Pacaran: Hanya Status?


Belakangan ini sering memikirkan hal tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menonton film “He’s just not that into you” (kalau ga salah ingat judulnya😛 ). Di film itu diceritakan bagaimana kelakuan lelaki ketika memang benar-benar menyukai seorang wanita. Salah satu tokoh yang ada di dalam film tersebut dikisahkan telah hidup bersama dengan sang pacar (bisa dibilang seperti itu) selama kurang lebih 6-7 tahun. Awalnya si wanita tidak mempermasalahkan untuk menikah. Namun, lama-kelamaan melihat keadaan orang di sekitarnya dan melihat sang adik pun menikah ia jadi ikut mempermasalahkan status pernikahan. Tetapi seperti yang dapat ditebak dengan mudah, sang lelaki tidak ingin menikah. Ia takut jika menikah nantinya akan cerai.

Beberapa orang mengatakan:

Jika saling menyayangi apalah artinya pacaran. Toh itu hanya status semata

Di film tersebut, sang lelaki juga mengatakan hal yang sama kepada pasangannya bahwa dia mencintai pasangannya dan pasangannya mencintai dirinya. Apalagi yang kurang? Mengapa status pernikahan harus dipermasalahkan? Jika menikah dan suatu saat harus bercerai bukankah itu lebih menyakitkan?

Seorang teman juga berkata tidak perlu pernyataan tertulis bahwa kita menyayangi orang lain dengan menyandang status pacaran. Status pacaran hanya berdampak pada orang-orang di sekitar kita. Mereka terpuaskan rasa ingin tahunya, tidak akan lagi menggosip, dan yah mungkin dapat dikatakan dunia terasa lebih aman dan damai tanpa adanya gosip-gosip itu. Tapi apa manfaatnya bagi diri kita sendiri?

Mungkin bagi diri saya pribadi status pacaran itu memberikan semacam kurungan tak terlihat. Dengan adanya status itu, gerak menjadi terbatasi. Gerak terbatasi itu bukan hanya dari diri saya pribadi namun dari orang lain juga. Ketika ada yang mengajak pergi tidak akan lagi mau pergi berdua dengan alasan “nanti pacar kamu marah” dan berbagai alasan lainnya. Sering pula status pacaran itu menghilangkan keakraban antar teman. Mereka jadi sibuk dengan pacar masing-masing dan mulai jarang ngumpul-ngumpul dengan temannya.

Lelaki kadang kala egois. Egois di sini dalam hal ketika telah menemukan orang yang mereka sayang mereka ingin mengumumkannya ke semua orang “Dia punya gw loh! Jangan ada yang dekatin dia!” Sifat seperti itu terkadang lucu dan terlihat kekanak-kanakan seperti anak kecil yang punya mainan baru dan selalu dibawa kemana-mana. Memamerkan kepada orang lain.

Biasanya lelaki yang sibuk dengan urusan status-status ini. Di saat pasangannya atau sang wanita tidak menginginkan adanya status apapun mereka mulai meragukan perasaan sang wanita. Beranggapan sang wanita hanya bermain dengannya, tidak serius, dan berbagai alasan lainnya.

Seandainya saling mengetahui perasaan masing-masing cukup. Seandainya saling mengetahui bahwa “ya kamu sayang aku dan aku sayang kamu” itu cukup, maka tidak akan ada yang namanya pacaran apalagi menikah. Negara kita negara hukum. Di saat seseorang akan membentuk sebuah keluarga maka mau tidak mau harus mengalami prosesi yang namanya pernikahan. Dalam agama pun dikatakan seperti itu. Pernikahan merupakan sebuah hal yang wajib dilakukan jika ingin membangun sebuah keluarga.

Satu hal yang cukup menjadi dilema ketika seorang lelaki dan wanita dekat namun tidak perpacaran. Ketika ditanya ” Eh si A itu pacar kamu ya?” pasti itu menjadi pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab. Jika kita memilih menjawab tidak maka itu sebenarnya setengah berbohong dan kita tidak mengakui bahwa kita memang dekat dengan orang tersebut. Ketika memilih menjawab iya tentunya itu sudah pasti berbohong karena memang pada kenyataannya tidak ada yang namanya status pacaran.

Ketika sebuah status menjadi sesuatu hal yang ribet di dalam hidup kita, mengapa masih ada orang yang lebih memilih untuk tidak memiliki status? Hal itu masih menjadi pertanyaan besar yang menggema di dalam kepala saya. Mungkin – ini hanya opini saya saja – orang lebih memilih untuk tidak memiliki status agar tidak merasakan sakitnya ketika harus berpisah.

