New Place, New Journey

Two years ago, I visited this Special Administrative Region for a competition and vacation. Could you guess what my first impression two years ago was? I definitely do not like it. Over populated. Too crowded. Rude people (compare to Taipei). Super-hot (it was summer at that time). I like Taiwan Taipei better than this country. I still remember when I got this question: If you get a job here, would you take it? Of course I said no confidently. There was no way I am going to look for a job in HK.

But, now, I moved to this over populated – too crowded country. It still quite unbelievable for me when I made this decision. Being a peaceful-quiet environment lover, I need an extra effort to survive. So, why did I decide to stay here? Opportunity. Maybe I could grow further, learn much more, and finally have a clear idea for what I want to do in the future.

I feel stuck in Taipei. I still love its ambiance, the lovely MRT and other public transportation, and of course the super convenient 7-11 and Family Mart. But, in terms of work, I got bored. I definitely could do better if only I could speak Chinese fluently. Well, that is also one of my problems. I lived four years in Taiwan yet there is no significant improvement to my Chinese language ability. I fully understand that Chinese is one of the important languages in the world. Surprisingly, after I learned it intensively for 3 months, I do not fond of it. I cannot force myself to keep learning.

Continue reading

[Japan Trip] Day 13: Osaka Museum of Housing & Living, Cruise Ship Santa Maria, Osaka Aquarium (Kaiyukan), Tempozan Ferris Wheel, & Dotonbori

Sebelumnya: [Day 12] Kofukuji, Todaiji, & Kasuga-taisha

IMG_2433.JPG

Tak dirasa sekarang sudah hari terakhir dari perjalanan 2 minggu ke Jepang :( Karena hari ini hari terakhir, maka jadwalnya pun dibuat lebih santai. Oh iya, khusus untuk hari ini saya membeli 1-Day Osaka Amazing Pass seharga ¥2300. Harga 2-Day Pass (¥3000) tentunya lebih menguntungkan daripada 1-Day Pass. Tapi, karena jadwal saya hanya memungkinkan untuk 1 hari, akhirnya saya membeli yang 1-Day Pass saja.

Pagi-pagi sekitar jam 10.30 saya sudah tiba di Osaka Museum of Housing and Living. Museumnya terletak di dekat stasiun Tenjinbashisuji Rokuchome exit 3, tepatnya di Housing Information Center Building 8F. Harga tiket masuk ke museum ini ¥600 tapi karena saya menggunakan 1-Day Pass, jadinya gratis. Di dalam museum juga terdapat layanan penyewaan kimono. Dengan membayar ¥300, pengunjung bisa menggunakan kimono di dalam museum selama 30 menit. Kalau ingin mencoba kimono di museum ini, sebaiknya datang lebih cepat karena ketika saya tiba di sana, antreannya sudah panjang. Saya mendapatkan jadwal sewa kimono di jam 12.00 dan nomor urutan bagian terakhir sehingga saya mendapatkan kimono sisa yang tidak dipilih oleh orang-orang sebelum saya. Akhirnya kimono yang saya gunakan super kebesaran.

Continue reading

[Japan Trip] Day 12: Kofukuji, Todaiji, & Kasuga-taisha

Sebelumnya: [Day 11] Universal Studio Japan

Kofukuji

Tujuan hari ini mengunjungi kota dengan banyak rusa, Nara😀 Dari Osaka ke Nara menghabiskan waktu kira-kira hampir satu jam dengan menggunakan kereta biasa. Begitu sampai di Nara, saya langsung menuju Kofukuji. Di sepanjang jalan menuju Kofukuji, saya bertemu dengan banyak rusa dan juga penjual senbei untuk rusa. Banyak turis yang sedang memberi makan rusa-rusa tersebut. Tapi, karena itu rusa liar, begitu diberi makan, rusanya akan terus-terusan mengikuti si pemberi makan. Bahkan kadang-kadang ada rusa yang menggigit baju karena tidak puas dengan makanan yang diberikan.

