Pengalaman Mengajar di SMAN 27 Bandung part.3


Halo! Kembali lagi bersama saya dalam acara berbagi pengalaman mengajar di SMAN 27 Bandung. Kisah yang akan saya ceritakan kali ini merupakan kunjungan ketiga saya di SMAN 27 Bandung. Hari Selasa 3 April 2012, saya dan teman saya, Triana + Gisca, kembali mengunjungi SMAN 27 Bandung yang terletak di Cihampelas untuk melakukan kewajiban mengajar kami. Kisah pengalaman mengajar saya yang pertama dapat dibaca di sini sedangkan kisah pengalaman mengajar saya yang kedua dapat dibaca di sini. Kisah yang saya ceritakan kali ini berbeda dengan kedua kisah saya sebelumnya. Bila kedua kisah sebelumnya menunjukkan betapa saya menikmati mengajar, maka kisah kali ini menunjukkan sisi saya yang tegas dan galak.

Pada kunjungan kami yang ketiga, kami diberi tugas untuk mengawas try out Bahasa Inggris. Seperti biasa, masing-masing mendapat jatah kelas. Triana di kelas IPA (kelas yang diajar saya minggu lalu), saya di kelas IPS 2 (kelas yang diajar Gisca minggu lalu), dan Gisca di kelas IPS 1 (kelas yang diajar Triana minggu lalu). Sesungguhnya hanya kebetulan semata kami semua mendapatkan kelas yang berbeda dari minggu lalu. Setelah mendapatkan soal dan diberikan arahan mengenai tata cara try out, saya dan kedua teman saya berjalan ke kelas masing-masing.

Di kelas IPS 2, ternyata baru lima orang siswa yang hadir. Saya segera membagikan soal beserta lembar jawaban dan mengucapkan hal yang biasanya dikatakan oleh pengawas: “Kerjakan sendiri-sendiri ya. Jangan ada yang nyontek atau kerja sama.” Mereka semua serempak menjawab,”Iya, Bu” (zzz ini gara-gara minggu lalu Gisca dipanggil Ibu, sekarang saya juga dipanggil Ibu oleh mereka😐 ). Tidak lama kemudian semakin banyak murid yang berdatangan. Saat itu memang lagi hujan deras jadi saya maklum kalau mereka telat. Hal yang membuat saya kaget adalah jumlah mereka saat itu ada sekitar 30-40 orang. Padahal pada saat pemantapan yang datang hanya sekitar 10-an orang saja😐

Jumlah orang berbanding lurus dengan keributan. Yap, itulah yang terjadi di kelas saya. Semakin banyak yang datang, semakin banyak pula yang membuat keributan. Entah tertawa, bercerita, bisik-bisik, dan sebagainya. Saya sendiri agak kesal dengan suasana itu dan akhirnya berkata,”Jangan ribut. Kerjanya ga pake mulut.” dan setelah itu mereka agak tenang, tapi tetap saja berisik. Bahkan ada yang dengan sengaja selalu mengucapkan “Sssttt..Sssstt..jangan berisik”😐 Sekali lagi saya mengingatkan mereka untuk tidak berisik sambil memberikan tatapan mata yang mungkin bisa dibilang tatapan mata galak dan kesal.

Saya sadar perilaku saya ketika mengajar dan mengawas ujian tidak bisa disamakan. Ketika mengajar, saya bisa tertawa dan  bercanda dengan murid yang saya ajar, bahkan bisa bertingkah aneh dan mengajak mereka bercanda. Akan tetapi, ketika mengawas ujian, saya tidak bisa seperti itu. Otomatis ekspresi muka saya berubah dari ramah menjadi datar. Mungkin bisa dibilang seperti ini —>😐 tapi kalau mereka semakin kelewatan, ekspresi muka saya pun berubah menjadi ekspresi kesal.

Dari awal masuk kelas, muka saya otomatis berubah menjadi muka datar. Begitu pun saat memberikan petunjuk atau memberikan peringatan kepada mereka. Tidak ada senyum di muka saya. Saya sendiri ingin memberikan pengalaman kepada mereka bagaimana rasanya diawasi oleh pengawas yang tidak murah senyum dan tidak ramah. Saat mereka melaksanakan UN pun tentunya pengawas tidak akan masuk dan membagikan soal beserta lembar jawaban sambil tersenyum dan tertawa. Tentunya mereka juga akan memasang muka datar.

Kembali ke saat try out.

