Hasil Semester 1 2011/2012


Perjuangan semester pertama magister di tahun ajaran 2011/2012 ini telah berakhir pada tanggal 19 Desember 2011 yang lalu. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya berusaha menyelesaikan Tugas Akhir kemudian sidang dan akhirnya wisuda. Tanpa sempat merasakan liburan, selepas revisi Tugas Akhir saya diharuskan mengurus kelengkapan pendaftaran magister untuk program fasttrack saya. Lagi-lagi tanpa merasakan liburan, tiba-tiba saja sudah wisuda dan harus mengikuti proses pendaftaran mahasiswa baru dan kemudian menjalani perkuliahan semester 1 2011/2012.

Ketika baru selesai mengikuti proses pendaftaran mahasiswa baru, semangat saya masih tinggi untuk mengikuti perkuliahan. Saya antusias mempelajari berbagai mata kuliah baru (walaupun dosennya sebagian besar sama dengan dosen ketika S1). Akan tetapi, ketika memasuki pertengahan semester, saya mulai merasa jenuh. Jenuh kuliah. Jenuh mengerjakan tugas. Semangat belajar dan mengerjakan tugas itupun menurun drastis. Tugas baru dikerjakan ketika menjelang garis mati (baca: deadline). Saya juga kurang peduli dengan tugas kelompok. Jika memang anggota kelompoknya bisa diandalkan, maka saya tidak bertanya kapan tugas akan dikerjakan, bagaimana pembagian tugasnya, dan hal-hal lainnya terkait pengerjaan tugas dari jauh hari. Padahal dulu ketika ada tugas kelompok, saya pasti akan menghubungi anggota kelompok dari jauh-jauh hari untuk membicarakan pembagian tugas. Saya baru akan bertanya ketika lagi-lagi menjelang garis mati dan baru pada saat itu jugalah otak saya bekerja untuk memikirkan pembagian tugas yang efisien dan memikirkan hal-hal lain terkait pengerjaan tugas. Satu hal yang masih belum berubah sampai saat ini adalah saya kurang suka kalau tugas kelompok baru akan disatukan menjelang garis mati. Prinsip saya dari dulu adalah sebisa mungkin menggabungkan pekerjaan anggota kelompok maksimal H-1. Tapi rupanya prinsip saya ini tidak bisa diterapkan pada semester ini dan itu juga karena kesalahan saya sendiri yang malas-malasan dalam mengurus tugas kelompok.

Belajar tetap dilakukan jika akan ujian. Rasanya ketika masuk dan duduk di kelas mendengarkan penjelasan dosen sangat membosankan. Berbagai insiden dengan dosen mata kuliah tertentu membuat pandangan saya terhadap dosen tersebut menjadi sangat berbeda. Dari yang awalnya cukup respek (karena pada dasarnya memang kurang mengenal dosen tersebut) menjadi sangat tidak respek. Saya termasuk orang yang bila tidak suka dengan sesuatu maka akan berusaha sekeras mungkin menjauhi sesuatu tersebut. Dan hal ini berlaku pula dengan kuliah. Ketika saya sangat tidak respek lagi terhadap dosen tersebut, saya mulai duduk di barisan paling belakang di kelas dan hanya sesekali mendengarkan penjelasannya atau membaca slide yang terpampang di depan. Sisanya? Saya sibuk memainkan handphone – membaca tweet orang, nge-plurk, bahkan melakukan hal tidak perlu seperti me-refresh tweetdeck setiap menitnya. Terkadang kegiatan memainkan handphone diselingi dengan kegiatan menggambar.

