hohoho..) Presentasi saya hanya sekitar 10-15 menit sepertinya. Penguji saya pun memberikan masukan-masukan yang bermanfaat. Saya jadi bersyukur lagi mendapatkan kombinasi penguji yang baik😀

Menjelang sidang, saya disibukkan oleh urusan mencari tempat tinggal baru berhubung kontrakan saya berakhir di bulan Mei dan jika ingin diperpanjang harganya naik 300ribu rupiah😐 Sungguh dengan fasilitas dan tempat seperti itu, saya tidak rela jika saya harus membayar 1.1juta/bulan😐 Akhirnya saya menyempatkan diri mencari kosan dan kemudian setelah sidang, saya mulai membereskan barang-barang di kontrakan saya dan tanggal 31 Mei 2012 saya pindahan ke kosan baru😀 Kosan baru ini cukup nyaman + kamar mandinya di dalam. Satu-satunya kekurangan adalah tidak ada air panas. Saya harus berjuang lagi membiasakan diri mandi dengan air dingin setelah 1.5 tahun sempat mandi dengan air panas. Well, saya juga tidak akan tinggal lama di kosan baru ini. Bulan Juli saya sudah harus angkat kaki lagi dan mencari tempat tinggal lagi. Mungkin saya akan menumpang sementara di rumah 哥哥.

Kembali ke kampus gajah duduk…

Selama 5 tahun ini banyak yang saya alami di kampus ini. Menjadi asisten berbagai mata kuliah. Menjadi koordinator asisten Laboratorium Programming. Merasakan part-time di dua perusahaan. Internship di PT Garuda Indonesia. Merasakan jadi finalis geMasTIK dua tahun berturut-turut dan merasakan presentasi final di depan juri. Berpartisipasi di Accenture Experience dan ketemu dengan mahasiswa dari UI dan UGM. Ketemu berbagai macam orang selama 5 tahun dan sempat merasakan bagaimana berteman dengan bapak-bapak dan ibu-ibu mahasiswa S2😛 Ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan di ITB sungguh sangat banyak dan kalau dipikir-pikir mungkin agak sedikit sedih meninggalkan kampus tercinta ini😛

Hari ini saya akhirnya sudah membereskan seluruh persyaratan wisuda super banyak itu😐 Yang tersisa sepertinya tinggal mengisi biodata wisudawan, membayar biaya wisuda, dan mengantri di loket Annex untuk tanda tangan ijazah dan mengambil toga. Hello Sabuga! Kita akan bertemu lagi di bulan Juli😀

Saya juga sempat merasakan dilema antara kuliah lagi atau bekerja. Saya berkonsultasi sana-sini dan akhirnya makin bingung =__=” sampai pada akhirnya saya mendapatkan telepon dari 大姐 dan diberikan berbagai petuah. Saya tidak menyangka saja ternyata dia memiliki pemikiran seperti itu. Kata-kata yang dia ucapkan ketika memberikan saran kepada saya membuat dilema dan keraguan yang ada di diri saya hilang. Sungguh saya tidak menyangka.

Hmm, tampaknya sudah cukup panjang. Sekian pengalaman saya kali ini.

再见!

signatureblack

51 thoughts on “Akhir Petualangan 5 tahun di ITB

  1. Perkenalkan saya dari ITB juga tapi angkatan 2008.
    Saya ada sedikit pertanyaan. Mohon jawabannya.
    Kan sewaktu S1, kakak ada nilai C nya. Nah jadi walaupun ada C, asalkan IPK nya >=3.5 tetap cumlaude yah? Terimakasih atas jawabannya ^^

  2. tries ningrum says:

    anak saya : padhang harryndra, angkatan 2006 dr arsitektur ITB, Lulus april 2011. Untuk 2013 depan, dia ingin Lanjut S2 di arsitektur ITB juga, namun dg beasiswa. Sbg ibunya, mohon info dr anda, kira2 program beasiswa apa saja yg membuka kesempatan itu, mengingat fast track tdk mungkin dia ambil krn sdh alumnus. Terima kasih infonya. Facebook.com/tries ningrum

    • setau saya beasiswa buat S2 ada yang dari ITB yaitu beasiswa voucher. Kalau tidak salah, pada saat mengisi formulir pendaftaran juga ada formulir beasiswa voucher yang bisa diisi. Formulirnya bisa didapatkan di websitenya pascasarjana itb.