Kode soal Bahasa Inggris yang diujikan ada 2 macam – 315 dan 351. Saya berusaha agar mereka yang duduk sebangku tidak mendapatkan soal yang sama. Soal tersebut terdiri dari bagian listening dan reading dengan komposisi listening 15 soal dan reading 35 soal. Anehnya lagi untuk soal 315, total soalnya hanya 47 nomor. Lebih aneh lagi pada saat saya bertanya ke ruang guru untuk bagian listeningnya bagaimana dan mereka hanya menjawab,”Tidak usah dikerjakan soalnya kita juga tidak diberi kasetnya.”😐 Karena tidak ada infrastruktur maka bagian listeningnya pun dilewatkan begitu saja.

Hal aneh tidak berhenti di situ saja. Soal dengan kode 315 dicetak dengan tidak jelas. Ada garis putih cukup lebar untuk ukuran 1 kata yang memotong soal dari atas sampai bawah dan garis putih itu ada di setiap lembar soal itu😐 Akhirnya saya pergi meminta spidol untuk menuliskan kata-kata di soal yang hilang tersebut. Pencarian spidol memakan waktu yang cukup lama. Kenapa? Karena bahkan di ruang guru tidak ada spidol😐 Sampai akhirnya salah satu ibu guru yang ada di sana memberikan saya spidolnya dan spidol tersebut umurnya tidak panjang lagi. Baru menulis satu soal di papan tintanya sudah melambaikan bendera putih😐 Salah seorang murid juga memberikan saya spidol dan nasib spidolnya sama saja dengan spidol ibu guru tersebut😐 Kedua spidol itu membuat saya harus berusaha ekstra untuk menulis di papan😐😐😐

Saya tahu kalau saya ke ruang guru lagi dan meminta pergantian soal, hal itu akan memakan waktu lama dan belum tentu juga ada pergantian soal. Jadi, walaupun dengan tinta seadanya dan berbekal tebak-menebak kalimat, saya menuliskan kata-kata tidak jelas itu di papan. Lucu juga, saya berusaha menebak kata yang hilang dari setiap kalimat paragraf, soal, dan jawaban yang ada. Kira-kira nyaris setengah jam saya menghabiskan waktu menerka-nerka dan menulis di papan. Saat saya membelakangi mereka untuk menulis, lagi-lagi ada yang sibuk menoleh ke belakang dan tertawa-tawa. Cukup kesal, saya menoleh dan mengatakan,”Jangan ribut.” Peringatan saya hanya efektif untuk sesaat. Anak itu kembali duduk lurus menghadap ke depan dan mengerjakan soalnya. Akan tetapi, pada saat saya telah selesai menuliskan di papan dan duduk, anak itu kembali menoleh dan bercerita. Saya kembali menegur dia dan kali ini agak keras beserta dengan kata-kata yang agak tajam. Setelah itu barulah dia diam dan tidak menoleh-noleh lagi, tapi sesekali masih cekikikan dengan teman sebangkunya.

Saat saya melintasi bangku di depan, tak sengaja saya melihat ada anak yang menggunakan kamus elektronik😐 Oke, ini ujian dan dia dengan terang-terangan di atas meja menggunakan kamus elektronik untuk menerjemahkan soal yang dihadapinya. Tanpa berbicara apa-apa, saya langsung berjalan menuju mejanya dan mengambil kamus elektronik tersebut. Seisi kelas dan tentu saja dia kaget melihat saya mengambil kamusnya begitu saja. Setelah saya meletakkan kamus elektronik tersebut di meja, saya mengumumkan kepada mereka,”Jangan menggunakan kamus dalam bentuk apapun dan juga hp kalian. Coba dipahami secara keseluruhan maksud soalnya apa. Kalau tidak mengerti satu kata, coba diterka maksud keseluruhannya.”

Tiba-tiba ada anak yang nyeletuk,”Trus kalau ga tau semuanya gimana Bu?”

Oke, perkataan anak tersebut sangat mengganggu telinga saya. Ditambah lagi dengan cara duduknya yang malas-malasan sambil bertanya dan senyum nakal di wajahnya. Saya lalu menjawab dengan muka datar,”Kalau memang sama sekali tidak tahu, dikumpulkan saja.” Setelah mendengar jawaban saya, dia diam. Awalnya saya sama sekali tidak bermaksud galak. Saya hanya ingin tegas. Tapi tindakan mereka lama-lama membuat saya kesal juga. Sudah diberi peringatan berkali-kali dan mereka tetap ribut. Belum lagi, mereka berusaha menyontek dengan berbagai cara. Ada yang dengan cara meminjam penghapus ke teman di meja seberangnya dan sambil mengoperkan penghapus tersebut, mulutnya pun ikut menggumamkan pertanyaan/jawaban. Apa mereka berpikir saya tidak tahu hal tersebut? Saya maupun guru-guru yang lain pernah menjadi anak sekolah dan kami pernah berada di posisi kalian. Bukan bermaksud mengatakan saya sering menyontek. Jujur saja, saya paling takut menyontek. Saya paling tidak bisa menyontek. Baru berkeinginan menyontek saja, jantung sudah berdebar kencang dan ekspresi muka saya berubah. Saya bukan jagoan menyontek jadi hal itu paling jarang saya lakukan. Mungkin selama SD-SMA saya hanya pernah menyontek di bawah 3 kali. Akan tetapi, saya sering melihat teman-teman saya menyontek dan itu tidak hanya di sekolah tetapi juga di tempat bimbingan belajar. Oleh karena itu, saya tahu gerak-gerik orang menyontek.

