Pengalaman Mengajar di SMAN 27 Bandung part.1


Berawal dari program fasttrack yang saya ikuti, saya mendapat kewajiban untuk melakukan pengabdian di salah satu SMA negeri yang ada di Bandung. Pengabdian tersebut merupakan salah satu kewajiban yang harus dijalankan oleh mahasiswa fasttrack karena mendapatkan beasiswa unggulan dari DIKTI. Saya beserta dua orang teman saya, Gisca dan Triana, dialokasikan di SMAN 27 Bandung.

SMAN 27 Bandung awalnya berada di Jalan Cihampelas dimana SMAN 27 menempati bangunan yang sama dengan SMAN 2 Bandung. Jangan mencari papan nama SMAN 27 di Jalan Cihampelas, karena anda tidak akan menemukannya. Murid-murid SMAN 27 memulai kegiatan sekolahnya pada pukul 13.30 WIB. Mereka sekolah siang karena di pagi hari bangunannya digunakan oleh murid-murid SMAN 2. SMAN 27 sendiri sudah memiliki gedung baru yang terpisah dari SMAN 2 dan letaknya di daerah Gedebage. Tepatnya di Jalan Raya Cimincrang Kel. Rancanumpang, Gedebage.

Kenapa saya bisa menghafal alamat SMAN 27 yang di Gedebage tersebut? Hal ini karena saya dan teman saya, Gisca, telah mengunjungi tempat tersebut. Pada hari Selasa 20/03/2012, kami datang pagi-pagi ke SMAN 27 namun ternyata mendapat kabar kalau pengurus SMAN 27 ada di Gedebage di pagi hari dan baru ada siang hari di SMAN 2. Kami pun memutuskan untuk mencoba mencari SMAN 27 yang ada di Gedebage tersebut. Karena tidak tahu jalur angkot ke sana, kami akhirnya naik taksi dari Cihampelas dan tempatnya ternyata sangat jauh :( menghabiskan Rp 60.000,00 untuk ongkos taksi :(

Sesampainya di sana, kami disambut dengan antusias setelah kami menjelaskan maksud kedatangan kami. Akhirnya diputuskan bahwa kami akan mengajar murid kelas 3 SMA yang ada di Cihampelas sampai pertengahan April kemudian mengajar murid kelas 1 dan 2 SMA yang ada di Gedebage. FYI, yang ada di Cihampelas hanya murid kelas 3 saja dan saat ini mereka sedang pemantapan demi menghadapi UN. Perjalanan kembali ke ITB juga menghabiskan uang yang cukup banyak. Harus naik ojek sampai ke jalan besarnya dan mengeluarkan ongkos Rp 7.000,00 kemudian naik angkot dengan ongkos Rp 6.000,00. Kalau dihitung-hitung, jika dalam seminggu kami harus ke sekolah yang di Gedebage tersebut sebanyak 2x, maka kami akan menghabiskan ongkos > Rp 200.000,00/bulan :(

Kembali ke topik utama. Hari ini saya dan Gisca pergi ke SMAN 27 yang ada di Cihampelas. Niat awal kami hanya negosiasi mengenai jumlah pertemuan dan mata pelajaran yang akan diajarkan. Tapi ternyata, kami langsung disuruh mengisi kelas. Kebetulan ada kelas yang kosong karena gurunya berhalangan hadir. Masuklah kami ke kelas IPS. Jumlah siswanya tidak terlalu banyak. Rasanya tadi yang datang hanya 16 orang. Ternyata setelah bertanya ke salah satu anak yang ada di sana, seharusnya jumlah mereka 27 orang tapi banyak yang tidak datang.

Diawali dengan perkenalan, kami pun berbagi pengalaman kami di ITB. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh mereka seputar tips menghadapi UN, bagaimana belajar bahasa Inggris dengan cepat, bagaimana rasanya kuliah di ITB, MOS di ITB seperti apa, dan sebagainya. Setelah kami bertanya kepada mereka, ternyata mereka memiliki kendala di pelajaran Bahasa Inggris, khususnya grammar, dan Matematika. Saya sendiri sejujurnya kurang bisa grammar bahasa Inggris, jadi akhirnya saya menanyakan kesulitan mereka di bidang Matematika. Ternyata kesulitan mereka terletak di pecahan. Mereka masih sulit melakukan operasi aritmatika pada pecahan khususnya pecahan campuran. Mengubah pecahan campuran menjadi bilangan desimal dan sebaliknya pun masih kesulitan.

Berangkat dari kesulitan mereka dengan pecahan tersebut, akhirnya saya dan Gisca memberikan beberapa soal sederhana terkait dengan pecahan. Jenis soal yang saya berikan adalah:

  1. Operasi aritmatika pecahan biasa
  2. Operasi aritmatika pecahan campuran
  3. Operasi aritmatika pecahan biasa dan campuran
  4. Mengubah pecahan biasa dan campuran menjadi desimal
  5. Mengubah bilangan desimal menjadi pecahan biasa dan campuran
  6. Menyederhanakan pecahan
  7. Mengubah persen menjadi pecahan
  8. Operasi aritmatika gabungan antara pecahan biasa, pecahan campuran, dan bilangan desimal
  9. Membulatkan bilangan desimal

Selain pecahan tersebut, diberikan juga soal mengenai turunan. Mereka rupanya masih kebingungan dengan turunan sehingga saya memberikan persamaan yang melibatkan dua variabel, x dan y, kemudian diturunkan terhadap salah satu variabel.