Saat tidak memiliki status memang kemungkinan untuk berpisah itu juga ada namun ntah bagaimana rasanya tidak sesakit dengan perpisahan ketika anda memiliki status. Kenapa? Karena ketika anda berstatus banyak yang tahu tentang hubungan anda. Ketika anda putus akan banyak pula orang yang bertanya alasannya atau sekedar memberi penghiburan. Semuanya itu membuat anda menjadi teringat kembali dengan perpisahan itu. Itu yang membuat sakitnya lebih dalam.

Saya sampai detik ini sama sekali tidak terpikir untuk menjalani kembali hubungan yang namanya pacaran. Tidak ingin punya status. Saya termasuk orang yang berpikir “Oke aku sayang kamu dan kamu sayang aku. That’s enough”

Tidak ingin pusing pusing dengan adanya status itu. Tidak ingin berada dalam kurungan itu.

Banyak juga orang yang memiliki status pacaran namun toh nyatanya tingkah lakunya tidak seperti orang pacaran. Malah hanya seperti teman biasa. Hal ini yang membuat saya kembali berpikir. Kenapa orang-orang ingin menyandang status pacaran? Apakah hanya ingin memberi pengumuman “Hey, dia milik gw loh” atau sekedar menghindari gosip yang aneh-aneh? Apakah mereka tidak takut dengan yang namanya perpisahan (lebih keren namanya putus sih😛 )

Kalau saya jujur takut dengan yang namanya putus, pisah, atau apapunlah itu. Makanya lebih memilih tidak ingin punya status apa-apa😀

Yah, dunia itu tidak hanya seluas daun kelor. Masih banyak hal yang tidak saya mengerti juga. Di saat harusnya bikin slide buat seminar malah nulis ginian😛

Kembali ke diri orang masing-masing untuk melihat apakah butuh status atau tidak😉

15 thoughts on “Pacaran: Hanya Status?

  1. hehe cie ikut nimbrung, kalo menurut gw cie, pacaran itu bisa jd sebuah komitmen.. dimana si co n si ce sama2 memegang janji utk slg mengenal bla bla shg smakin yakin utk lanjut ke jenjang yg lebih dalam.. istilahny mah ky pemanasan pernikahan.. pernikahan kan keterikatannya jauh lebih terikat drpd pacaran.. jd ya btuh2 ngga2 jg cie.. wkwk.. y klo uda slg prcy dan uda sm2 ga mungkin cari yg laen lagi (biarpun mw gmn jg kita gabisa mastiin pasangan kita bkal gmn), stidaknya kalo dia mau cari yg laen, ada event yg namanya putus, ga tiba2 menjauh, menghilang, dan tiba2 dia jalan sm org laen.. hehe.. gtu deh cie pendapat ane..

  2. “Apakah mereka tidak takut dengan yang namanya perpisahan” kayanya ga deh mit, perpisahan tu pasangannya menjalin hubungan itu sendiri.

    misal kamu sayang A, A sayang kamu, tanpa status, lalu tiba2 A sayang cewek lain B, dan B juga sayang dia, apa kamu ga sakit juga dengan ‘perpisahan’ itu (kan ga pernah berstatus pacaran) ? ga juga kan, hehe

    menurutku ber-status apa enggak itu si terserah, asal antara kedua belah pihak sepakat. jangan dijadikan masalah aja, hehe

  3. “Apakah mereka tidak takut dengan yang namanya perpisahan” kayanya ga deh mit, perpisahan tu kan salah satu kemungkinan yang bakal ada dari menjalin hubungan itu sendiri.

    misal kamu sayang A, A sayang kamu, tanpa status, lalu tiba2 A sayang cewek lain B, dan B juga sayang dia, apa kamu ga sakit juga dengan ‘perpisahan’ itu (kan ga pernah berstatus pacaran) ? ga juga kan, hehe

    menurutku ber-status apa enggak itu si terserah, asal antara kedua belah pihak sepakat. jangan dijadikan masalah aja, hehe

    • si omm saking semangatnya ngomentarin jadi repost gituh :))
      iya sih harusnya ga dijadikan masalah dan kesepakatan kedua belah pihak aja cuman orang-orang di sekitarnya suka mempermasalahkan kalo deket trus tanpa status..😐

  4. i-Me says:

    Inihh tentang yang namanya status memang semua pilihan sih, tapi gw ga mengerti juga dengan kenapa ada orang yang tidak ingin di publish, toh memang tidak ada salahnya jika harus di publish dengan demikian hubungan tersebut terasa aman bukannya.

    Tidak ada pikiran negatif sepeerti :

    “Kok dia ga mau publish hubungan sama gw yaa,, jangan dia malu atau dia punya orang lain sebenarnya atau dia jadian ama gw karena terpaksa aja… dll”

    hal tersebut tidak akan mengenakan bagi pasangannya, dan itulah resiko dari menjalin hubungan..

    menurut gw punya hubungan pun kita tetap dapat mendekati orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s