Banyak perubahan yang saya rasakan pada diri sendiri selama masa perkuliahan. Saat TPB saya rajin mencatat penjelasan dosen. Hal ini berlanjut sampai pada semester 6 S1. Menjelang semester 7 S1 saya mulai malas mencatat namun bisa dilihat catatan saya masih rapi. Awal semester 1 magister ini saya pun berniat untuk memperhatikan penjelasan dosen dan mencatat. Namun hasilnya, catatan saya berantakan dan ditulis pada sebuah notes kecil dan itu pun hanya satu mata kuliah yang dicatat dengan penuh perhatian. Mata kuliah lain hanya punya catatan sebanyak 1-5 lembar dengan tulisan tidak rapi. Perubahan lainnya adalah saya tidak mau menggambar di kertas loose leaf yang seharusnya digunakan untuk mencatat. Namun, sejak pertengahan semester 1 saya tidak peduli lagi dengan kertas loose leaf itu dan saya menggunakannya untuk menggambar. Perubahan lainnya lagi adalah kurang peduli dengan tugas kelompok seperti yang telah disebutkan di atas.

Penyesalan selalu datang belakangan. Nah, itulah yang saya rasakan ketika menghadapi minggu UAS. Tugas yang tiba-tiba menumpuk dengan garis kematian pada minggu UAS membuat saya kelabakan. Mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Itulah yang saya lakukan setiap kali mengerjakan tugas tersebut. Saya mengeluh. Mengeluh mengapa diberikan tugas sebanyak ini, mengeluh mengapa spesifikasi tugasnya tidak jelas, mengeluh mengapa dosennya `jahat`, dan berbagai keluhan lainnya. Pada saat belajar untuk UAS pun saya mengeluh. Mengeluh bahannya banyak, mengeluh mengapa dosennya memberikan bahan sebanyak ini sementara yang akan keluar di ujian hanya 5 nomor, dan yang terakhir mengeluh mengapa saya tidak mencicil bahan pelajaran itu dari kemarin-kemarin. Bahkan di sela-sela keluhan saya, saya masih menyempatkan diri untuk nonton. Ya, NONTON😐. Sungguh, saya membuang waktu belajar dengan nonton. Padahal hal itu tidak pernah saya lakukan sejak bersekolah. Kalau ada ujian saya pasti belajar dan tidak akan melakukan kegiatan lain seperti baca komik, main game, ataupun nonton film berjam-jam. Rasa penat dan bosan kuliah ini sungguh luar biasa besar sampai membuat saya rela membuang waktu dengan nonton dan baru mengerjakan tugas atau belajar ketika malam tiba. Bila sudah larut malam dan tugas itu belum selesai, mood saya langsung berubah menjadi super jelek dan saya pun marah-marah. Marah pada diri sendiri kenapa tidak dikerjakan dari pagi dan malah nonton. Tapi, hal itu terus berulang selama semester 1 kemarin.

Ketika membaca soal ujian pun, jawaban setiap soal terlintas di kepala dan hal yang paling menyebalkan adalah satu perkataan yang selalu terngiang di kepala “AH! gw tau jawabannya ada di slide yang ini. Tapi apa ya isi slidenya?”. Saya bisa mengingat dengan jelas slide mana yang berisi jawaban soal tersebut tapi sayangnya saya sama sekali tidak bisa mengingat isi slide itu. Penyesalan pun kembali datang. Mengapa tidak belajar dengan baik sebelumnya? Mengapa tidak berusaha lebih keras untuk mengingat seluruh slide yang ada? Mengapa saya nonton kemarin? Selesai ujian hati tidak tenang karena penuh penyesalan. Hal itu terjadi sepanjang minggu UAS di bulan Desember 2011.

Begitu selesai minggu UAS, rasanya bahagia. PLONG!😀 Tapi liburan tidak kunjung datang. Saya tidak berlibur. Terjebak pekerjaan part-time yang saya tinggalkan selama 2 minggu karena deadline tugas dan minggu UAS. Setiap hari harus ke kantor mengerjakan pekerjaan yang saya telantarkan tersebut. Namun, setidaknya saya bisa nonton tanpa rasa bersalah lagi. Pulang kantor langsung ke bioskop dan menonton beberapa film terbaru😛 Bahkan saya sampai sempat ke sebuah mall 4x dalam 1 minggu. Rekor baru bagi saya😀