Beberapa kali saya melontarkan peringatan lagi ke arah mereka yang terus-menerus menoleh ke belakang meminta jawaban. Ketika saya mengumumkan bahwa waktu yang tersisa tinggal 20 menit, kelas langsung rusuh. Ada yang dengan cepat memanfaatkan keadaan rusuh itu dengan meminta jawaban dari temannya. Kembali lagi saya memberikan peringatan untuk diam. Akhirnya pada satu waktu, saya tidak bisa lagi mentolerir salah satu anak yang terus menerus bertanya jawaban ke teman di bangku seberangnya. Saya berjalan ke arah anak tersebut dan mengambil soal serta lembar jawabannya. Tanpa mengatakan apa-apa, saya hanya melihatnya sejenak kemudian kembali ke tempat duduk saya. Saya pun melihat sudah sejauh mana anak tersebut mengerjakannya. Untungnya hanya 7 nomor lagi yang belum. Saya sempat panik bagaimana kalau ternyata dia baru mengerjakan 10 soal dan saya sudah mengambil lembar jawabannya. Untungnya kenyataan tidak seperti itu jadi saya kembali tenang.

Lagi-lagi seisi kelas dan dia kaget dengan perbuatan saya. Kalau mereka memang tidak bisa diberitahu lagi menggunakan kata-kata maka dengan perbuatan seharusnya mereka mengerti. Saya tidak akan berbuat sejauh itu kalau mereka mengerjakan dengan jujur dan tidak berisik. Namun, sayangnya kenyataan tidak seperti itu. Anak yang kertasnya saya ambil tersebut awalnya masih duduk di bangku. Mungkin setengah berharap saya akan mengembalikan kertasnya. Dia masih menatap saya yang duduk di meja guru di depan. Namun, saya sama sekali tidak berkeinginan untuk mengembalikan kertasnya dan akhirnya anak itu pun keluar dari kelas.

Tak lama kemudian, ada anak yang bertanya pada saya mengenai soal yang tidak jelas. Nah, untuk hal-hal seperti itu pastinya saya akan membantu. Tidak mungkin saya memasang muka galak kemudia memarahi anak itu. Poinnya adalah ketika memang saya merasa mereka pantas untuk dibantu di waktu yang tepat, saya akan membantu. Tapi kalau memang situasinya sedang ujian, maaf saja, saya cukup strict. Terbersit pula di kepala saya bahwa mungkin tidak seharusnya saya bertindak seperti tadi karena toh ini bukan sekolah saya dan saya hanyalah seorang mahasiswa yang tiba-tiba diberi kewajiban untuk mengajar di sekolah ini. Masih untung saya diterima dengan ramah oleh pengurus sekolah ini. Apa yang terjadi kalau saya ditolak? (sesama teman fasttrack saya ada yang ditolak mengajar oleh sekolah yang dikunjunginya). Sejauh mana seharusnya saya bisa bertindak tegas terhadap mereka? Apakah hanya sebatas memberikan peringatan saja? Kalau saya boleh marah pun, sejauh apa? Batasan inilah yang tidak jelas. Tapi dalam hati saya merasa kalau mereka dibiarkan saja dengan perilaku mereka saat ini, mereka akan semakin parah. Kenyataan bahwa mereka menyontek secara terang-terangan saja sudah bukti kalau mereka dibiarkan begitu saja. Selama ini mungkin ketika ujian mereka dibiarkan saja untuk menyontek dan tidak diberikan sanksi apa-apa. Menyontek menjadi sebuah kebiasaan bagi mereka. Hal ini berdampak buruk. Mereka tentunya jadi malas belajar dan menganggap toh nantinya bisa meminta jawaban dari teman yang sudah belajar. Kalau terus-menerus dibiarkan, kapan mereka akan maju? Kapan mereka akan menyadari kalau belajar itu penting? Kapan mereka akan berusaha? Oleh karena itu, saya bersikap tegas pada saat try out tersebut.

Kembali ke kondisi try out.