Di Kofukuji, ada dua tempat yang bisa dikunjungi: National Treasure Museum (¥600) dan Eastern Golden Hall (¥300). Saya membeli tiket gabungan seharga ¥800. National Treasure Museum memperlihatkan banyak koleksi seni yang berkaitan dengan Buddha. Ketika akan masuk ke museum, petugasnya mengingatkan tidak boleh mengambil foto di dalam museum, makan, minum, dan berisik.



Todaiji

IMG_2126IMG_2141IMG_2146IMG_2160IMG_2204

Dari Kofukuji, saya melanjutkan perjalanan ke Todaiji. Oh iya, mengunjungi Nara berarti banyak berjalan kaki dan jalannya sebagian besar menanjak. Jadi, kalau mau ke Nara, jangan lupa menggunakan sepatu yang nyaman untuk dipakai berjalan jauh.

Continue reading

Covenant

I heard this poem during homily in St. John Bosco Parish Church last two weeks. I really like it so I decided to share it here. This poem is written by Sr. Margaret Halaska:

The Father knocks on my door, seeking a home for his Son.

“Rent is cheap,” I say.
“I don’t want to rent, I want to buy,” says God.

“I’m not sure I want to sell, but please come in to look around.“
“I think I will,” says God.

“I might let you have a room or two,” I say.
“I like it,” says God. “I’ll take the two rooms. You might decide to give me more some day. I can wait,” says God.

“I’d like to give you more, but it a bit difficult. I need some space for me,” I say.
“I know,” says God, “but I’ll wait; I like what I see.”

Continue reading

[Japan Trip] Day 11: Universal Studio Japan

Sebelumnya: [Day 10] Himeji Castle, Kokoen Garden, & Mount Shosha

Yuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu~

Hari ini khusus didedikasikan untuk Universal Studio Japan (USJ) yang terletak di Osaka. Tidak seperti di Disneyland dan Disneysea, kali ini bukan saya yang membeli tiket masuknya. Website USJ versi English tidak menyediakan tempat untuk membeli tiket online. Jadi, saya mencari travel agent di Indonesia yang menjual tiket USJ dan akhirnya salah satu kakak saya yang membeli tiketnya di Jalan Tour. Harganya sih tidak beda jauh dengan versi Jepangnya (yah tergantung kurs) tapi yang berbeda adalah gambar tiketnya. Tiket USJ saya bergambar tokoh-tokoh dari Universal Wonderland sedangkan kalau membeli tiket langsung di USJ akan mendapatkan tiket bergambar Harry Potter😦

Kelebihan membeli tiket duluan adalah menghemat waktu mengantre. Saya sampai di USJ kira-kira pukul 08.30 dan antriannya sudah super panjang. Posisi pertama saya mengantre bahkan di samping loket membeli tiket. Saya mengantre kira-kira hampir satu jam dan begitu pintu dibuka, pengunjung yang sudah melewati bagian cek tiket langsung berlarian ke arah Wizarding World of Harry Potter (WWOHP). WWOHP memang menjadi tujuan utama sebagian besar pengunjung USJ. Kalau jumlah orang di dalam WWOHP sudah cukup banyak, petugas akan melarang masuk dan kita harus mengambil timed-ticket untuk masuk.

Wizarding World of Harry Potter (WWOHP)

Karena dari awal tujuan utama saya ke USJ adalah mengunjungi WWOHP ini, saya memberitahu kakak saya untuk siap-siap lari begitu sudah lewat pemeriksaan tiket😛 Dan akhirnya kami beneran lari-lari ke tempat WWOHP. Untungnya masih sempat masuk ke dalam dan saya melihat beberapa petugas sudah mulai menghitung jumlah orang yang masuk ke dalam.

Continue reading

[Japan Trip] Day 10: Himeji Castle, Kokoen Garden, & Mount Shosha

Sebelumnya: [Day 9] Osaka Castle & Shinsekai

Perjalanan hari ini diawali dengan mengunjungi Himeji Castle. Himeji Castle termasuk sebagai national treasure dan world heritage site. Kastilnya sendiri masih asli alias belum pernah dihancurkan. Saya bepergian dari Osaka ke Himeji menggunakan Shinkansen karena belum pernah merasakan naik Shinkansen😛 Harga tiket Shinkansen non-reserved dari Shin-Osaka ke Himeji itu sebesar ¥3460.

