Terima kasih


“Dimana? Dimana aku?”

Suaraku bergema di tempat yang dingin dan sunyi ini. Aku memandang berkeliling. Langit begitu luas membentang. Hitam. Kelam. Tanpa bintang satu pun. Awan gelap menggantung di sudut langit dan perlahan bergerak menghampiriku.

“Tempat apa ini?” batinku bertanya-tanya.

Aku menelusuri jalan setapak di hadapanku. Aku berusaha keras mengingat bagaimana aku bisa sampai di sini. Namun, semakin keras aku mencoba mengingatnya, semakin sia-sia pula usahaku. Tak berapa lama kemudian aku tiba di sebuah kota. Dalam pikiranku, sebuah kota tentunya akan dipenuhi lampu dan hiruk pikuk warganya. Tetapi, kota di hadapanku ini jauh – amat sangat berbeda – dari apa yang kupikirkan.

Kota itu seperti kota mati. Bangunannya banyak yang telah hancur. Entah dimakan usia ataukah dimakan oleh sang cuaca. Sambil berjalan menyusuri, aku menatap ke kiri dan ke kanan. Berharap menemukan seseorang tempatku bertanya. Suasananya sangat sepi. Hanya bunyi desiran angin yang terdengar. Aku menengadah ke atas. Awan gelap itu lagi-lagi mengikuti langkahku. Sepertinya kemanapun ku pergi, awan gelap itu akan selalu mengikutiku.

Aku berusaha mengacuhkan suara yang dikeluarkan oleh sang awan gelap. Kupercepat langkahku. Tak sabar lagi ingin mencapai ujung kota ini. Lagi-lagi berharap menemukan setitik cahaya terang di ujung sana. Cepat. Cepat. Cepat. Aku pun mulai berlari. Lari, lari, dan lari.

Aneh, aku merasa familiar dengan suasana seperti ini. Tak ada rasa takut sedikitpun terbersit di hatiku. Aku menikmati – ya, menikmati suasana sepi ini. Apakah aku salah? Salah ketika aku senang dengan suasana sepi? Salah ketika aku lebih senang sendiri? Salah ketika aku sangat menikmati kesendirian ini?

Awan gelap kembali mengeluarkan suara bergemuruh. Mungkin ia marah kepadaku karena tidak mempedulikannya.

Tes..tes..tes..

Titik demi titik butir air hujan mulai turun membasahi badanku. Aku menengadah. Bertanya-tanya harus kemana. Tetesan itu turun makin lama makin cepat dan berubah menjadi hujan deras. Aku memejamkan mata. Mencoba menikmati tetesan air yang jatuh ke badanku. Aneh. Aku memang aneh. Dari dulu aku selalu dicap aneh dan aku tidak pernah berusaha mencari tahu mengapa mereka mencap diriku aneh.

“Hujannya berhenti? Aneh..”

Aku tak lagi merasakan tetesan air hujan membasahi tubuhku. Tapi aku tetap mendengar bunyi tetesannya. Perlahan-lahan kubuka mataku dan disanalah dia. Berdiri sambil memayungi tubuhku yang basah.

“Apa yang kau lakukan di sini? Ayo lekas pulang. Kau sangat basah. Ini, gunakan jaketku”, ucapnya sambil menyodorkan jaketnya yang berwarna abu-abu itu.

Aku masih menatapnya. Bingung.

“Siapa kau?”, tanyaku.

Sekarang dia yang menatapku dengan bingung. Dahinya mengernyit. Mungkin pikirnya aku sudah tidak waras lagi karena tidak mengenalinya.

“Rei, aku ini pacarmu.”, jawabnya.

Pacar? Sejak kapan aku punya pacar? Aku semakin bingung. Tunggu. Ini pasti ada yang salah. Seumur hidupku aku belum pernah pacaran dan sekarang tiba-tiba lelaki di hadapanku mengaku kalau dia pacarku?

“Siapa Rei? Aku sama sekali tidak mengenalmu. Jangan sembarangan mengatakan kalau kau pacarku.”, ujarku sinis.

Lelaki itu cukup kaget mendengar perkataanku. Ia menatap kedua mataku dalam-dalam seakan mencari celah kalau aku hanya becanda dan mempermainkan dirinya.

“Apa yang terjadi padamu? Kamu Rei, pacarku. Kita sudah berpacaran selama hampir tiga tahun. Kemaren kau menghilang begitu saja. Keluargamu dan aku sangat cemas. Aku mencarimu kemana-mana dan tidak juga menemukanmu. Sampai aku melihatmu tadi berdiri di bawah hujan deras. Ayo sekarang kita pulang.”, jelasnya sambil memegang tanganku.

