Pengalaman Mengajar di SMAN 27 Bandung part.2


Hola! Kembali lagi bersama saya dalam liputan pengalaman mengajar di SMAN 27 part.2 dalam rangka pengabdian karena menerima Beasiswa Unggulan Fasttrack. Sedikit spoiler, saya juga tidak tahu tulisan pengalaman mengajar ini akan sampai part berapa, jadi tetap setia menantinya ya😀

Hari ini, Kamis 29 Maret 2012, saya, Gisca, dan Triana kembali mengunjungi SMAN 27 yang terletak di Cihampelas. Kali ini kami sampai lebih awal dibanding minggu lalu. Pukul 13.40 kami sudah berada di sekolah. Murid-murid SMAN 2 tampak baru selesai sekolah dan berbondong-bondong keluar. Kami segera menuju ruangan guru yang terletak di sebelah Lab. Matematika. Di tengah perjalanan ke sana, kami bertemu murid-murid kelas IPA yang minggu lalu kami ajar dan rupanya mereka masih mengingat saya dan Gisca😀 Mereka menyapa kami dengan senyuman😛

Begitu sampai di ruang guru, kami sempat mengobrol sejenak dengan guru-guru yang ada di sana. Setelah itu, kami akhirnya masuk ke kelas IPA untuk memulai sesi mengajar. Saat kami masuk ke ruangan tersebut, saya menyapa mereka dengan mengatakan,”Halo semua, berjumpa lagi dengan kami”😀 dan mereka dengan semangat pula mengatakan,”Halo kakak”😀 Sesi mengajar dimulai dengan perkenalan dari Triana. Saya menanyakan kepada mereka bahan apa yang tidak dimengerti dan mereka masih tetap dengan bahan integral parsial *sejujurnya saya sudah lupa itu yang mana*😛

Saya lalu meminjam materi pemantapan matematika mereka dan mulai membahas soal matematika yang ada di sana. Kami membahas soal yang masih bisa kami kerjakan. Setelah kira-kira setengah jam berlalu, salah seorang ibu guru yang ada di sana meminta kami mengisi kelas IPS minggu lalu. Akhirnya Triana pun pergi untuk mengajar di kelas IPS minggu lalu. FYI, kelas IPS minggu lalu yang kami masuki merupakan kelas dimana terdapat siswi-siswi yang sibuk berkaca, melintir-melintir rambut, dan juga siswa yang sibuk main kartu😐 Saya dan Gisca masih melanjutkan di kelas IPA. Kami bergantian menjelaskan di papan tulis soal matematika yang ada di materi pemantapan tersebut. Awalnya kami berniat mengerjakannya berurutan, tapi karena banyak yang lupa, akhirnya kami pun loncat-loncat membahasnya😛

Sekitar setengah jam kemudian lagi, ibu guru yang tadi kembali datang ke kelas IPA dan meminta kami untuk mengajar di kelas IPS yang satu lagi. FYI, ada 2 kelas IPS di sana. Setelah berunding, Gisca pun pergi untuk mengajar kelas IPS tersebut. Tinggallah saya sendirian di kelas IPA tersebut. Saya merasa waktu tadi kurang efektif untuk mengajar sebab saya harus mengerjakan soalnya terlebih dahulu di kertas dan setelah mendapatkan jawabannya barulah saya menjelaskannya di papan tulis. Jujur saja itu memakan waktu yang agak lama berhubung ingatan saya tentang matematika sudah mulai pudar. Selagi mengerjakan soal-soal matematika tersebut, saya teringat betapa saya senang dengan pelajaran matematika. Rasanya seperti bertemu teman-teman lama saya – cos, sin, log, lim, dan berbagai teman lainnya😀 *ugh saya kangen kalian*

Soal-soal matematika yang saya jelaskan di kelas IPA tadi terkait materi berikut:

  • Persamaan kuadrat dan akar-akarnya
  • Bangun ruang
  • Logaritma
  • Trigonometri
  • Vektor

Sepertinya jumlah soal yang saya bahas tadi ada sekitar 10 soal. Kondisi di kelas ya seperti minggu lalu, ada yang serius memperhatikan dan ada yang tidak memperhatikan sama sekali. Tapi, mereka cukup memperhatikan pada saat dijelaskan di papan tulis dan mereka pun mencatat penjelasan saya *terharu*😛 Sekitar pukul 15.30 WIB, saya mengakhiri pertemuan tersebut dan kembali menyampaikan pesan untuk mencatat bahan yang tidak dimengerti dan akan dibahas di minggu depan. Triana juga sudah kembali dari kelas IPSnya. Ternyata di kelas IPS tersebut, dia mengajar bahasa Inggris dengan bahan Tenses.

Setelah keluar dari kelas IPA, saya dan Triana masuk ke kelas yang sedang diajar Gisca. Rupanya Gisca juga sedang mengajar bahasa Inggris dan bahan yang diajarkan adalah conditional *kalau saya tidak salah ingat*. Jumlah siswa di kelas tersebut sangat sedikit. Mungkin sekitar 10 orang dan yang benar-benar memperhatikan hanya 1 orang. Sisanya ada yang setengah memperhatikan dan ada yang sama sekali tidak peduli😐 Hmm, sepertinya mereka butuh diberikan tugas untuk menghafalkan perubahan verb dari bentuk 1 sampai bentuk 3 karena kosakata mereka sangat sedikit. Mereka juga masih mengalami kesulitan untuk memahami arti kalimat soal yang diberikan.

Kalau di kelas IPA tadi, permasalahan terbesar mereka bukan karena tidak bisa mengerjakan soal sama sekali tapi karena tidak mengingat rumus. Hal ini terbukti ketika mereka lupa rumus luas segitiga untuk segitiga yang tidak siku-siku. Tadi mereka menjawab rumus luasnya itu adalah 1/2(alas*tinggi) padahal hal tersebut hanya berlaku untuk segitiga siku-siku atau segitiga yang tingginya tegak lurus dengan alas dan nilai tingginya diketahui. Bila nilai tinggi tidak diketahui dan nilai yang diketahui hanya nilai ketiga sisi a, b, dan c maka seharusnya menggunakan rumus luas yang memanfaatkan s serta ketiga sisi a, b, dan c.

Ternyata catatan bimbel saya cukup membantu saya mengerjakan soal matematika itu😛 Rasanya saya perlu menyegarkan kembali ingatan saya akan rumus dan konsep matematika dengan membaca bahan pelajaran SMA lagi. Tapi, walaupun banyak yang sudah dilupakan, saya tetap senang berhadapan dengan soal matematika lagi. Rasanyaaaaaaa..bahagiaaaaa mengingat sudah 3 tahun lebih tidak pernah berjumpa dan mengerjakan soal matematika lagi😀

Yosh! Sampai berjumpa dengan cerita pengalaman mengajar saya minggu depan😀

再见!

signatureblack

One thought on “Pengalaman Mengajar di SMAN 27 Bandung part.2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s