Sesampainya di Himeji Station, saya masih perlu berjalan kaki sekitar 20-25 menit untuk sampai ke Himeji Castle. Masuk ke dalam kastil tentu saja tidak gratis. Tersedia dua macam tiket: ¥1000 untuk kastil saja dan ¥1040 untuk masuk ke kastil dan Kokoen Garden yang terletak di dekat kastilnya.

Ketika saya datang, Himeji Castle super ramai. Kebanyakan pengunjungnya malah orang Jepang. Wajar saja soalnya kastil ini baru dibuka kembali untuk publik sejak Maret 2015. Sebelumnya, kastil ini ditutup karena mengalami renovasi selama beberapa tahun.

Interior Himeji Castle benar-benar sangat menggambarkan kastil-kastil jaman dulu. Sebelum masuk ke dalam Himeji Castle, ada baiknya menyiapkan diri karena tidak ada eskalator atau lift. Begitu melewati gerbang utama kastil, pengunjung bisa mengunjungi setiap lantai yang ada di dalam kastil dengan cara menaiki tangga yang tersedia. Tangganya sempit dan harus ekstra hati-hati apalagi kalau menggunakan kaus kaki karena licin. Semakin ke atas, tangganya semakin sempit dan curam. Isi di dalam kastilnya hanya ada beberapa keterangan mengenai desain arsitektural kastil (jangan mengharapkan banyak pajangan seperti di Osaka Castle karena Osaka Castle memang lebih ke arah museum). Di lantai paling atas terdapat kuil kecil dan kebanyakan orang Jepang yang berkunjung ke sini akan menyempatkan diri untuk berdoa di depan kuil kecil ini.

Continue reading

[Japan Trip] Day 9: Osaka Castle & Shinsekai

Sebelumnya: [Day 8] Arashiyama Bamboo Grove, Kinkaku-ji, IPPUDO, Kiyomizudera, & Gion

Perjalanan hari ini dimulai dengan naik kereta biasa menuju Osaka. Untungnya hanya perlu satu kali mengganti kereta dan di stasiun tersedia lift sehingga tidak perlu bersusah payah mengangkat koper. Tapi, perjalanan dari stasiun ke apartemen Osaka ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Jalannya tidak terlalu jauh sebenarnya, hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit, tapi masalahnya karena membawa koper jadi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai apartemen menjadi dua kali lipat.

Apartemen Osaka bernuansa modern. Ketika saya sampai di sana, ternyata belum waktunya untuk check-in dan apartemennya belum dibersihkan sama sekali jadi tampak seperti kapal pecah. Saya sempat bertemu dengan pengurus apartemennya dan untungnya saya diperbolehkan untuk menaruh koper dan membawa portable wi-fi keluar. Begitu selesai meletakkan koper, saya langsung menuju Osaka Castle.

Sebelum gerbang besar Osaka Castle terdapat penjual takoyaki yang letaknya agak terpencil. Saya pun mencoba takoyaki di sana. Well, rasanya lumayanlah. Tapi, kalau dibandingkan dengan takoyaki pinggir jalan yang ada di Taipei, takoyaki di sana jauh lebih enak😛

Osaka Castle buka dari pukul  09.00 sampai 17.00 dan pengunjung wajib membeli tiket masuk seharga ¥600. Bagi pecinta sejarah, Osaka Castle wajib dikunjungi karena isinya barang-barang bersejarah seperti buku, pedang, baju samurai, helmet, simbol tiap klan, dan sebagainya. Osaka Castle sendiri sudah tidak asli karena sudah melalui proses renovasi besar-besaran dan hanya tampak luarnya yang dipertahankan. Bagian dalamnya sendiri sudah bergaya modern (bahkan ada lift) dan dijadikan museum.

Continue reading