      Kalau beasiswa lain ada beasiswa dari DIKTI tapi saya taunya beasiswa DIKTI buat program fasttrack. Mungkin ada jenis beasiswa lain lagi seperti BPPS tapi saya tidak tahu prosedur dan persyaratannya seperti apa.

  3. ido says:

    mau tanya, kalau misalnya ada mata kuliah yang dapat nilai B tapi semester depan mengambil mata kuliah tsb lagi spy indeksnya jadi A kira” bisa cum laude tdk y?

    • Setau gw di ITB ga bisa “cuci nilai”..jadi selama uda lulus mata kuliah itu berapapun nilainya, itb ga membolehkan mata kuliah itu diambil lagi buat dapat nilai lebih bagus..cuma kalo ga lulus baru boleh ambil lagi..

  4. Saya jadi termotivasi akan cerita kakak🙂 Saya FTTM 2013 kak, saya ingin bisa seperti kakak hehehe. Do’akan saya ya kaka agar saya bisa sukses layaknya kakak. Makasih banyak kak atas ceritanya, begitu menyentuh titik motivasi saya. Kakak kalau belajar di kontrakan setiap hari atau tidak? Dan setiap pukul berapa sampai pukul berapa? Hehehe.

    • Halo😀
      Semoga sukses juga ya kuliahnya dan juga semoga sukses kalo mau fasttrack😀
      Belajar sih ga tiap hari (saya juga bukan orang yang senang belajar tiap hari), kalau ada tugas dikerjakan jadi itung-itung sekalian belajar. Trus kalau uda mau ujian baru belajar😛
      Jam belajar juga ga pasti. Tergantung mood tapi biasanya sore-malam soalnya saya bukan tipe orang yang bisa bangun subuh-subuh buat belajar😛

  5. Keren banget yaaa, bisa selesai S1 dan S2 dlm waktu lima tahun. Ngeliat diri saya sendiri, saya ngerasa udh banyak buang waktu untuk main-main. Hiks. Terima kasih udh posting tulisan ini, sangat memotivasi.

  6. amira says:

    Halo kak🙂
    Apakah syarat cum laude di itb hanya IPK > 3.5? Ataukah ada syarat lain seperti tidak ada nilai C/D/E/ tidak boleh mengulang/lulus dalam waktu tertentu, dll?

    • Rasanya cuma syarat IPK saja >= 3.5
      kalau soal lulus dalam waktu tertentu, mungkin selama lulus maksimal 4 tahun (S1) dan ipk memenuhi, bisa cumlaude.
      Kalau mau lebih pasti, sebaiknya nanya ke jurusan atau ke dosen wali😀

    • ada syarat IPK tapi lupa berapa, lalu program S2 yang diambil harus sejurusan dengan S1..Ketika sudah menjalani fasttrack, kembali ada syarat IPK untuk mata kuliah S2 minimal 3.5 rasanya..

    • hmm kalo sekarang kurang tau berapaan..kalo jamanku dulu pernah ngekost harga 350rb/bulan sama yg 750rb-800rb/bulan..itu tapi di cisitu bagian atas..daerah cisitu indah baru sama cisitu indah..

  7. Mirza mia says:

    Iya ada kak, predikat untuk IPK di bawah 3.5. Kak, jadi saya mesin ITB IP 3.4, dan IPK 3.3.bakal turun sih kayanya karena semester 7 bakal gila. Nah, nanti untuk ngelamar kerja itu yg 3.4 atau 3.25 ya kak? Yg pasti ga bisa Cumlaude mesin deh.

    • Predikatnya bakal ditulis di ijazah nantinya?
      Buat ngelamar kerja pakai IPK sih, bukan IP soalnya yang perusahaan mau liat itu indeks kumulatifnya.
      Biasanya kebanyakan perusahaan ngasih syarat batas minimum IPK 3 atau 3.25 (kecuali perusahaan besar kayak BCG, McKinsey -> minimal harus cumlaude)..