Bulan Januari 2012 pun tiba. Perasaan gelisah kembali datang mengingat nilai semester 1 2011/2012 akan diumumkan. Melihat usaha yang dikeluarkan ketika mengerjakan tugas dan ketika mengerjakan ujian rasanya nilai semester 1 akan super jelek. 2 hari yang lalu saya tidak berhenti membuka ol.akademik.itb.ac.id demi melihat nilai yang ada. Penasaran, deg-degan, gelisah, takut. Takut kalau ternyata kali ini IP saya di bawah 3.75. Saya mengejar target cumlaude dan syarat cumlaude magister itu 3.75. Mengingat IPK magister saya sewaktu semester 7 dan 8 S1 pas-pasan dengan syarat cumlaude itu, makanya saya sangat berharap IP saya semester 1 ini bisa mencapai setidaknya 3.75.

Ketika salah seorang teman saya nge-plurk bahwa sudah ada nilai yang keluar, saya langsung menuju tekape (baca: situs akademik) untuk mengecek nilai. Awalnya hanya ada 1 nilai yang keluar kemudian saya menggunakan kekuatan tombol F5 berkali-kali dan akhirnya nilai-nilai itupun bermunculan. Ketika nilai-nilai itu bermunculan, saya sempat terpana. Bengong menatap monitor mac kantor yang super besar. Tidak percaya dengan nilai yang ada di layar itu. Dan sepertinya saya tersenyum-senyum sendiri menatap nilai itu (untung di ruangan saya cuma ada 2 orang lain selain saya dan karena monitor itu super besar jadi muka saya terhalang monitor). Straight A untuk 5 mata kuliah. Nilai mata kuliah ke-6 belum ada. Melihat straight A itu saya super senang dan bahagia, rasanya ingin lompat-lompat. Takjub. Masih berpikir tidak mungkin mendapatkan nilai A untuk beberapa mata kuliah karena berkaca dari insiden-insiden yang terjadi selama perkuliahan. Tidak sabar melihat nilai mata kuliah ke-6 itu saya terus menggunakan kekuatan F5 sampai akhirnya saya melupakan situs itu sejenak dan melanjutkan pekerjaan saya di kantor. Setelah beberapa saat, saya kembali menekan F5 daaaaaaaaaaaannnn..nilai mata kuliah ke-6 itu MUNCUL!!!!

Menatap nilai mata kuliah ke-6 itu membuat hati saya tambah bahagia. Ya, monitor kembali menampakkan huruf “A” pada mata kuliah ke-6 itu. 4! 4! 4! 4 untuk semester ini!!!😀 Sungguh tidak menyangka bisa mendapat IP 4 di perkuliahan magister ini karena ketika melihat nilai mata kuliah S2 di semester 7 dan 8 saya menyadari betapa susahnya untuk mendapatkan nilai A. Terkadang saya sudah yakin bahwa akan mendapat A untuk mata kuliah tertentu namun hasilnya malah di bawah A dan ketika saya tidak yakin mendapat A malah mendapat A. Nilai di S2 menurut saya sulit diprediksi. Seumur-umur baru sekali saya mendapatkan IP 4 dan itu  pun pada semester 3 S1. Ini kali kedua saya mendapatkan IP 4 selama duduk di bangku kuliah. Senang rasanya😀 Sejak kuliah, saya menyadari bahwa IP saya di semester genap pasti lebih rendah dari IP di semester ganjil karena itu ketika memasuki semester genap saya selalu lebih cemas dan gelisah😦