Aku yang sudah tidak waras ataukah dia yang tidak waras? Pacaran selama hampir tiga tahun? Jelas-jelas aku baru masuk SMA. Mana mungkin aku pacaran sejak SMP? Kalau orangtuaku tahu, aku pasti sudah dihukum.

“Pacaran tiga tahun?Tunggu. Biar kuperjelas. Aku baru saja masuk SMA dan namaku..namaku..namaku…”

Kalimatku terputus. Aku berusaha sekuat tenaga mengingat namaku. Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengingat namaku siapa?Argh..Kepalaku sakit. Sakit. Perlahan pandanganku mengabur. Hitam. Kelam.

——————————————————————————-

“Kau baik-baik saja?”

Perlahan kubuka mata dan memandang sekelilingku. Bunga matahari. Tirai putih. Aroma roti panggang. Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Lelaki yang sama. Lelaki yang memayungiku.

Aku berusaha bangun dan ia membantuku duduk. Wajahnya tampak sangat khawatir.

“Ini minum dulu”, ujarnya sambil menyodorkanku segelas air putih. Aku meneguk isi gelas itu sampai habis. Rasanya sudah begitu lama aku tidak minum.

“Mau makan?” tanyanya.

“Ini dimana?” tanyaku.

“Rumah sakit. Kau baru saja berusaha mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tanganmu sendiri.”

Wajahnya penuh penyesalan ketika mengatakan hal tersebut.

Aku menatap pergelangan tanganku yang kini dibungkus perban. Aku masih tidak dapat mengingat mengapa aku melakukan hal tersebut.

“Kau siapa?” tanyaku lagi kepada lelaki itu.

“Aku teman sekelasmu. Aku yang menemukanmu pingsan bersimbah darah di kelas. Kupikir kau tidak akan selamat. Daritadi aku berusaha membangunkanmu. Kau juga sempat mengigau dan terus-menerus mengatakan ‘Hujan..Sepi..Hitam..'”, jelasnya.

Hujan?

Sepi?

Hitam?

Aku berusaha mengingat apa maksud kata-kata tersebut. Akhirnya kusadari kalau hujan yang kurasakan, awan gelap yang bergemuruh, dan kota mati hanyalah mimpi. Mungkin lelaki ini berusaha membawaku kembali ke dunia nyata. Mungkin kalau ia tidak datang memayungiku aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Aku menatap wajahnya.

“Maaf, sudah membuatmu cemas.” ujarku.

“Tidak apa-apa. Jangan mengulanginya lagi. Hidup masih panjang. Apapun masalah yang sedang kau hadapi, semuanya pasti akan ada jalan keluarnya. Aku memang tidak tahu penderitaanmu. Tapi bunuh diri bukan cara penyelesaian masalah. Ingatlah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi yang bisa ditanggung umat-Nya.”

Kurenungi perkataannya. Memang benar. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalahku. Aku selalu diejek di sekolah. Semua mengatakan kalau aku anak haram. Ibuku pergi meninggalkanku dan menikah dengan lelaki lain. Ayahku. Aku tidak tahu siapa ayahku. Aku tinggal dengan bibiku dan sayangnya bibiku amat sangat tidak menyukai diriku. Aku selalu dimarahi. Semua kesalahan yang terjadi akan dilimpahkan padaku.

Terkadang aku bertanya. Mengapa aku dilahirkan ke dunia ini jika tidak ada yang menginginkanku? Mengapa aku dilahirkan ke dunia ini jika aku hanya akan selalu menderita?

Tanpa kusadari air mataku mengalir. Lelaki itu tampak terkejut melihatku menangis tiba-tiba. Ia pun memelukku dan berkata,”Keluarkan saja. Keluarkan semuanya. Begitu semuanya telah kau keluarkan saatnya membuka lembaran baru. Lupakanlah kehidupanmu yang lama. Masa depanmu pasti akan membaik.”

Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih kepadanya.

————————————————————————————–

Bandung, 29 November 2010 10:57 p.m.

Tulisan di kala seharusnya mengerjakan TA.

2 thoughts on “Terima kasih

  1. miko says:

    mitaaaaa…. jadi rindu ma kau n novel2 mu…^^… jd terinspirasi k jg ma blog2 mu , terasa kek kita nda hanya sendiri yg rasa seperti itu…thank u mita..

    • kyaaaaa..mikoooooooo :3 rindu juga sama kauuuu..lama nda ketemuuu..
      sudah lama ma nda nulis-nulis cerita lagi😦 nda sempat..nanti deh sa tulis-tulis lagi..hehehe..makasih mikoo..sering-sering mampir ke sini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s