Pengampunan


2 minggu yang lalu saya mendengarkan homili pastor di gereja dengan tema “Pengampunan”. Menurut saya, tema ini cukup menarik. Mengapa? Karena saya pada dasarnya merupakan orang yang pendendam dan cukup sulit mengampuni (tapi ini hanya berlaku pada kasus kesalahan berat saja :D).

Pastor Andreas Dedi, OSC (kalau saya tidak salah mengingat namanya) mengatakan bahwa semakin kuat seseorang berusaha untuk melupakan kesalahan orang lain yang diperbuat kepada dirinya maka semakin sering kesalahan tersebut akan teringat. Memiliki keinginan untuk melupakan kesalahan orang lain dengan tujuan mengampuni bukanlah sebuah tindakan yang tepat. Kesalahan ada bukan untuk dilupakan. Sakit hati ada bukan untuk dilupakan. Jika kita selalu berusaha untuk melupakan kesalahan dan sakit hati tersebut maka kita akan semakin mengingat kesalahan dan sakit hati tersebut dan hal-hal itu akan semakin menyakiti diri kita sendiri.

Pengampunan merupakan kondisi dimana kita bisa memaafkan kesalahan yang diperbuat oleh orang lain. Pengampunan tidak hanya sekedar kata “Ya, saya memaafkan anda” tapi juga harus disertai dengan tindakan. Ketika kita tidak mengampuni kesalahan orang, kita tidak mau untuk memaafkan kesalahan orang lain maka sebenarnya bukan saja kita dengan tegas menyatakan bahwa dosa orang tersebut masih ada tetapi juga dosa orang tersebut menjadi beban di hati kita. Kita akan selalu mengingat kesalahan orang tersebut dan akan selalu merasa tersakiti dengan segala tindakan dan perkataan orang tersebut.

Jadi sebenarnya bagaimana langkah yang tepat untuk memberikan pengampunan atau dengan kata lain memaafkan orang lain? Menurut si pastor, kita harus berusaha untuk mengingat kejadian tidak mengenakkan tersebut. Kita harus berusaha mengingat “Bagaimana sih tepatnya kejadian yang membuat kita sakit hati tersebut?”. Tidak hanya sekedar mengingat tetapi juga berusaha untuk merasakannya. Merasakan bagaimana rasanya disakiti oleh kesalahan orang tersebut. Dengan mengingat dan merasakan sakit tersebut maka lama-kelamaan ketika kita mengingat kembali kesalahan orang tersebut, mengingat kembali sakit hati tersebut kita tidak akan merasakan sakitnya lagi. Kita akan bisa benar-benar memaafkan dan memberikan pengampunan untuk orang tersebut.

Menurut saya pribadi, hal tersebut cukup benar. Ketika seseorang membuat kesalahan pada saya atau saya merasa sakit hati akibat perbuatan seseorang maka saya sulit untuk memaafkan orang tersebut. Seringkali saya berusaha untuk melupakan hal-hal tersebut dengan maksud agar dapat memaafkan orang yang bersangkutan. Namun, hasilnya sama seperti yang dikatakan oleh pastor. Semakin saya berusaha melupakannya maka semakin saya mengingat kejadian tersebut dan pada akhirnya hanya merugikan diri saya sendiri karena saya menjadi kesal, emosi, marah, dan berbagai perasaan campur aduk lainnya. Lain halnya ketika saya tiba-tiba mengingat kejadian tersebut kemudian berusaha untuk mengingat detail kejadian itu, mencari tahu apa yang sebenarnya membuat saya kesal, apa yang sebenarnya membuat saya sakit hati, menelusurinya kembali dan mereka ulang kejadian tersebut. Ketika hal ini saya lakukan berulang kali (tanpa disengaja) maka lama-kelamaan ketika saya tiba-tiba teringat kembali dengan hal tersebut — well, it just like nothing was happened before. Kejadian tersebut, kesalahan tersebut tidak lagi membuat saya sakit hati, tidak lagi menimbulkan berbagai perasaan emosi, kesal, marah, dan perasaan lainnya. Yang ada hanya “yah, itu kejadian yang sudah berlalu dan tidak ada gunanya dipermasalahkan lagi”.

Tetapi menurut saya, hal tersebut juga bergantung pada tingkat kesalahan dan tingkat sakit hati yang dirasakan. Mungkin memang ada hal yang sampai detik ini pun tidak dapat dimaafkan dan akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan mungkin saja membutuhkan waktu seumur hidup untuk memaafkan. Tapi, saya sangat menyarankan untuk mencoba hal ini supaya teman-teman sekalian tidak dibebani lagi dengan rasa sakit hati, marah, kesal, dan perasaan lainnya karena kesalahan yang diperbuat orang lain terhadap teman-teman.

One thought on “Pengampunan

  1. krishna says:

    yg plg untung dengan kita mengampuni ya kita sendiri..
    soalnya kl dendam yg rugi kita… kita kesel2 gak bs tdr (misal :P).. smentara yg kita dendami, tidur nyenyak..
    hmm… imho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s