Sahabat itu barang langka


Semester ini saya hanya mengambil satu mata kuliah S1 yaitu TA2 (4 sks) dan 3 mata kuliah fasttrack SI (MRSI, SKSI, dan MSDM TI) dimana masing-masing mata kuliah tersebut bernilai 2 sks. Jadilah semester ini semester tersantai saya seumur-umur selama hidup di ITB. Hanya 10 sks. Awalnya kuliah dari senin-kamis. Namun, nego sana sini dan ada kuliah yang tidak digunakan jamnya akhirnya jadilah saya hanya kuliah 1 hari dalam seminggu yaitu hari Senin. Awalnya terasa cukup menyenangkan😀 Namun setelah dipikir-pikir gimana kalo UTS dan UAS? 3 UTS dan UAS dalam sehari😦 pastinya stress ><

Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya paparkan pada tulisan kali ini. Paragraf di atas hanya paragraf pembuka saja. Hohoho. Anggaplah sebagai appetizer menuju main course😉

Kali ini tema yang akan saya angkat adalah ‘SAHABAT’.

Mungkin setiap orang punya atau pernah punya sahabat (entah itu namanya teman dekat atau sebagainya).  Sahabat bisa dijadikan tempat curhat – tempat berbagi suka dan duka (uda berasa lirik lagu). Bagi beberapa orang, hidup terasa kurang lengkap kalau tidak menceritakan segala sesuatunya ke sahabat. Namun, sampai saat ini saya sendiri kurang bisa memahami apa arti sahabat. Sejak saya kecil, saya belum pernah merasakan memiliki sahabat. Saya memang memiliki beberapa orang teman yang cukup dekat semasa smp dan sma. Sering jalan bareng, ngobrol bareng, cerita-cerita bareng dan semuanya itu dilakukan di markas (baca: kamar tidur saya di Makassar)😛 Tapi tetap bagi saya itu belum bisa dikatakan sahabat.

Saya masih tidak memiliki keberanian untuk menceritakan apa yang saya rasakan dan apa yang saya pikirkan ke mereka. Saya tidak berani untuk menceritakan masalah yang sedang saya alami. Terkadang saya hanya berperan sebagai pendengar yang baik dengan sesekali memberikan masukan-masukan ke teman-teman saya tersebut. Saya sendiri sempat merasa aneh mengapa saya sulit untuk bisa benar-benar dekat dengan teman-teman yang ada di sekeliling saya. Cukup lama saya mempertanyakan hal tersebut. Namun, akhirnya saya mencapai satu kesimpulan. Rasa percaya. Rasa percaya itu yang sulit sekali saya tanamkan ke diri saya. Percaya pada orang lain. Saya sulit sekali percaya dengan orang lain. Tidak berani menceritakan apapun karena saya tidak percaya dengan mereka. Takut mereka akan menyebarkan apa yang saya ceritakan. Mungkin kejadian-kejadian di masa lalu saya yang menyebabkan rasa percaya ini sangat sulit untuk saya tanamkan.

Beranjak masuk ke SMA pun begitu. Hanya ada kelompok ‘ngumpul-ngumpul’. Ngobrol tentang novel, film, lagu, ataupun artis. Namun, sangat jarang menyentuh masalah pribadi. Kalau ada pembicaraan ke arah itu, biasanya saya berperan sebagai pendengar. Pendengar yang baik. Diam dan sesekali berkomentar. Begitu memasuki masa perkuliahan, saya pun ragu untuk bisa mendapatkan seseorang yang bisa saya sebut ‘sahabat’ dan itu memang benar. Sampai detik ini, saya belum bisa mengatakan “hey, saya punya seorang sahabat loh.”

Teman-teman di perkuliahan datang silih berganti. Terkadang di semester ini dekat dengan sekelompok teman dan terkadang di semester berikutnya dekat dengan kelompok teman yang lain. Orang seringkali berkata ini ke saya “Mit, kamu kok gampang deket dan bergaul dengan orang lain ya?Padahal terkadang baru kenal.” Dan biasanya pertanyaan seperti itu hanya saya jawab dengan senyum-senyum saja.

Saya tidak pernah merasa gampang dekat dengan orang lain. Malah saya sendiri merasa saya susah dekat dengan orang lain. Butuh usaha yang cukup besar untuk bisa ngobrol dengan orang yang tidak saya kenal dan biasanya saya malas untuk berusaha ngobrol😛 Kadang kala juga saya berusaha saja ngobrol dengan mereka walaupun ga kenal-kenal amat. Seperti kata orang yang penting PD ajah😀 Toh nantinya juga jadi terbiasa ngobrolnya.

Seringkali saya merasa iri melihat orang-orang yang punya ‘sahabat’ yang memang benar-benar sahabat. Ada di saat mereka sedih. Ada di saat mereka senang. Bisa dengan mudah dipercaya untuk menerima segala cerita suka dan duka. Kadang saya berpikir, kenapa saya tidak bisa seperti mereka. Punya sahabat. Satu orang pun cukup (ga minta banyak-banyak). Tapi kembali lagi saya berpikir. Mungkin memang lebih bagus sendiri. Toh jadinya ga merepotkan orang lain. Punya masalah jadinya ga perlu bikin pusing orang lain.

Sahabat — sepertinya itu akan menjadi satu barang langka yang tidak akan saya miliki. Well, saya sudah cukup puas dengan keadaan saat ini. Punya banyak teman walaupun tidak ada sahabat.

10 thoughts on “Sahabat itu barang langka

  1. flamea says:

    bakal terasa lebih lega kalo masalah di-“curhat”-in ke sahabat, dan sahabat juga ga musti orang lain, bisa juga anggota keluarga (tp buat gw sih orang lain :D)

  2. Apa cerita masalah pribadinya ke bot AI aja ya?! Kita bisa curhat, rahasia kita pun gak bakal tersebar…
    Siapa tau tuh AI malah mampu ngasih masukan n solusi yang mendewa, hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s