Ketika saya mengumumkan bahwa waktunya sudah habis, seperti biasa kelas kembali rusuh. Banyak yang panik dan kembali menyontek secara terang-terangan. Saya kembali memberikan peringatan untuk segera mengumpulkan soal beserta lembar jawabannya. Banyak yang masih berusaha menghitamkan pilihan jawaban yang ada di lembar jawabannya. Sungguh, kalau dulu saya dan teman-teman saya seperti ini ketika ujian, sudah pasti lembar jawaban saya dan teman-teman saya akan disobek oleh guru dan kami tidak diperbolehkan mengikuti ujian lagi. Tapi nampaknya mereka sama sekali tidak takut dan tetap menyontek dengan terang-terangan. Bahkan dua orang yang persis di depan meja saya melakukan hal itu juga. Salah satu anak yang duduk di depan meja saya meminta jawaban pada teman sebangkunya dan teman sebangkunya memberikan jawaban tersebut bahkan sampai memperlihatkan lembar jawabannya. Saya tentu saja super kesal melihat hal tersebut dan langsung memarahi mereka dan menyuruh mereka mengumpulkannya (FYI, saya saat itu sedang tidak bisa bergerak ke arah mereka karena dikerumuni anak-anak yang mengumpulkan lembar jawaban dan soal). Begitu dimarahi, anak yang meminta jawaban tersebut langsung menendang kaki mejanya sambil berjalan dengan muka kesal ke saya. Satu lagi sikap tidak sopan mereka. Saya jadi bingung mereka tidak diajar sopan santunkah? Atau memang anak jaman sekarang tidak lagi menghormati orang lain? Menganggap dirinya paling benar dan orang lain yang tidak sepaham dengan mereka atau orang yang berusaha mengingatkan mereka ketika mereka melakukan hal yang salah itu merupakan orang yang salah dan tidak perlu dihormati? Mungkin di mata dia saat ini saya merupakan musuhnya. Musuh yang menghancurkan kesempatan dia menyontek dan musuh yang memarahinya. Mungkin dia berpikir saya tidak punya hak untuk memarahinya dan berbagai kemungkinan lainnya.

Sesungguhnya saya tidak peduli dengan kemungkinan apapun yang ada di kepalanya saat itu. Yang saya tahu, dia berbuat salah dan sudah sepantasnya saya memperingatkan, menegur, bahkan memarahi dia kalau memang itu bisa membuat dia sadar. Tidak mungkin saya membiarkannya begitu saja.

Yap, dengan berbagai insiden tersebut selama try out, saya sukses membuat saya dikenal sebagai seorang mahasiswa yang galak dan menyebalkan bagi anak-anak di kelas IPS 2 tersebut. Pastinya separuh kelas tersebut kesal melihat saya dan juga tindakan saya, apalagi anak-anak yang saya tegur dan mendapatkan perilaku tegas saya. It’s not a problem for me, though.

Setelah selesai mengumpulkan soal dan lembar jawaban mereka, saya memasukkannya ke dalam amplop dan bergegas menuju ruang guru. Di sana saya menyerahkan amplop tersebut dan mengembalikan spidol yang saya pinjam tadi. Selagi menyerahkan amplop tersebut, saya diajak ngobrol oleh bapak wakil kepala sekolah yang menerima kami dengan ramah pada saat kunjungan ke sekolah yang ada di Gede Bage. Hidung saya mendeteksi bau rokok dan ternyata bapak itu merokok. Merokok di dalam ruangan. Pusing. Itu yang saya rasakan. Saya memang tidak tahan dengan bau rokok dan dengan cepat bisa pusing. Maka saya pun berusaha menyudahi obrolan saya dengan bapak tersebut. *maaf Pak, bukannya tidak mau ngobrol dengan bapak tapi saya tidak tahan dengan bau rokok*

Saya pun keluar dari ruangan tersebut dan menunggu Gisca serta Triana. Berulang kali guru-guru beserta bapak tersebut menyuruh saya untuk duduk menunggu di dalam ruangan saja sambil minum dan makan pisang. Tapi saya hanya bisa tersenyum saja dari luar sambil memainkan handphone saya. Mungkin saya dianggap tidak sopan, tapi apa boleh buat. Daripada saya berakhir dengan sakit kepala hebat, lebih baik saya dianggap tidak sopan. Tak berapa lama kemudian Gisca dan Triana kembali dengan amplopnya masing-masing. Setelah menyerahkan amplop tersebut, kami pun pamit.

Selesailah kunjungan kami yang ketiga.

Maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dan bila ada pihak yang tersindir. Saya tidak bermaksud apa-apa dan hanya menuliskan apa yang saya alami dan rasakan. Sekian.

signatureblack

5 thoughts on “Pengalaman Mengajar di SMAN 27 Bandung part.3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s