Fobia


Mengutip dari Wikipedia:

Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena . Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya.

Fobia terdiri dari berbagai jenis karena rasa takut seseorang akan sesuatu tentunya bermacam-macam. Daftar jenis fobia yang ada dapat dilihat di sini. Saya sendiri memiliki ketakutan dan mungkin bisa dikatakan fobia. Akan tetapi, ketakutan tersebut belum sampai taraf akut seperti misalnya kesulitan bernafas ketika berada di ruangan sempit atau di dalam lift seperti yang dialami oleh orang yang menderita claustrophobia.

Ketakutan yang saya miliki adalah takut akan air dan takut akan ketinggian – Hydrophobia dan Altophobia. Saya menyadari ketakutan saya akan ketinggian pada saat tingkat pertama saya di ITB – sekitar tahun 2008. Saat itu saya dan teman kost-an mencoba menyeberang jalan menggunakan jembatan penyeberangan yang ada di dekat Dago Asri. Pada saat saya mulai naik ke jembatan tersebut dan melihat ke bawah, kaki langsung menjadi lemas dan jantung jadi berdebar kencang. Saya pun mulai sulit untuk melangkah ke depan. Sebenarnya sewaktu SMP saya sempat mengalami perasaan tersebut ketika berdiri di bangku paling atas sebuah stadion sepakbola. Namun, saat itu saya mengira saya hanya kecapean saja.

Untuk ketakutan akan air, saya lupa tepatnya kapan saya menyadari ketakutan tersebut. Saya bisa berenang tapi tidak mahir dan anehnya lagi saya tidak bisa mengambang begitu saja kalau sedang tidak berenang. Walaupun saya sudah berusaha menggerakkan kaki saya dengan gaya seperti sedang mengayuh pedal sepeda, tetap saja badan saya tidak mengambang. Pengalaman yang masih saya ingat dengan jelas di kepala saya adalah ketika akan berlibur ke pulau Kayangan yang berada di Makassar. Pulau tersebut dapat dijangkau dengan menggunakan kapal kecil. Tentunya bukan sampan atau kapal yang digerakkan dengan mendayung. Untuk dapat naik ke kapal tersebut, terdapat jembatan kecil dari kayu yang berada di atas air. Jembatan kecil tersebut harus diseberangin sampai ke ujung dan jaraknya cukup jauh dari daratan. Jembatan itu tidak memiliki pegangan di kiri dan kanannya dan kalau tidak melangkah hati-hati maka air yang banyak tersebut siap menampung anda. Sepanjang perjalanan saya menyeberangi jembatan tersebut saya tidak berhenti berdoa semoga sampai di ujung jembatan dengan selamat. Setiap kali saya melihat di sekeliling saya lautan yang luas, perasaan takut langsung hinggap dan merambat dengan cepat bahkan terkadang membuat saya pusing.

Karena ketakutan akan air inilah, saya sebenarnya kurang suka liburan ke pantai. Kalaupun harus liburan ke pantai, saya tidak berani untuk naik permainan di tengah laut seperti banana boat dan permainan lainnya. Liburan ke pantai masih menyenangkan selama saya masih berada di pinggir pantai bermain dengan pasir atau sedikit air laut dan tidak berada di tengah laut. Saya juga kurang suka dengan olahraga arung jeram. Selama masih bisa menghindar saya akan menghindar. Pada saat liburan bersama kantor tempat saya part-time dulu diadakan acara arung jeram. Awalnya saya berusaha menghindar namun ternyata semuanya ikut arung jeram. Jadilah saya mau tak mau harus ikut arung jeram tersebut. Sepanjang perjalanan arung jeram, saya tidak berani bergerak macam-macam di atas perahunya dan juga memegang erat dayung saya. Sungguh, perasaan takut itu tidak hilang selama perjalanan. Mau senyum dan tertawa pun susah. Muka saya tegang, Takut kalau tiba-tiba perahunya kebalik dan saya terjerat air sungai itu.

Sama halnya dengan kurang suka liburan ke pantai, saya juga sebenarnya kurang suka diajak ke Dufan. Kenapa? Karena kalau ke Dufan seharusnya bermain roller coaster, halilintar, atau permainan apapun yang meningkatkan adrenalin. Tapi apalah daya, saya tidak berani memainkan permainan tersebut. Ketakutan saya akan ketinggian lebih besar daripada niat untuk main. Pernah satu kali saya naik roller coaster mini demi menemani ponakan. Sepanjang permainan, saya tidak berani membuka mata karena rasa takut itu begitu besar. Satu-satunya permainan yang masih berani saya mainkan walau agak tinggi adalah Niagara. Naik kereta ke atas kemudian meluncur dengan cepat ke bawah dimana di bawah terdapat air yang cukup banyak. Kalau disuruh naik permainan itu, saya masih berani. Walaupun ketika keretanya meluncur dengan kencang ke bawah lagi-lagi saya tidak berani membuka mata. Selain Dufan, kegiatan mendaki gunung pun saya lalui dengan deg-degan. Beberapa kali saya ikut kegiatan mendaki gunung atau naik ke bukit. Hati selalu berdebar-debar dan setiap kali melihat ke bawah kaki saya langsung lemas. Hal lain yang juga menakutkan untuk saya adalah naik lift yang dindingnya kaca sehingga bisa melihat keluar. Pada saat lift tersebut beranjak naik dan saya melihat sekeliling saya makin lama makin tinggi, rasa takut itu langsung meluap. Tapi, kalau liftnya tertutup semua, hal tersebut tidak menjadi masalah.

Hydrophobia dan Altophobia. Fobia inilah yang menghalangi saya menikmati liburan di pantai atau di gunung dan bermain di Dufan. Semoga fobia ini bisa sembuh.

signatureblack

2 thoughts on “Fobia

  1. Hai, Genita. Salam kenal.
    Menurutku phobia itu gak selamanya buruk lo. Itu mekanisme (program) otak kamu untuk membuat kamu tetap hidup dan tetap terhindar dari ancaman😀. Tapi emang ada sih phobia yang menganggu. Kalo kamu merasa gak keganggu sama phobia, sebenarnya gak jadi masalah kalo kamu mau nyimpan (program) itu di otak kamu. Tapi kalo merasa keganggu, apalagi kalo kamu merasa kebebasan dalam menikmati hidup terhambat, kamu bisa juga membuang atau menghapus program itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s