Rasa senang itu masih bertahan sampai hari ini😀 Walaupun saya tahu kalau IP sesungguhnya tidak terlalu berpengaruh pada tingkat keahlian seseorang namun tetap saja ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri ketika melihat nilai yang diperoleh A semua😀 Bersyukur. Sungguh sangat bersyukur. Setiap kali ke gereja saya selalu memanjatkan doa mohon bantuan untuk mengerjakan seluruh tugas dan ujian serta menghilangkan sifat malas saya. Tuhan sungguh mendengar doa saya. Rasanya mustahil saya bisa mendapat nilai sebagus ini tanpa campur tangan Tuhan. 老师 saya pernah berkata “kalau kita mengimani sesuatu, pasti akan terjadi”. Saya tidak pernah mengimani akan memiliki IP 4 semester 1 ini dan saya tidak pernah berharap IP 4. Yang ada di pikiran saya selama ini adalah saya ingin IP saya minimal 3.75. Tak bosan-bosannya saya selalu berdoa hal yang sama setiap kali ke gereja dan inilah hasilnya. Sungguh di luar dugaan.

Setelah dipikir kembali, banyak keajaiban yang diberikan Tuhan selama semester 1 ini. Salah satunya adalah ketika melakukan seminar metodologi penelitian. Berhubung saya seminar paling terakhir di antara teman-teman fasttrack, saya sempat melihat seminar teman-teman saya dan juga peserta kuliah lainnya. Begitu melihat seminar teman-teman yang lain, saya jadi takut. Takut kalau ternyata saya diberikan pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Penguji seminar teman-teman saya semuanya tampak menyeramkan. Bertanya sampai ke level yang sangat menyudutkan bahkan ada yang bertanya hal-hal yang jauh di luar lingkup bahasan. Sehari sebelum saya seminar, saya sempat berdoa agar tidak mendapat penguji X yang menguji salah satu teman saya. Dari seluruh penguji, saya menganggap penguji X itu merupakan penguji yang paling menyeramkan. Tiba pada hari-H, saya berangkat dan sempat menyaksikan seminar 1 teman saya sebelum jadwal saya seminar. Berhubung topik kami serupa, saya memperhatikan pertanyaan yang diberikan penguji kepadanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan cukup membuat bingung dan terdiam. Saya pun gelisah mempersiapkan diri. Ketika tiba giliran saya, ternyata sesi tanya jawab berlangsung menyenangkan😀 Dosen penguji yang menyeramkan itupun sempat berkata “Secara keseluruhan saya mengerti kamu mengerjakan apa. Pembahasannya cukup jelas.” Kalimat seperti itu bisa dianggap pujian soalnya belum ada kalimat seperti itu yang terlontar selama seluruh seminar yang saya tonton. Dosen pengujinya yang satunya lagi juga berkata “presentasinya sudah cukup bagus”. Saya sempat bengong mendengar perkataan kedua dosen itu. Sungguh, saya tidak menyangka akan dipuji. Malah saya sudah membayangkan bernasib seperti teman saya yang seminar sebelum saya. Diberikan pertanyaan yang menyudutkan dan tidak bisa dijawab berhubung topiknya serupa. Tapi ternyata keadaannya berbeda 180 derajat. Keajaiban sungguh terjadi.

Hikmah yang saya dapatkan dari semester 1 ini ialah kalau sungguh-sungguh mengimani dan berusaha, Tuhan pasti akan membukakan jalan dan membantu kita mendapatkan yang diinginkan. Keajaiban itu sungguh ada dan dapat terjadi kapan saja tanpa kita duga. Namun, keberhasilan itu tidak boleh membuat kita menjadi sombong dan lupa diri. Harus selalu bersyukur. Ingat! Tanpa bantuan Tuhan, tidak mungkin kita bisa mendapatkan segala sesuatu yang kita miliki saat ini. Saya sadar saya sering tidak bersyukur dengan apa yang saya miliki dan apa yang saya peroleh. Semoga ke depannya saya ingat untuk selalu bersyukur apapun yang saya dapatkan baik buruk maupun baik😀

8 thoughts on “Hasil Semester 1 2011/2012

  1. bun2 says:

    berarti selama ini kalimat2 annoying berulang2 kaya: “kamu ga bikin tugas?” , “kamu ga belajar?” , itu udah betul ya? :-p semester depan dilanjutin aahh.. :-p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s