  8. Mirza mia says:

    Oia kak? Tapi kmarin saya lihat senior yg lulus dapat ijazah sama transkrip nilai akhir dan itu tulisan nya IP bukan IPK kak. Gimana ya? Hehe

  9. Halo kak salam kenal, saya mahasiswi arsitektur semester 3 kak, makasih banget buat infonya kak, jadi termotivasi sekali🙂

    Ohya mau nanya-nanya juga kak, saya kadang bingung sama penilaian dosen khususnya di jurusan arsitektur sendiri, saya sudah mengikuti seluruh perkuliahan, membuat seluruh tugas dan tugas saya sering mendapat nilai A, tapi pas nilai matkulnya keluar justru nilainya ga sesuai hmm. Saya juga kadang bingung mau melakukan apa kalau hasil akhirnya begini terus… Mohon sarannya ya kak, karena sejujurnya saya sering kasian sama ortu yang udah biayain kuliah karena kuliah di arsitektur sendiri biaya sangat besar belum lagi untuk membeli perlengkapan tugasnya. (Wah maaf ya kak kalo jadi curhat hhe)

    • Halo salam kenal juga🙂
      hmm.. kalo soal bobot penilaian gitu, sebaiknya ditanyakan ke dosennya.. biasanya ada dosen yang modelnya: 60% UAS + 30% UTS + 10% tugas/kuis
      Nah kalau dapat dosen yang model penilaiannya kayak gitu kan jadi ga terlalu ngaruh sebenarnya kalau nilai tugas bagus tapi nilai uts dan uasnya ga bagus..
      Selama ini nilai tugas dan ujian gitu transparan ga? atau tiba-tiba cuma keluar nilai akhir? Mahasiswa punya hak buat nanya rincian nilainya ke dosen. Jadi, kalau kamu emang merasa harusnya bisa mendapat nilai lebih, coba tanyakan rinciannya ke dosen. Siapa tahu emang dosennya salah ngasih nilai🙂

  10. Rastine says:

    Salam kenal kakak.. kisahnya sangat memotivasi ^^
    Jadi utk standar IPK cum laude itu dirata2 dari IPK semester awal sampai akhir ka? Atau IPK dari semester paling akhir? Dan yg dibacakan saat wisuda itu IPK paling akhir atau rata2 IPK dari semua semester?
    Makasih..

    • salam kenal juga😀
      ayo semangat kuliah ^^
      IPK sesuai namanya Indeks Prestasi Kumulatif jadi hasil rata-rata dari IP tiap semester (dari awal sampai akhir). Trus, IPK ga dibacakan saat wisuda. Cuma kalau kamu cum laude, nanti pas pembacaan nama bakal disebutin cum laudenya. contohnya: “Gemita lulus dengan predikat cum laude”

      • Rastine says:

        Owh begitu.. makasih kak.. mau nanya lagi nih (maafin banyak nanya hehe) aku kn ambil jurusan keperawatan tp D3.. pngen lanjut S1 pngennya cari beasiswa.. mungkin kakak bisa share situs2 penyedia beasiswa? Soalnya selama ini aku cari beasiswa utk D3 transfer s1 susah sekali. Klo kemaren mulai semester 2 aku dpt beasiswa dr dikti yg kopertis.

  11. yoni says:

    Wah ceritanya sangat inspiratif, semoga kuliah saya juga bisa lancar haha. Oya Kak, maaf saya ada sedikit pertanyaan. Saya sekarang sedang menempuh S2 di ITB dan masih tahun pertama. Menurut kakak kira-kira lebih baik mengambil kuliah lagi setelah lulus atau langsung bekerja. Jujur saja orang tua menganjurkan untuk kuliah lagi dan menjadi pengajar atau dosen sedangkan saya belum ada keinginan untuk itu. Saya sendiri ingin langsung bekerja setelah kuliah S2 namun pengalaman bekerja masih nol, selain itu saya takut overqualified. Menurut kakak bagaimana?

    • Kalau mau melanjutkan S3, harus banyak-banyak publikasi paper di jurnal-jurnal internasional. Lebih bagus lagi kalau sudah punya pengalaman kerja yang sebidang dengan jalur S3-nya nanti. Cuma ada satu hal yang perlu dipertimbangkan: biasanya kalau orang sudah kerja, niat kuliahnya lagi sudah tidak ada. Makanya biasanya selagi masih semangat kuliah, dilanjut terus kuliahnya.
      Menurut saya sendiri, lebih bagus kerja dulu mencari pengalaman baru lanjut S3 lagi. Coba kamu lakukan cost-benefit analysis antara lanjut kuliah langsung atau kerja dulu baru kuliah lagi😀

    • Belajarnya biasa aja pas lagi ada tugas dan beberapa minggu sebelum ujian. Kalau ada yang ga tau, biasanya nanya ke temen atau ke senior.
      Iya, fasttrack di ITB dapat beasiswa BPPS Seamolec waktu itu jadi ga bayar uang kuliah sama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s