Seperti biasa di kelas tentu saja ada siswa yang sangat memperhatikan dan ada siswa yang tidak memperhatikan. Saat saya bertanya apakah mereka sudah siap untuk UN, mereka menjawab siap tapi terkadang gurunya tidak masuk untuk pemantapan sehingga mereka juga bingung sendiri. Saya mencoba mengingat-ngingat pengalaman saya di SMA, rasanya memang sama tipikal siswa di kelas IPS. Mereka biasanya mengalami kesulitan di pelajaran Matematika dan biasanya kesulitan tersebut terletak di hal-hal mendasar. Hal inilah yang membuat kami memberikan soal sederhana yang bisa dibilang soal tersebut untuk anak SD/SMP. Tapi, walaupun soal tersebut sederhana, masih banyak dari mereka yang bingung. Menurut saya, hal-hal mendasar tersebut penting sebab konsep di Matematika dibangun atas hal-hal mendasar tersebut.

Kami menghabiskan waktu 1 jam di kelas tersebut dan akhirnya mengumumkan bahwa kami mungkin akan datang lagi minggu depan jadi silahkan dipersiapkan hal-hal terkait bahasa Inggris dan Matematika yang tidak dimengerti :D

Selanjutnya kami beristirahat setengah jam dan pukul 16.00 WIB, kami masuk ke kelas IPA. Murid-murid kelas IPA tersebut baru saja selesai ujian praktikum Biologi. Tampang mereka juga sudah kelelahan. Murid di kelas ini jumlahnya lebih banyak, sekitar 40 orang. Katanya, itu hasil 2 kelas digabung. Sama seperti yang kami lakukan di kelas IPS, kami mengawalinya dengan perkenalan. Setelah itu masuk ke sesi tanya jawab. Murid di kelas IPA tampak lebih antusias saat bertanya. Mereka bertanya seputar cara masuk ITB, susah atau tidak SNMPTN, jurusan yang kami ambil apa dan bisa kerja jadi apa, IPK berapa :D, sudah di semester ke berapa, dan sebagainya.

Tipikal anak IPA, sering berisik tapi berisiknya karena cerita dan bukan karena berdandan atau sibuk berkaca *agak stereotype sih*. Kemudian akhirnya mereka memberikan soal yang tidak mereka mengerti. Soal itu soal matematika dan tentang deret. Sesungguhnya soal itu harus dikerjakan dengan logika. Tidak bisa dikerjakan dengan menggunakan rumus saja. Harus menggunakan asumsi-asumsi. Setelah berembuk dengan Gisca dan mendapatkan jawabannya, saya pun menjelaskannya di papan tulis. Mereka sepertinya mengerti :P

Soal yang tadi saya dapatkan adalah:

Rata-rata 5 bilangan dalam deret aritmatik adalah 350. Dua di antara bilangan tersebut adalah 99 dan 102. Sisa bilangan yang lain lebih besar dari 102. Tentukan kemungkinan nilai terbesar yang ada di dalam deret tersebut.

A. 516           B. 943       C.1342       D.1343       E.1549

Kemudian, sesi mengajar itu dilanjutkan dengan pertanyaan seputar Fisika yaitu tentang aturan tangan kanan atau apalah itu. Saya sama sekali tidak bisa Fisika jadi Gisca-lah yang menjawabnya :P Terkadang sesi tanya jawab itu juga diselingi dengan bertanya mengenai pemilihan jurusan yang mereka inginkan. Pukul 17.00 WIB, kami menyudahi kegiatan mengajar tersebut dan mengumumkan bahwa kami mungkin akan datang lagi minggu depan jadi silahkan dipersiapkan hal-hal terkait bahasa Inggris, Matematika, Kimia, Fisika, dan Biologi yang tidak dimengerti.

Minggu depan kami akan datang lagi dan tentunya dengan persiapan :D Mungkin saya akan membaca-baca lagi bahan SMA saya dan Gisca akan mencari buku soal sebagai latihan bagi mereka.

Kegiatan mengajar tersebut mengingatkan saya akan pengalaman mengajar saya selama saya SMP sampai SMA dulu di Makassar dan juga mengingatkan saya akan pengalaman mengajar di Rumah Belajar sewaktu tingkat 2. Mengajar itu menyenangkan :D Membuat murid-murid yang awalnya tidak mengerti menjadi mengerti memberikan kepuasan tersendiri. Menguji mereka dengan soal-soal yang menjebak juga menyenangkan :P Melihat ekspresi mereka saat salah menjawab juga menyenangkan :P Anyway, saya senang mengajar dan saya ikhlas menjalankannya walaupun mengajar tersebut disuruh :D

Akan tetapi, satu kendala. Tempatnya sangat jauh :( Kami harus melewati banyak sawah untuk sampai ke bangunan sekolah yang di Gedebage. Di sekeliling sekolah tersebut hanya ada rumput dan sawah :| Ongkos yang dikeluarkan pun bukan tergolong nominal yang kecil untuk ukuran mahasiswa :(

Perjalanan mengajar masih panjang :D Sampai berjumpa minggu depan!

再见!

signatureblack

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s